<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8194169263164832698</id><updated>2011-09-02T04:40:38.799-07:00</updated><category term='Catatan Maud Khan'/><category term='Pemenang Nobel Sastra'/><category term='Cerpen Maud Khan'/><category term='Sajak Maud Khan'/><category term='Artikel Maud Khan'/><category term='Cerpen Mereka'/><category term='Senyum itu Sehat'/><title type='text'>92 Maud Khan</title><subtitle type='html'>Perjalanan Seseorang Yang Mencari Cinta &amp;amp; Tuhannya</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://www.92maud.co.cc/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>92maud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15771142033201981403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SjycJmK2AII/AAAAAAAAAAg/FJCJ9UI4WxM/S220/Maud+Khan.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>45</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8194169263164832698.post-8262806532055991062</id><published>2010-10-30T12:16:00.000-07:00</published><updated>2010-10-30T12:24:06.633-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan Maud Khan'/><title type='text'>Beberapa Jam Setelah Pesan yang Panjang itu</title><content type='html'>Pesanmu panjang bahkan terlalu panjang, datang tiba-tiba. Bukan karena isi, maksud atau siapa yang mengirim. Tapi aku menjadi heran, karena baru pertama aku menerima "sms" sepanjang itu. Telepon genggamku terseok-seok karena huruf-huruf kecil itu tak pernah habis. Kubaca sekali, dua kali, tiga kali, berkali-kali sehingga dapat mafhum kata demi kata. Atau sekedar meyakinkan bahwa "sms" itu tak salah orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya ingin aku membalas pesan panjangmu dengan beberapa kata saja, tak perlu berbelit. Cukup menekan beberapa huruf, selesai. Kupikir ini sepele. Tak perlu memeras otak apalagi menyita waktu berhargaku yang akhir-akhir ini sudah terbuang percuma. Tapi rupanya aku tertarik. Aku mulai sedikit memikirkan... "apa yang harus kutulis?" &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak suka menulis terlalu banyak. Bahkan buat mengisi blog atau kolom catatan saja aku tak pernah sempat. Tapi beberapa orang bisa melalui ini. Mereka terbiasa menulis dan membiarkannya tergeletak diatas meja atau bahkan dibuang begitu saja tanpa berharap akan sesuatu yang lebih "menghasilkan". Aku menyukai cara berpikirmu, simpel, cerdas tapi tidak&lt;i&gt; serawut&lt;/i&gt;. Setidaknya menurutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur, aku tidak pernah ingin terlibat dengan apapun, siapapun. Pertemuan dengan dia dan kau adalah sebuah kebetulan dan sebenar-benarnya kebetulan. Aku tak pernah tau sejauh mana aku mengenal kalian. Aku hanya bisa bersyukur bisa terlanjur berkumpul pada lingkaran kekonyolan kecil ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun lalu,&amp;nbsp; di ibu kota. Saat semua mata tertuju pada kalian, di ruangan itu, hening. Setelah beberapa bait sajak terseret dan beberapa lagi hilang. Aku ingin katakan bahwa "kalian adalah pasangan duel yang serasi". &lt;br /&gt;Sejak itulah aku mulai dekat dengan dia. Ada beberapa cerita kecil, kisah kecil dan beberapa lelucon kecil yang menghinggapi kami. Termasuk pada beberapa bait yang hilang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi dia, si Broer itu... Ya, si Broer. Penyair kondang itu, yang terkenal angkuh di panggung dengan puisi-puisi cemerlangnya bahkan tak bisa jujur dengan dirinya sendiri. Ia juga suka membual sepertiku meski tak separah aku. Bisa kau bayangkan bagaimana jika aku dan dia berkumpul. Bahkan bebatuan di sekitar kami pun bisa beterbangan mendengar derai tawa yang tak kunjung hilang itu. Jika ada orang asing, kami akan disangka gila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesekali aku memancing dan mengarahkan pembicaraan pada hal-hal berbau romantis. Tapi bukan karena dia tidak romantis, justru karena romantis, dia semakin menggila, kata-katanya membakar langit, beberapa bagian lagi ia hilangkan. Pernah kupaksakan untuk membongkar isi kepalanya, tapi kosong, sepertinya sudah ia simpan pada bagian lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau tahu, Jika sebentar lagi dia akan "menyusulmu" dan "mendahuluiku". Dan tahukah kau? Dari siapa aku mendengar kabar itu? Bahkan si Broer pun tak pernah bersedia membuka mulutnya atau mengetik beberapa pesan pendek untuk mengabari aku. Hanya ada kawan yang kebetulan berkawan dengan temannya sudi memberitahuku akan perihal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, hanya karena sekelumit cerita itu kau mengirimiku pesan begitu panjang??? Atau ada beberapa orang lagi yang menjadi sasaran pesan panjangmu seperti "Vivi" atau yang lain atau bahkan si Broer juga?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm... sepertinya aku mulai lelah. Buat apa kuteruskan. Sedang si Broer sudah menutup cerita setelah menemukan Utari-nya. Begitu pula kau yang lebih dulu menemukan tokoh Broer idamanmu. Sedang aku, hanya figuran yang berputar-putar, tenggelam dalam elegi hidupku sendiri. Dan sekali lagi menjadi korban SMS panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga cerita ini masih menemukan sekuel-nya..... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, Okt 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8194169263164832698-8262806532055991062?l=www.92maud.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.92maud.co.cc/feeds/8262806532055991062/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2010/10/beberapa-jam-setelah-pesan-yang-panjang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/8262806532055991062'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/8262806532055991062'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2010/10/beberapa-jam-setelah-pesan-yang-panjang.html' title='Beberapa Jam Setelah Pesan yang Panjang itu'/><author><name>92maud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15771142033201981403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SjycJmK2AII/AAAAAAAAAAg/FJCJ9UI4WxM/S220/Maud+Khan.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8194169263164832698.post-4444915536072083212</id><published>2010-09-06T03:32:00.001-07:00</published><updated>2010-09-06T03:34:11.564-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan Maud Khan'/><title type='text'>Problem is No Problems</title><content type='html'>Saya yakin jika Tuhan memberikan banyak ujian kepada saya semata-mata hanya untuk mempersiapkan saya pada sesuatu yang besar. Bagi kebanyakan orang, gagal itu perihal “sah sah saja”. Tapi saya tidak yakin seseorang akan berkata demikian kala menemukan kegagalan yang terjadi secara berulang-ulang. Hal semacam itu tentu akan menimbulkan penafsiran yang menurut saya aneh, semacam vonis lalai, karma, caranya &lt;i&gt;nggak bener&lt;/i&gt;, kurang ikhlas, kurang ikhtiar, kurang doa dan sejenisnya. Lalu bisakah saya minta saran mereka dengan sebijak-bijaknya? Ah… &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat saya, semakin besar kadar ujian seorang hamba, maka semakin besar pula tingkat kebijaksanaan yang diperoleh. Dan tak bisa dipungkiri kebijaksanaan itu nanti yang akan membawa kita pada kesempurnaan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedih, memang… ketika saya melihat beberapa kawan terlilit masalah yang tentunya tidak bisa saya anggap sepele. Tapi tentu akan lebih sedih lagi jika saya masih mendengar komentar seperti “dia sendiri yang salah” atau “dia sekarang begitu, soalnya dulu begini.”&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt; STOP!!!!&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; kalian yang berkata demikian adalah kalian yang belum mengerti hidup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bukan tidak menghargai keberhasilan, atau perkataan orang-orang yang berhasil. Tapi cobalah melihat dari sisi yang berbeda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya seringkali minta pendapat, minta nasehat dari beberapa orang di sekitar saya. Karena seringkali ketika kita terjebak pada suatu masalah, kadang kita susah mengenali diri dan keadaan kita. Tapi sungguh tipis beda antara memecahkan masalah dengan mengungkit masalah. Padahal, mengungkit masalah hanya akan berujung beban. Toh tanpa diungkit, kita sebenarnya bisa tahu dimana letak koreksi kesalahan kita. So, memberi motivasi atau solusi adalah hal terpenting. Hanya saja ke’aku’an itu yang perlu dikesampingkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ada satu masalah lagi, kebanyakan mereka yang memberi nasehat tidak mau menyingkirkan sedikitpun keakuan mereka alias lebih memaksakan apa yang mereka pikir sebagai hal cerdas dan lebih cermat. Mereka lebih berusaha menghilangkan keakuan orang lain tanpa berpikir untuk mengambil sesuatu yang lebih, yakni simpati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, saya hanya bisa katakan kepada diri saya dan kawan-kawan. Bahwa kita sebenarnya telah dipersiapkan. Dipersiapkan untuk menjadi lebih baik, lebih kuat, lebih bijak dan lebih sempurna. Asah terus masalahmu, cari masalahmu, nikmati! Sampai kau benar-benar bijak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahad, 5 September 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23.53 WIB&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8194169263164832698-4444915536072083212?l=www.92maud.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.92maud.co.cc/feeds/4444915536072083212/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2010/09/problem-is-no-problems.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/4444915536072083212'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/4444915536072083212'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2010/09/problem-is-no-problems.html' title='Problem is No Problems'/><author><name>92maud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15771142033201981403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SjycJmK2AII/AAAAAAAAAAg/FJCJ9UI4WxM/S220/Maud+Khan.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8194169263164832698.post-6532313908944418350</id><published>2010-09-06T03:27:00.000-07:00</published><updated>2010-09-06T03:37:44.131-07:00</updated><title type='text'>Regulasi Memasuki Blog ini</title><content type='html'>&lt;ol start="1" style="margin-top: 0cm;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Blog      ini adalah Blog pribadi, yang lebih mengacu pada pengalaman dari      keseharian kehidupan saya. Tidak ada orientasi bisnis, politik, SARA atau      afiliasi tertentu.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Blog      ini adalah murni hasil usaha tangan saya (meski domainnya numpang) bukan      hasil beli, pinjem atau bahkan &lt;i&gt;nyolong&lt;/i&gt;.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Seluruh      tulisan dalam Blog ini yang meliputi catatan, tutorial, sajak, cerpen      maupun artikel adalah murni tulisan saya, bukan membajak, atau &lt;i&gt;njiplak&lt;/i&gt;. (kecuali beberapa tulisan      pada category &lt;b&gt;&lt;a href="http://www.92maud.co.cc/search/label/Cerpen%20Mereka"&gt;Cerpen Mereka&lt;/a&gt;, &lt;/b&gt;itu      saja)&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Seluruh      tulisan dalam Blog ini masih pada batasan yang bisa saya      pertanggungjawabkan&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Dikarenakan&amp;nbsp; lalu lintas dunia maya yang tak pernah      ada habisnya dan tak kenal waktu, saya mengijinkan siapapun yang mampir di      Blog ini untuk me-repost, mengambil atau menyebarkan sampah-sampah ini      selama masih mencantumkan nama &lt;i&gt;author&lt;/i&gt;nya,      dan akan lebih bagus lagi jika disertakan &lt;i&gt;link&lt;/i&gt; ke blog ini.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Silahkan      dikritik jika perlu dikritik, karena memang banyak kekurangan disana-sini      (maklum, mungkin saya satu dari beberapa blogger miskin yang bergantung      pada komputer hasil pinjaman dan mempostingnya dari warnet-warnet di      pinggiran jalan)&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Salam Hangat &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;b&gt; Mahfud&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8194169263164832698-6532313908944418350?l=www.92maud.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.92maud.co.cc/feeds/6532313908944418350/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2010/09/regulasi-memasuki-blog-ini.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/6532313908944418350'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/6532313908944418350'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2010/09/regulasi-memasuki-blog-ini.html' title='Regulasi Memasuki Blog ini'/><author><name>92maud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15771142033201981403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SjycJmK2AII/AAAAAAAAAAg/FJCJ9UI4WxM/S220/Maud+Khan.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8194169263164832698.post-7052487200958109419</id><published>2010-08-31T16:10:00.000-07:00</published><updated>2010-08-31T16:16:13.441-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan Maud Khan'/><title type='text'>Tragis (Sebuah Cerita Baru)</title><content type='html'>Nasibmu, Nak! kau beruntung mendapatkan perhatian lebih dari Tuhanmu. Ya. Sebab Dia tahu betapa besar cita-cita yang ingin kau capai. Aku iri, ingin jadi dirimu, hanya saja rasanya aku masih belum mampu. Dan tentu tidak semua orang bisa melalui apa yang sudah kau pijak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi apa tanggapanmu? “persetan dengan ocehanmu! siapa yang peduli dengan &lt;i&gt;mau&lt;/i&gt; Tuhan? Sedang mereka lebih menganggap aku sebagai orang yang gagal. Sebagai ‘percontohan’ yang tak perlu dibayar bahkan dengan ucapan terimakasih sekalipun.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah kau yang kukenal. Walau begitu di satu sisi, kau lebih suka menganggap semuanya sebagai ‘pelajaran’. Kau masih dalam kesadaran, dimana manusia hanya objek yang jauh dari kesempurnaan. Kau juga tahu bahwa Tuhan memang begitu sayang. Kau tersenyum. Senyum kecut semacam sindiran buat dirimu sendiri, “sempurna” katamu, “sempurna!!!” &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu kau bilang mentalmu sudah menjadi baja, bicaramu dewasa, asam garam sudah banyak kau makan. Saat kutanyakan perihal kegundahan itu, kau acapkali bertutur bahwa kau selalu pernah mengalami hal yang lebih buruk daripada ‘ini atau itu’. Aku percaya saja. Siapa yang tak percaya? jatuh tertimpa tangga sudah menjadi langgananmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tragis…” Baru kali ini kudengar kau berkata demikian. Aku bertanya-tanya dimana mental bajamu? Tapi kau malah tersenyum. “Ini bukan perkara mental baja, percikan semangat, atau keputusasaan” katamu. Tapi sekali lagi kau bilang “tragis”. Aku diam saja. Dan saat itulah kau mulai bercerita. Sebuah cerita terbaru. Aku mendengarkan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; ***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Siapa yang tak tak ingin menjadi lebih baik? aku begitu menyukai hidupku dengan semua titik yang kulakoni. Betapa besarnya rencanaku, meski aku tak pernah tau betapa besar rencana Tuhan buatku.&lt;br /&gt;Tiap malam aku selalu menanti kehadiran-Nya. Kupandangi langit, kupejamkan mata untuk merasakan kehadiran-Nya. Entahlah, aku tak bisa menghitung jam-jam, hari-hari, bahkan bulan-bulan yang kuhabiskan buat memecahkannya.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dan di malam yang kunanti-nantikan itu, barulah aku tahu dan menemukan-Nya. Aku senang, tak pernah segirang itu. Sekarang aku sudah tidak bersedih lagi. Aku sudah tidak peduli lagi dengan rancangan, jadwal, target, pencapaian…… seperti yang selama ini kutenteng kesana kemari. Aku sudah lelah dengan itu. Biarlah semua berlalu bersama mereka yang mengharapkannya. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Aku tak peduli lagi. Aku hanya ingin berjalan di tempat yang tepat. Aku sudah menepatinya, dan akan menepatinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; ***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Aku tak mengerti apa yang kau katakan sebagai tragis itu. Kau aneh. Lalu dengan suara lirih, tapi pasti, kau coba jawab pertanyaan yang masih bersarang di otakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku gagal lagi” katamu, “Aku kembali gagal. Aku gagal saat aku sudah rencanakan semuanya, aku gagal setelah melangkah begitu jauh meninggalkan yang kupunya, melewati jalan terjal berliku-berduri, hutan belantara, gunung-gunung, bukit-bukit. Tapi aku tak bisa melewati seutas benang. Seutas benang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seutas benang? tanyaku “Ya, seutas benang” ceritamu, “seutas benang, yang pemotongnya tak kutemukan sepanjang perjalanan. Entahlah! Apa nanti kata mereka, kata bapak-bapak itu, bocah-bocah disana. Apalah peduliku?” kau tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmmmmm…. Tragis, memang tragis. Kau terlanjur berjalan kemana-mana, mengembalikan rasa optimis dan selera hidupmu, membangun kepercayaan diri, buatmu dan teman-temanmu. Kau terlanjur melakukan semuanya, mengabarkan seluruhnya, tanpa menghasilkan apa-apa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa hubungannya dengan cerita tentang ‘Tuhanmu’ itu??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak ada!!! Hehehehhe”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudahlah! aku tahu kau juga tak suka membicarakannya. Aku juga tak akan menanyakan perihal ini lagi. Lupakan!  Tak usah dibahas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jalan raya, 31 Agustus 2010  &lt;br /&gt;(sambil tersenyum2 paksa, tapi tidak gila)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8194169263164832698-7052487200958109419?l=www.92maud.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.92maud.co.cc/feeds/7052487200958109419/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2010/08/tragis-sebuah-cerita-baru.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/7052487200958109419'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/7052487200958109419'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2010/08/tragis-sebuah-cerita-baru.html' title='Tragis (Sebuah Cerita Baru)'/><author><name>92maud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15771142033201981403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SjycJmK2AII/AAAAAAAAAAg/FJCJ9UI4WxM/S220/Maud+Khan.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8194169263164832698.post-6563954277735765044</id><published>2010-07-23T16:03:00.000-07:00</published><updated>2010-09-06T03:30:54.811-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan Maud Khan'/><title type='text'>Haruskah Kita Bertanggungjawab?</title><content type='html'>Anda mungkin tidak akan berani bertanggungjawab atas apa yang terjadi di sekitar anda. meskipun anda melihat, atau bahkan terlibat di dalamnya.&lt;br /&gt;Di tempat kerja anda, saya tahu betul jika anda capek. Belum sempat anda memejamkan mata sekedar untuk istirahat, tiba2 salah seorang karyawan membangunkan anda lantaran koneksi di server putus. Dan anda akan disibukkan dengan pekerjaan mengecek jaringan kesana kemari, menelpon nomor-nomor tak penting, dan yang lebih parah istirahat anda bisa tertunda hingga beberapa jam.&lt;br /&gt;Jika listrik padam, maka anda adalah orang yang pertama kali harus bangun. Jika PDAM mampet, anda pula yang harus menyelesaikan. Jika ada beberapa komputer rusak, kotor, atau perlu reparasi/pembersihan, maka anda adalah orang yang tepat untuk memenuhi pekerjaan tersebut.&lt;br /&gt;Bagi anda, mungkin pekerjaan-pekerjaan itu istimewa, jika kepala anda pusing, punggung anda serasa mau putus, maka anda akan menghiburnya dengan perkataan "Ah, betapa banyak pekerjaan yang sudah kuselesaikan hari ini". Dan anda sudah merasa mengerjakan banyak pekerjaan daripada mereka. Padahal mereka belum tentu mempedulikannya. &lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;Tapi apakah anda perlu ikut bertanggungjawab atas hal-hal selain itu?&lt;br /&gt;Apakah anda perlu ikut bertanggungjawab atas banyaknya anak bolos sekolah akibat pekerjaan anda?&lt;br /&gt;Apakah anda harus bertanggungjawab terhadap mereka yang suka membawa minuman keras hampir setiap malam ke tempat kerja anda?&lt;br /&gt;Apakah anda ikut bertanggungjawab terhadap merosotnya pendidikan? merosotnya moral? habisnya uang saku mereka pada hal-hal mudharat?&lt;br /&gt;Anda bisa saja menyaksikan anak dipukuli bapaknya, ditendang ibuknya lantaran tak sekolah. Anda mungkin saja kena semprot oleh pejabat yang anaknya sering bolos di tempat anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi anda tentu tak ingin bertanggungjawab, bukan? Sedang mereka tak pernah peduli dengan nasib anda. Mungkin peduli saat kantong anda tebal, Saat anda bisa membagi-bagikan rokok atau beberapa gelas minuman. Mereka tak peduli dengan keuangan anda.&lt;br /&gt;Mungkin karena anda harus menyetor uang ke bank tiap minggu, menangani pembayaran listrik dan air tiap bulan, mengecek keuangan jatah peralatan elektronik, keuangan administrasi, berjudi bila perlu, minum bila perlu, membeli banyak rokok jika perlu, bermain-main ketempat teman meski tak perlu, ya, mungkin karena semua itu, orang akan menyangka jika anda sudah berkantong tebal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tetap saja mereka tak akan berani bertanggungjawab jika kantong anda menipis.&lt;br /&gt;     &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8194169263164832698-6563954277735765044?l=www.92maud.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.92maud.co.cc/feeds/6563954277735765044/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2010/07/haruskah-kita-bertanggungjawab.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/6563954277735765044'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/6563954277735765044'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2010/07/haruskah-kita-bertanggungjawab.html' title='Haruskah Kita Bertanggungjawab?'/><author><name>92maud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15771142033201981403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SjycJmK2AII/AAAAAAAAAAg/FJCJ9UI4WxM/S220/Maud+Khan.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8194169263164832698.post-7900527681601916208</id><published>2010-07-22T04:06:00.000-07:00</published><updated>2010-09-06T03:30:54.813-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan Maud Khan'/><title type='text'>Kiriman Dari Seorang Teman</title><content type='html'>Kepada siapakah engkau mengeluh? Kepangkuan siapa engkau menumpahkan airmata? Pintu rumah siapa yang engkau ketuk untuk meminta tolong?&lt;br /&gt;Kalau hari janji telah tiba untuk membayar utang, padahal beras di dapur pun sudah menipis.&lt;br /&gt;Apakah engkau akan mengetuk rumah para artis dan bintang film yang uangnya berlebih dan credit card-nya bertumpuk-tumpuk?&lt;br /&gt;Kalau untuk memperoleh pekerjaan dua hari lagi engkau harus menyediakan ratusan ribu atau sekian juta rupiah uang terobosan: Apakah engkau akan bertamu ke rumah-rumah para eksekutif yang tinggal sekampung denganmu?&lt;br /&gt;Kalau istrimu hendak melahirkan, apakah engkau bisa meminjam kendaraan tetanggamu yang rumahnya berpagar tinggi itu, atau bisakah engkau mencegat kendaraan-kendaaan pribadi yang kosong yang lalu-lalang di jalan umum?&lt;br /&gt;Kalau nasibmu ditimpa gludug "rasionaliasi" alias di-PHK-kan, bisakah engkau lapor kepada Pak RT, Pak RW, Pak KAdus, Pak Kades atau para pamong lainnya yang merupakan pengayom masyarakat? &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kalau dalam suatu kasus atau konflik di kantor engkau tercampakkan karena engkau tak memiliki kekuasaan, backing dan relasi akankah engkau menumpahkan airmata di kantor Polsek atau Koramil?&lt;br /&gt;Kalau tanah-rumahmu dan tanah rumah teman-temanmu sekampung atau sekecaman digusur tanpa ganti rugi yang memadai setidaknya karena disunat oleh oknum-oknum pelaksananya: ke manakah engkau akan lari? Apakah ke Kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah? Kantor Cabang NU? Atau kantor Orwil ICMI Atau ke rumah KH. Zainuddin MZ?&lt;br /&gt;Kalau rasa cemburu memanggang dada-mu karena melihat tetangga begitu gampang berganti-ganti mode mobil. Kalau rasa jengkel menampar-nampar perasaanmu karena meiyaksikan jumlah kendaraan pribadi memenuhi lebih dari lima puluh persen jalan-jalan di kotamu. Kalau rasa perih, sakit dendam, menikam jantung ruhanimu, karena menghayati perbedaan-perbedaan tingkat hidup yang mencolok, menghayati ketimpangan, kesenangan dan ketidakseimbangan. Siapakah yang bersedia mendengarkan keluhanmu? Pak Pendeta? Pak Cendekiawan? Pak Seniman? Pak Ulama? Pak Khatib di rumah ibadah yang kata-katanya justru harus engkau dengarkan?&lt;br /&gt;Kalau hatimu bingung oleh kesumpegan ekonomi. Kalau perasaanmu gundah oleh pusingan-pusingan hidup yang bak lingkaran setan. Kalau jiwamu serasa akan berputus asa karena sedemikian sukarnya menempuh hidup yang benar. Kalau sukmamu rasanya mau copot karena himpitan-himpitan nasib yang tak tertahankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke mana dan kepada siapakah engkau rebahkan keletihamu?&lt;br /&gt;Kepada minuman keras, ganja, arak dan joget dangdut, mengasyiki ramalan angka-angka, menghirup rasa aman yang praktis melalui pengajian-pengajian akbar?&lt;br /&gt;Adakah peluang, dan tidakkah dilarang, untuk mengemukakan isi hati kita seadanya dan sejujur-jujurnya kepada Pak Lurah, Pak Polisi, Pak Kiai, Pak Menteri, Pak Ilmuwan, Pak Wakil rakyat, Pak Profesional dan lain-lain?&lt;br /&gt;Kalau memang mungkin kapan dan di mana? Bolehkah mendambakan bahwa Pak-pak itu pernah sesekali bertanya kepadamu tentang apakah hatimu sedang bersedih, apakah ada kesulitan dan problem yang tak bisa diatasi?&lt;br /&gt;Kalau tidak, lantas kepada siapa engkau nengeluh?&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8194169263164832698-7900527681601916208?l=www.92maud.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.92maud.co.cc/feeds/7900527681601916208/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2010/07/kiriman-dari-seorang-teman.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/7900527681601916208'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/7900527681601916208'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2010/07/kiriman-dari-seorang-teman.html' title='Kiriman Dari Seorang Teman'/><author><name>92maud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15771142033201981403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SjycJmK2AII/AAAAAAAAAAg/FJCJ9UI4WxM/S220/Maud+Khan.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8194169263164832698.post-2136551764052016558</id><published>2010-06-16T15:56:00.000-07:00</published><updated>2010-06-16T15:56:42.243-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan Maud Khan'/><title type='text'>Tak Berkesudahan</title><content type='html'>Sedikitpun tiada pernah terbersit dalam benak saya menjalani hidup semacam ini. Tapi pantaskah kita mengeluh? sedang keluhan tidak akan menyelesaikan semuanya. Hidup memang butuh keputusan, apapun itu. Saya sadar, jika keadaan menentukan pilihan kita. Kemudian kita akan berdalih dengan berbagai cara sebisa kita. &lt;br /&gt;Hmmm, rupanya ketersediaan maaf pada diri sendiri pun terbatas. Kala kepasrahan telah memuncak, tak ada lagi yang bisa dilakukan kecuali memaki dan mengumpat pada diri yang bersalah. &lt;br /&gt;"Ya Rab, aku butuh ampunan-Mu atas semua ini. Biarlah semua termakan waktu, tetapi jiwaku masih tunduk pada-Mu."&lt;br /&gt;Kemudian cahaya yang melintas hilang sudah, entah kapan ia akan datang. Benar-benar pertobatan yang sia-sia. Seiring dengan berjaannya hari, aku terpaku meratap dan melamun dengan dalih-dalihku yang tak berkesudahan. Aku masih menginginkannya. &lt;span class="fullpost"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8194169263164832698-2136551764052016558?l=www.92maud.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.92maud.co.cc/feeds/2136551764052016558/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2010/06/sedikitpun-tiada-pernah-terbersit-dalam.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/2136551764052016558'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/2136551764052016558'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2010/06/sedikitpun-tiada-pernah-terbersit-dalam.html' title='Tak Berkesudahan'/><author><name>92maud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15771142033201981403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SjycJmK2AII/AAAAAAAAAAg/FJCJ9UI4WxM/S220/Maud+Khan.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8194169263164832698.post-2395493472710468939</id><published>2010-01-25T07:23:00.000-08:00</published><updated>2010-01-26T05:46:58.640-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan Maud Khan'/><title type='text'>Belum Bisa</title><content type='html'>Belum bisa melupakan apa yang sudah terjadi. Kadang aku menyesal melihatnya. Bahkan memandang matanya pun aku tak mampu. Ya Allah. Bukankah ini semua masih akan berlanjut? aku tak ingin perasaan ini menghantuiku. Lalu... aku akan mati konyol termakan zaman yang selalu menuntut perubahan. Sedang diriku, masih belum berubah dengan perasaanku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hahaha.... akan lebih menyenangkan lagi, jika aku mati saja...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8194169263164832698-2395493472710468939?l=www.92maud.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.92maud.co.cc/feeds/2395493472710468939/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2010/01/belum-bisa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/2395493472710468939'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/2395493472710468939'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2010/01/belum-bisa.html' title='Belum Bisa'/><author><name>92maud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15771142033201981403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SjycJmK2AII/AAAAAAAAAAg/FJCJ9UI4WxM/S220/Maud+Khan.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8194169263164832698.post-4613744847427590672</id><published>2009-12-01T10:34:00.000-08:00</published><updated>2009-12-01T10:36:56.222-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen Mereka'/><title type='text'>Moksa</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SxVhep3VcDI/AAAAAAAAASw/2G0vuDiiqiI/s1600/moksa_06.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="166" src="http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SxVhep3VcDI/AAAAAAAAASw/2G0vuDiiqiI/s320/moksa_06.jpg" width="238" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;By: Putu Wijaya &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telepon berdering di kamar praktik dokter Subianto. Dokter yang sedang menyanyi-nyanyi sambil memeriksa pasiennya itu, mengangkat telepon.&lt;br /&gt;"Hallo, ini pasti kamu Moksa!"&lt;br /&gt;"Bener, Pak."&lt;br /&gt;"Kamu kan janji mau pulang. Jam begini kamu kok belum datang?"&lt;br /&gt;"Moksa tidak jadi pulang."&lt;br /&gt;"Lho, kenapa? Kamu bilang kamu butuh duit untuk beli kado buat teman baik kamu itu."&lt;br /&gt;"Pokoknya tidak jadi. Dan Moksa tidak jadi pulang. Mau langsung ke pesta ulang tahun kawan itu."&lt;br /&gt;"Lho, katanya kamu tidak punya uang untuk beli kado!"&lt;br /&gt;"Udah beres!"&lt;br /&gt;"Beres gimana! He Moksa, Ibu kamu minta diantarkan makan di Planet Hollywood."&lt;br /&gt;"Tidak bisa Pak. Besok aja. Moksa pulang besok, Minggu."&lt;br /&gt;"Tapi kamu kan butuh duit..."&lt;br /&gt;"Udah ya Pak. Selamat malam Minggu sama Ibu. Besok Moksa pulang!"&lt;br /&gt;"Tunggu!"&lt;br /&gt;"Tidak bisa, ini coinnya sudah habis."&lt;br /&gt;Telepon putus. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dokter Subianto tertegun. Kelihatannya kesal. Dia menghampiri pasiennya dan tanpa ditanya lantas ngomong.&lt;br /&gt;"Anak-anak sekarang memang lain dengan kita dulu," katanya sambil meneruskan menelusuri tubuh pasiennya dengan stetoskop.&lt;br /&gt;"Kenapa, Dok?"&lt;br /&gt;"Itu anak saya yang indekos di Depok supaya dekat sekolahnya, pulangnya hanya sebulan sekali. Ini ibunya sudah rindu setengah mati, tapi dia nggak jadi pulang. Padahal kemaren merengek-rengek minta uang bulanannya ditambahin 100 ribu, sebab ada kawannya yang ulang tahun. Saya bilang boleh saja, asal jelas untuk apa, tetapi harus pulang dulu! Sekarang dia tidak mau pulang. Dia cuma mau uangnya. Akibat iklan-iklan tv, anak-anak sekarang memang jadi mata duitan semuanya. Oke. Sudah. Anda sudah tokcer. Anda sudah boleh melakukan apa saja dan makan apa saja sekarang, asal jangan berlebihan seperti pejabat-pejabat yang KKN itu!"&lt;br /&gt;Pasien mengucapkan terima kasih, lalu pergi keluar. Dokter Subianto kembali menggumankan lagu kegemarannya. Langgam Melayu Seroja ciptaan almarhum S. Effendie.&lt;br /&gt;"Mari menyusun, bunga Seroja......"&lt;br /&gt;Pintu belakang terbuka. Kepala istrinya nongol.&lt;br /&gt;"Moksa nelpon ya?"&lt;br /&gt;Dokter menarik napas panjang.&lt;br /&gt;"Ya. Tapi dia tidak bisa pulang. Tetap saja urusannya sendiri yang lebih penting. Kita memang sudah dia tinggalkan. Ini memang nasib semua orang tua. Uang sakunya harus dikurangi lagi, supaya dia terpaksa pulang."&lt;br /&gt;Istri dokter masuk. Dia tampak sangat gembira. Dokter Subianto jadi heran.&lt;br /&gt;"Kenapa kamu gembira sekali, padahal kamu harusnya marah besar sebab tidak jadi ke Planet Hollywood, sebab tidak ada yang mengantar, karena aku juga tidak bisa membatalkan pertemuanku dengan dokter Faizal malam ini di rumahnya!"&lt;br /&gt;Istri dokter Subianto duduk di kursi.&lt;br /&gt;"Aku bisa ke Planet Hollywood kapan saja. Tidak pergi juga tidak apa. Aku sudah cukup senang dengar apa yang diceritakan Moksa di telepon tadi."&lt;br /&gt;"O jadi dia sudah menelpon kamu sebelum menelpon aku? Anak-anak memang semuanya lebih cinta kepada ibunya daripada papanya."&lt;br /&gt;"Bukan begitu. Dia tahu kamu lagi praktek, jadi dia ceritakan saja kepadaku. Nah sekarang aku menceritakan kepada kamu."&lt;br /&gt;"Apa lagi apologinya kali ini?"&lt;br /&gt;"Bukan apologi."&lt;br /&gt;"Apa lagi rayuannya kali ini supaya kamu tidak marah dan menyediakan duit 100 ribu besok, karena dia sudah pinjam dari temannya, sebab itu memang lebih praktis daripada pulang naik bus yang kumuh, sesak dan panas. Ah anak-anak sekarang memang sulit dilatih prihatin. Maunya enak. Ini gara-gara gaya hidup wah yang sudah dipompakan oleh televisi dan majalah-majalah wanita!"&lt;br /&gt;Istri dokter Subianto tersenyum saja. Sekali ini ia tidak mencoba mendebat suaminya. Ia menunggu sampai lelaki itu tenang. Lalu sambil tersenyum bangga ia bercerita.&lt;br /&gt;"Anakmu Moksa sudah melakukan sesuatu yang amat mengharukan hari ini," kata wanita itu dengan mata berkaca-kaca. "Dia sama sekali tidak meminjam uang temannya untuk beli kado. Tapi dia berusaha dengan cucur-keringatnya sendiri. Dan kamu pasti akan terkejut kalau mendengar apa yang sudah dikerjakannya untuk mendapatkan uang."&lt;br /&gt;Tiba-tiba wanita itu tidak dapat menahan emosinya. Ia menangis, tetapi bukan sedih. Tangis haru karena gembira. Dokter Sugianto jadi berdebar-debar.&lt;br /&gt;"Apa lagi yang dilakukan oleh Moksa? Dia mencuri?"&lt;br /&gt;Nyonya dokter berhenti menangis.&lt;br /&gt;"Masak mencuri!"&lt;br /&gt;"Habis apa? Kamu kok menangis?"&lt;br /&gt;"Aku menangis karena terharu."&lt;br /&gt;"Kenapa terharu?"&lt;br /&gt;"Sebab anakmu ngamen di dalam bus!"&lt;br /&gt;"Apa?"&lt;br /&gt;"Ngamen!"&lt;br /&gt;Dokter Subianto tertegun. Tak percaya apa yang baru saja didengarnya. Dan tambah tak percaya lagi ketika istrinya menambahkan.&lt;br /&gt;"Dan dia menyanyikan lagu Seroja kegemaranmu itu di dalam bus dengan gitarnya. Banyak orang terharu. Suaranya kan memang bagus dan main gitarnya pinter. Tak tersangka-sangka ia bisa mengumpulkan banyak, karena orang-orang itu memberinya dengan senang hati."&lt;br /&gt;Dokter Subianto tak mampu bicara apa-apa. Ia ikut terharu. Anak yang selalu dikhawatirkannya sudah hampir sesat karena pergaulan metropolitan, ternyata masih lempeng. Bahkan mampu berdikari mencari duit dengan ngamen. Itu memerlukan keberanian dan ketekunan. Tidak sembarang orang akan mampu berbuat seperti itu. Itu harus dibanggakan.&lt;br /&gt;Pintu kamar praktek terbuka. Zuster yang membantu mengatakan di depan masih ada satu pasien lagi hendak masuk. Istri dokter menghapus air matanya lalu diam-diam masuk ke dalam. Waktu itu dokter Subianto tak mampu menahan kucuran air matanya. Ia cepat berpaling ke sudut dan menghapus rasa haru itu.&lt;br /&gt;Ketika Subianto berbalik dan berhasil menenangkan perasaannya, di depan mejanya sudah duduk pasien. Orangnya hitam kurus, pakai rompi hitam dan nampak amat kesakitan. Setelah diperiksa ternyata ia memiliki benjolan merah di dada kanannya. Dokter Subianto memperkirakan itu semacam tumor lemak. Ia cepat menulis resep.&lt;br /&gt;"Dalam tiga hari, kalau tidak ada perbaikan, cepat datang lagi kemari. Mungkin memerlukan perawatan lain. Tapi kalau sudah mendingan, teruskan minum obatnya sampai habis. Ini ada 4 macam."&lt;br /&gt;Subianto menyerahkan resep itu. Pasien melihat ke atas resep lalu memandang ke dokter seperti bimbang.&lt;br /&gt;"Kok banyak sekali Dokter?"&lt;br /&gt;"Bisa diambil separuhnya saja dulu."&lt;br /&gt;"Ini kira-kira berapa Dokter?"&lt;br /&gt;"Ya mungkin sekitar seratus ribu. Sekarang obat-obatan memang mahal sekali."&lt;br /&gt;Lelaki itu tertegun. Dokter Subianto heran.&lt;br /&gt;"Kenapa?"&lt;br /&gt;"Saya tidak punya uang Dokter. Bahkan saya juga tidak punya uang lagi untuk bayar Dokter. Tadi di dalam bus waktu kemari, saya ketemu dengan seorang anak muda. Kelihatannya lagi susah. Karena ia duduk di samping saya, saya tanyakan apa sebabnya. Ia mengatakan bahwa ia tidak punya uang untuk beli kado, buat teman baiknya. Saya katakan kepada dia, bahwa kado itu bukan tujuan dari ulang tahun. Kita datang dengan tangan kosong dengan hati bersih saja sudah cukup. Dia termenung mendengar apa yang saya katakan. Lalu saya menceritakan banyak hal, panjang lebar, karena saya lihat dia begitu sungguh-sungguh mendengarkan. Waktu turun, dia mencium tangan saya dan mengucapkan terima kasih. Saya tanyakan siapa namanya dan siapa orang tuanya. Tapi dia tidak mau menjawab. Namun saya yakin karena suaranya, tubuhnya, dan gerak-geriknya juga hidungnya anak itu....... anak Dokter. Maaf, Dokter punya anak yang tinggal di daerah Depok, bukan?"&lt;br /&gt;Dokter Subianto terkejut.&lt;br /&gt;"Ya, anak saya Moksa, indekos di situ."&lt;br /&gt;"Dia memiliki tahi lalat di mata kanannya?"&lt;br /&gt;"Ya betul."&lt;br /&gt;"Maaf, kalau tidak salah, kidal?"&lt;br /&gt;"Betul."&lt;br /&gt;Pasien itu termenung. Ia kelihatan susah ngomong.&lt;br /&gt;"Kenapa? Bapak kesakitan?"&lt;br /&gt;Pasien itu seperti tak mendengarkan kata dokter, dia terus bercerita.&lt;br /&gt;"Waktu saya mau bayar bus, saya baru sadar, dompet saya sudah hilang. Semua uang saya untuk berobat ada di dalamnya. Saya bingung. Tapi karena sakitnya bukan main, saya teruskan saja kemari. Jadi begitu Dokter. Maaf, apa saya bisa membayar Dokter lain kali saja?"&lt;br /&gt;Dokter Subianto tercengang.&lt;br /&gt;"Jadi, anak saya itu sudah mencopet Bapak?"&lt;br /&gt;"Anak Bapak? Benar dia anak Dokter?"&lt;br /&gt;"Maksud saya, anak itu. Anak itu sudah mencopet Bapak?"&lt;br /&gt;"Saya tidak tahu. Mungkin tidak."&lt;br /&gt;"Berapa isi dompet Bapak?"&lt;br /&gt;"Seratus ribu."&lt;br /&gt;Dokter Subianto termenung beberapa lama. Kemudian dia bergegas membuka laci mejanya. Mengeluarkan 100 ribu dan memberikan kepada orang itu.&lt;br /&gt;"Ini. Tebuslah resep itu."&lt;br /&gt;Orang itu tercengang. Nampak agak malu.&lt;br /&gt;"Pak Dokter meminjami saya uang?" tanyanya seperti tidak percaya.&lt;br /&gt;Dokter Subianto menggeleng. Ia mengajak orang itu ke pintu.&lt;br /&gt;"Tidak. Bapak tidak perlu mengembalikan, pakai saja uang itu untuk menebus resep. Saya justru minta maaf atas kelakuan anak saya. Moksa memang nakal. Saya akan memberi dia peringatan keras. Sekali lagi minta maaf. Kalau ada yang perlu saya bantu, datang saja jangan ragu-ragu."&lt;br /&gt;Dokter Subianto membuka pintu dan mempersilakan.&lt;br /&gt;"Selamat malam."&lt;br /&gt;Orang itu nampak seperti merasa bersalah. Ia ingin mengucapkan sesuatu, tetapi Subianto cepat menutup pintu. Lalu menjatuhkan badannya di kursi sambil memukul meja.&lt;br /&gt;"Bangsat!"&lt;br /&gt;Untung tidak ada pasien lagi. Konsentrasi Subianto sudah buyar. Begitu selesai praktek, ia menceritakan secara sekilas apa yang sudah terjadi pada istrinya. Tanpa mendengarkan komentar istrinya, ia langsung masuk ke mobil, menuju ke rumah pondokan Moksa di Depok.&lt;br /&gt;Subianto terpaksa menunggu di ruang tamu, karena Moksa baru saja berangkat ke pesta. Ia menghabiskan 5 gelas teh, karena perasaannya tak menentu. Tengah malam Moksa baru muncul. Anak itu juga nampak heran melihat papanya sudah menunggu.&lt;br /&gt;"Kan saya bilang besok pulangnya, Pak?"&lt;br /&gt;Subianto menyembunyikan kemarahannya dengan senyuman.&lt;br /&gt;"Ibumu tidak bisa menunggu sampai besok. Kamu harus pulang sekarang."&lt;br /&gt;Moksa terpaksa ikut. Dengan muka agak mengantuk, ia duduk di mobil di samping bapaknya. Ketika ia hampir saja tertidur, bapaknya mulai bicara.&lt;br /&gt;"Bapak dengar kamu sudah ngamen tadi untuk dapat beli kado."&lt;br /&gt;"O Ibu udah cerita?"&lt;br /&gt;"Ya. Dapat berapa?"&lt;br /&gt;"Lumayan. Yang penting kan bukan kadonya tetapi kehadirannya."&lt;br /&gt;"Jadi kamu menyanyikan lagu Seroja di dalam bus?"&lt;br /&gt;Moksa tersenyum.&lt;br /&gt;"Bener kamu menyanyikan lagu Seroja?"&lt;br /&gt;"Ya bener dong, masak tidak."&lt;br /&gt;Subianto mengangguk.&lt;br /&gt;"Di antara yang memberi kamu uang, ada lelaki pendek hitam dan memakai rompi hitam?"&lt;br /&gt;Moksa mengerling.&lt;br /&gt;"Kok Bapak tahu?"&lt;br /&gt;"Ibu kamu menceritakan semuanya."&lt;br /&gt;"Tapi Moksa tak menceritakan tentang orang itu."&lt;br /&gt;"O ya?"&lt;br /&gt;"Moksa hanya bilang, orang-orang di dalam bus itu heran sebab Moksa ngamennya lain. Kok pakai lagu Seroja. Mereka tertarik dan menanyakan apa Moksa pengamen betulan? Moksa jawab tidak. Cuma iseng. Kebetulan kurang duit buat beli kado untuk temen. Ee tahunya semua pada bersimpati, lalu ngasih. Kecuali Bapak itu."&lt;br /&gt;"Bapak yang mana? Yang pakai rompi hitam?"&lt;br /&gt;"Bapak kok seperti paranormal, tahu aja. Ya, dia pakai rompi hitam. Dia paling menikmati lagu Moksa tapi nggak mau ngasih duit."&lt;br /&gt;"O ya? Dia tidak ngasih apa-apa?"&lt;br /&gt;"Nggak. Nggak ngasih apa-apa. Tapi untuk menghargai perhatiannya pada lagu Moksa, Moksa menyanyikan lagu itu sekali lagi khusus untuk dia. Lalu dia memanggil Moksa. Katanya, itu lagu nostalgianya. Moksa juga bilang itu lagu nostalgia Bapak. Lantas dia nanya siapa sebenarnya Moksa. Ya Moksa terus terang saja, Moksa ini anak dokter Subianto. Dia manggut-manggut. Dia terus mendesak supaya Moksa mnceritakan tentang Bapak. Ya Moksa cerita seadanya saja, semuanya. Lama juga kami ngobrol. Kami salam-salaman sebelum pisah. Moksa terus ngamen sampai capek, karena rasanya enak dapat uang karena cucur keringat sendiri, makanya kagak jadi pulang."&lt;br /&gt;Dokter Subianto tertegun. Ia menghentikan mobil.&lt;br /&gt;"Kenapa Pak? Ngantuk?"&lt;br /&gt;Subianto menggeleng.&lt;br /&gt;"Nggak. Aku hanya terkejut."&lt;br /&gt;"Kenapa?"&lt;br /&gt;"Karena Bapak kira Bapak ini cerdik, ternyata dengan gampang ditipu orang."&lt;br /&gt;"Ditipu bagaimana?"&lt;br /&gt;"Dikerjain. Melayang seratus ribu rupiah dalam sekejap!"&lt;br /&gt;"O ya? Kok bisa?"&lt;br /&gt;Dokter Subianto menarik napas panjang, lalu menceritakan apa yang sudah terjadi di kamar praktek sore itu. Moksa mendengar dengan penuh perhatian.&lt;br /&gt;"Jadi orang itu datang ke ruang praktek Bapak?"&lt;br /&gt;"Ya. Karena dia tahu data-data kamu, dia datang dengan begitu meyakinkan. Dia menjual cerita bohong dengan begitu lihai, sehingga Bapak kehilangan 100 ribu. Habis dia bilang, dia tergugah mendengar cerita kamu. Masak anak dokter kok ngamen. Lalu dia mengeluarkan uang dari koceknya dan memberi kamu 100 ribu. Padahal uang itu mestinya untuk beli obat. Bapak jadi merasa tak enak. Akhirnya Bapak terpaksa mengganti 100 ribunya. Dia berhasil menipu Bapak dengan mempergunakan data dari kamu. Itu pasti penjahat profesional. Sebelum melakukan kejahatannya, dia pasti sudah menyelidiki kita. Dia tahu siapa kamu dan siapa Bapak. Kalau tidak, dia tidak akan berhasil menipu dengan selicin itu. Dunia ini sudah penuh dengan kejahatan sekarang. Bapak harus lebih waspada sekarang. Kamu juga harus hati-hati."&lt;br /&gt;Moksa terdiam. Ia nampak memikirkam dalam-dalam. Lalu Subianto menghidupkan mesin kembali. Mobilnya meluncur seperti kesetanan. Di rumah ia hampir saja menubruk pagar.&lt;br /&gt;Istri dokter Subianto memeluk Moksa begitu mereka sampai.&lt;br /&gt;"Kamu anak hebat. Ternyata kamu bisa mandiri, kalau kamu mau. Ibu bangga sekali pada kamu!"&lt;br /&gt;Subianto cepat-cepat pergi ke kamar studinya. Kalau sedang senewen, ia suka tidur di situ menyepi. Tanpa salin pakaian, ia berbaring. Kecewa karena merasa sudah gagal mendidik anak. Ia menyesali dirinya karena terlalu sibuk. Kenapa ia dulu memilih jadi dokter, padahal ia tahu dokter sepanjang hari sibuk, tak akan sempat memperhatikan anak. Mestinya dia jadi seniman saja, supaya bisa menemani anak 24 jam. Mestinya ia tidak membiarkan Moksa indekos di Depok, supaya bisa diawasi terus. Sekarang sudah terlambat.&lt;br /&gt;"Kini sudah waktunya. Aku harus, harus, harus, harus bicara pada Moksa secara blak-blakan, serius, dan keras. Kalau tidak, akan terlalu terlambat!" bisiknya dengan geram.&lt;br /&gt;Sampai subuh, Subianto tak bisa memincingkan matanya. Tapi baru saja lelap sebentar, istrinya muncul membangunkam. Ternyata hari sudah pukul sebelas siang.&lt;br /&gt;"Moksa sudah menunggu kamu sejak tadi. Dia ingin bicara. Kelihatannya serius sekali," kata istrinya.&lt;br /&gt;Subianto duduk lalu memberi isyarat supaya Moksa disuruh masuk. Perempuan itu berbalik lalu memberi isyarat pada anaknya yang sudah sejak tadi menunggu di pintu. Dengan anggukan rahasia Subianto minta supaya istrinya pergi.&lt;br /&gt;"Selamat siang, Pak. Bapak nggak ke kantor?"&lt;br /&gt;"Selamat pagi Moksa. Bapak kurang enak badan. Kamu mau bicara dengan Bapak?"&lt;br /&gt;"Ya."&lt;br /&gt;Subianto memandangi Moksa tajam.&lt;br /&gt;"Apa lagi? Mau menuntut kenaikan uang saku?"&lt;br /&gt;"Tidak."&lt;br /&gt;"Tidak? Lalu apa?"&lt;br /&gt;Moksa terdiam.&lt;br /&gt;"Ada apa Moksa?"&lt;br /&gt;Moksa menunduk. Setelah diam beberapa lama, ia berbisik. Suaranya hampir tidak kedengaran.&lt;br /&gt;"Pak, kenapa Bapak percaya pada Moksa?"&lt;br /&gt;Giliran Subianto yang terkejut.&lt;br /&gt;"Maksudmu apa?"&lt;br /&gt;"Kata Bapak, Bapak sudah ditipu oleh pasien yang mengaku memberi Moksa uang seratus ribu itu!?"&lt;br /&gt;"Betul."&lt;br /&gt;"Berarti, Bapak percaya pada Moksa, dong!"&lt;br /&gt;Subianto terdiam. Dadanya berdetak keras.&lt;br /&gt;"Kenapa Bapak tidak percaya kepada orang itu?"&lt;br /&gt;Subianto mengalihkan pandangan. Itu pertanyaan yang sulit.&lt;br /&gt;"Kenapa Pak?"&lt;br /&gt;Subianto menghela napas.&lt;br /&gt;"Karena kasihan?"&lt;br /&gt;"Tidak. Kenapa kasihan?"&lt;br /&gt;"Kalau begitu kenapa?"&lt;br /&gt;"Karena aku percaya kepada kamu, Moksa."&lt;br /&gt;Moksa termenung beberapa lama.&lt;br /&gt;"Jadi Bapak lebih percaya kepada Moksa?"&lt;br /&gt;"Ya dong!"&lt;br /&gt;"Jadi masih percaya?"&lt;br /&gt;Subianto menarik napas.&lt;br /&gt;"Ya dong! Kenapa tidak?"&lt;br /&gt;Moksa menunduk. Tiba-tiba ia menangis. Subianto sangat terkejut. Tapi ia berusaha menahan perasaannya.&lt;br /&gt;"Kamu menangis Moksa?"&lt;br /&gt;Moksa mengangguk. Ia berusaha menahan isakannya.&lt;br /&gt;"Kenapa kamu menangis?"&lt;br /&gt;"Moksa malu, Pak."&lt;br /&gt;"Malu? Kenapa?"&lt;br /&gt;"Malu, karena Bapak masih percaya kepadaku."&lt;br /&gt;Subianto terdiam. Moksa memaksa dirinya berhenti menangis. Lalu ia memandangi bapaknya.&lt;br /&gt;"Moksa jadi malu sekali, sebab Bapak masih percaya pada Moksa. Beri Moksa kesempatan satu kali lagi Pak. Moksa akan mengubah semuanya ini. Bapak mau memberi Moksa kesempatan?"&lt;br /&gt;Subianto bingung. Ia tidak tahu apa yang lebih baik. Menjawab ya atau tidak. Akhirnya ia menjawab, seperti orang yang bingung.&lt;br /&gt;"Tak ada yang harus dimaafkan. Kalau kamu nanti besar dan sudah punya anak, kamu akan tahu sendiri, di dalam keluarga tidak ada maaf, semuanya sudah diselesaikan dengan sendirinya. Karena kepada siapa lagi kita bisa berbuat kesalahan kecuali kepada orang tuamu yang menyayangimu?!"&lt;br /&gt;Moksa nampak semakin tertikam. Tapi kemudian ia berdiri dan menghampiri bapaknya. Memegang tangan orang tua itu, lalu menciumnya.&lt;br /&gt;"Maap Pak."&lt;br /&gt;Subianto tambah bingung. Ia mengangkat tangan dan mengusap kepala Moksa. Anak itu menangis kembali.&lt;br /&gt;"Terima kasih, Bapak masih percaya kepada Moksa. Tidak ada yang lebih berharga dari kepercayaan Bapak buat Moksa. Moksa akan berusaha baik lagi, Pak. Moksa pergi sekarang, Pak, ada banyak PR. Moksa tidak mau ketinggalan lagi. Jangan katakan sama Ibu, ya Pak!"&lt;br /&gt;Subianto mengangguk, lalu membarut kepala Moksa. Kemudian mencium kening anak yang cakep tapi badung itu. Moksa menangis lagi. Ia memeluk bapaknya erat-erat, kemudian cepat-cepat hendak pergi ketika terdengar suara pintu terbuka. Tapi ibunya keburu masuk.&lt;br /&gt;Istri Subianto yang masuk karena mendengar suara tangis, terkejut karena tiba-tiba anak itu memeluk.&lt;br /&gt;"Ibu, Ibu punya seorang suami yang hebat. Moksa ternyata punya Bapak yang hebat. Moksa balik dulu sebab banyak urusan. Nanti Moksa nelpon lagi. Kapan-kapan Moksa anterin Ibu ke Planet Hollywood. Moksa yang akan traktir dengan hasil ngamen."&lt;br /&gt;Tak menunggu jawaban, Moksa mencium pipi ibunya, lalu bergegas keluar. Wanita itu hendak memburu keluar, tetapi Subianto memberi isyarat.&lt;br /&gt;"Jangan, biar saja dia pergi."&lt;br /&gt;Perempuan itu bingung.&lt;br /&gt;"Tapi, kamu kemaren bilang, ini sudah terlalu berbahaya."&lt;br /&gt;Subianto menggeleng.&lt;br /&gt;"Kita harus memberi dia kepercayaan."&lt;br /&gt;"Tapi...mungkin dia perlu uang!"&lt;br /&gt;Subianto menggeleng.&lt;br /&gt;"Kepercayaan adalah segala-galanya. Itu lebih penting dari uang!"&lt;br /&gt;Wajah perempuan itu nampak semakin bingung. Ia mendekati suaminya, lalu mengembangkan tangannya. Di atas tangan itu Subianto melihat bungkusan plastik dengan bubuk jahanam.&lt;br /&gt;"Aku temukan ini di kamar mandi. Moksa pasti kelupaan."&lt;br /&gt;Dokter Subianto bergetar melihat barang-barang jahanam itu. Tetapi ia mencoba tenang. Hanya saja matanya tidak kuat. Nampak tetes air mata dari kedua mata yang sudah banyak diterpa kesedihan itu.&lt;br /&gt;"Kita harus percaya dan menyerahkan dirinya kepada dirinya. Dialah yang paling bisa menjaga dirinya sendiri. Kita harus berhenti jadi polisi dengan memberinya kepercayaan. Inilah harapan kita sekarang, setelah semuanya gagal!" bisiknya sambil mencampakkan benda laknat yang sudah menghancurkan Moksa itu.&lt;br /&gt;"Kita lawan semua ini dengan kepercayaan."&lt;br /&gt;"Tapi apa bisa hanya dengan kepercayaan, Pa? Moksa sudah parah!"&lt;br /&gt;"Kamu kira aku percaya pada semua ini? Tidak, Bu. Aku juga tidak percaya. Tapi kita harus percaya. Kita harus percaya Moksa akan bisa melawan itu semua. Dengan memberinya kepercayaan kita akan membantu ia keluar dari persoalannya. Harus, betapa pun kita tidak percayanya. Harus Bu!"&lt;br /&gt;Istri Subianto terdiam, sementara Subianto sendiri berusaha melawan dirinya sendiri. Ia tahu kepercayaan itu baru bisa bekerja, kalau dia sendiri juga terlebih dahulu percaya.&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8194169263164832698-4613744847427590672?l=www.92maud.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.92maud.co.cc/feeds/4613744847427590672/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/12/moksa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/4613744847427590672'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/4613744847427590672'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/12/moksa.html' title='Moksa'/><author><name>92maud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15771142033201981403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SjycJmK2AII/AAAAAAAAAAg/FJCJ9UI4WxM/S220/Maud+Khan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SxVhep3VcDI/AAAAAAAAASw/2G0vuDiiqiI/s72-c/moksa_06.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8194169263164832698.post-3328308784164398362</id><published>2009-11-28T11:09:00.000-08:00</published><updated>2009-11-28T11:09:59.289-08:00</updated><title type='text'>Mengganti Template Pada Blogspot</title><content type='html'>Sebelumnya kawan2 bisa mencari berbagai macam template yang sesuai dengan selera melalui "Google". Misalkan dengan mengetikkan &lt;b&gt;"Free Blogger Template"&lt;/b&gt; atau &lt;b&gt;"Blogger Templates Download"&lt;/b&gt; dan semacamnya.&amp;nbsp; Kawan2 bisa mendownloadnya dari situs-situs tersebut. Biasanya file-nya langsung berupa XML atau masih berbentuk Winrar Archieve (di-extract dulu). Ingat!!! pilih yang benar-benar sesuai selera. &lt;br /&gt;Pengalaman Penulis yang selalu berganti-ganti template, selalu disebabkan template yang sudah lama dipakai ternyata kurang bagus. Dan tentu ini beresiko dengan hilangnya Widget/Gadget yang sudah terlanjur banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Langkah Mengganti Template:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Silakan Login menggunakan account blogger/Google Anda. Kemudian Masuk pada &lt;span style="color: red;"&gt;"Lay Out"&lt;/span&gt; atau &lt;span style="color: red;"&gt;"Tata Letak"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pilih menu &lt;span style="color: red;"&gt;Edit HTML&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SxFxjxN7YcI/AAAAAAAAASQ/HCZ-D7HUNds/s1600/lolg.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SxFxjxN7YcI/AAAAAAAAASQ/HCZ-D7HUNds/s320/lolg.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*catatan: Untuk berjaga-jaga, kawan2 bisa terlebih dahulu mendownload template yang sementara ini dipakai. Jadi seandainya template yang baru dirasa kurang cocok atau mungkin karena fiturnya yang terbatas, kawan-kawan bisa kembali pada template awal tanpa perlu merubah widget/gadget seperti semula. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SxFyyLlgzPI/AAAAAAAAASo/9uRbfQLyyPw/s1600/down+load.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SxFyyLlgzPI/AAAAAAAAASo/9uRbfQLyyPw/s320/down+load.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SxFxbtEvYHI/AAAAAAAAARw/kXjzBbFl0-g/s1600/confirm.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Langkah berikutnya klik &lt;span style="color: red;"&gt;"Browse"&lt;/span&gt;, cari lokasi penyimpanan file XML kawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SxFxZ6PR2rI/AAAAAAAAARo/ehgfWlzdU0Y/s1600/brow.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SxFxZ6PR2rI/AAAAAAAAARo/ehgfWlzdU0Y/s320/brow.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SxFxnlLq_HI/AAAAAAAAASg/WienVNuFB64/s1600/upload2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SxFxnlLq_HI/AAAAAAAAASg/WienVNuFB64/s320/upload2.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Klik tombol &lt;span style="color: red;"&gt;"Upload"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SxFxmXp8TeI/AAAAAAAAASY/ppgIH67Vzt4/s1600/upload.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SxFxmXp8TeI/AAAAAAAAASY/ppgIH67Vzt4/s320/upload.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Klik tombol &lt;span style="color: red;"&gt;"Confirm &amp;amp; Save"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SxFxbtEvYHI/AAAAAAAAARw/kXjzBbFl0-g/s1600/confirm.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SxFxbtEvYHI/AAAAAAAAARw/kXjzBbFl0-g/s320/confirm.png" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Selamat, Sekarang Template kawan sudah berubah....!!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8194169263164832698-3328308784164398362?l=www.92maud.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.92maud.co.cc/feeds/3328308784164398362/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/11/mengganti-template-pada-blogspot.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/3328308784164398362'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/3328308784164398362'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/11/mengganti-template-pada-blogspot.html' title='Mengganti Template Pada Blogspot'/><author><name>92maud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15771142033201981403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SjycJmK2AII/AAAAAAAAAAg/FJCJ9UI4WxM/S220/Maud+Khan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SxFxjxN7YcI/AAAAAAAAASQ/HCZ-D7HUNds/s72-c/lolg.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8194169263164832698.post-7369619807694491376</id><published>2009-11-27T02:03:00.001-08:00</published><updated>2009-11-27T02:14:45.599-08:00</updated><title type='text'>Menambah Widget pada Blogspot</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Banyak sekali manfaat WIDGET, selain untuk aksesori (mempercantik Blog, WIDGET juga berfungsi sebagai  link, arsip, label, page rank, atau bahkan untuk menambahkan iklan pada Blog. Ada berbagai macam WIDGET yang dapat kita peroleh di dunia maya. Beberapa macam widget tersebut misalnya widget jam, widget page rank, widget alexa, widget traffic counter dan berbagai bentuk widget default yang memang sudah disediakan sebelumnya oleh Google/Blooger. Biasanya Widget didapat dalam bentuk kode HTML/Javascript. Untuk mendapatkan widget seperti yang kita inginkan, bisa dicari dengan mesin pencari seperti Google. Setelah ketemu situs yang dicari, tinggal ikuti caranya yang tercantum dalam situs tersebut. Setelah berhasil, biasanya kita akan mendapatkan kode HTML/Javascript yang dapat kita pasang di Blog sesuai keinginan kita. Untuk beberapa widget juga sudah saya post kan diblog ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, untuk memasangnya ke dalam blog kita (blogspot), Langkah-langkahnya yaitu :&lt;br /&gt;1. &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Masuk (Log in) &lt;/span&gt;situs &lt;a href="http://blogger.com/"&gt;Blogger&lt;/a&gt; dan masukkan username serta password&lt;br /&gt;2. Klik &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Tata Letak (Lay Out)&lt;/span&gt; yang ada pada pojok kiri atas&lt;br /&gt;3. Pilih&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt; Elemen Halaman (Page Element)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/Sw-kdLrGbDI/AAAAAAAAARU/pD_o--vMxTo/s1600/page-element-added_Full.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 219px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/Sw-kdLrGbDI/AAAAAAAAARU/pD_o--vMxTo/s320/page-element-added_Full.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5408722498751982642" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pada elemen halaman ini akan terlihat gambaran Blog kita secara umum, yang memuat tata letak berbagai macam widget yang kita pasang, letak halaman posting dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Klik Tambah &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Gadget (Add Gadget)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;5. Pada halaman baru yang muncul, Kawan2 bisa memilih berbagai macam IWidget yang sudah disediakan oleh Google/Blogger. Atau jika sudah memiliki kode Widget sendiri, tinggal klik tanda + pada HTML/Javascript.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/Sw-kcoBiluI/AAAAAAAAARM/Vo74kYlnGVU/s1600/Add+Gadget+JavaScriptt.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 270px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/Sw-kcoBiluI/AAAAAAAAARM/Vo74kYlnGVU/s320/Add+Gadget+JavaScriptt.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5408722489182426850" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;6. Muncul kolom baru yang terdiri dari kolom judul dan konten&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/Sw-kde4OqmI/AAAAAAAAARc/ETFTt7__91o/s1600/6.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 308px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/Sw-kde4OqmI/AAAAAAAAARc/ETFTt7__91o/s320/6.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5408722503907322466" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;7. Isikan judul yang diinginkan, jika tidak menghendaki dapat dikosongkan&lt;br /&gt;8. Paste kode HTML/Javascript yang telah diperoleh pada kolom konten&lt;br /&gt;9. Klik &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Simpan (Save Changes)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;10. Sekarang Blognya sudah lebih cantik, kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8194169263164832698-7369619807694491376?l=www.92maud.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.92maud.co.cc/feeds/7369619807694491376/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/11/menambah-widget-pada-blogspot.html#comment-form' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/7369619807694491376'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/7369619807694491376'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/11/menambah-widget-pada-blogspot.html' title='Menambah Widget pada Blogspot'/><author><name>92maud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15771142033201981403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SjycJmK2AII/AAAAAAAAAAg/FJCJ9UI4WxM/S220/Maud+Khan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/Sw-kdLrGbDI/AAAAAAAAARU/pD_o--vMxTo/s72-c/page-element-added_Full.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8194169263164832698.post-7731841621704552957</id><published>2009-11-23T03:58:00.000-08:00</published><updated>2009-11-23T04:00:18.116-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen Mereka'/><title type='text'>HAEMI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/Swp5GsP-XnI/AAAAAAAAAP8/laQxgOnIUGs/s1600/bulan-1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 134px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/Swp5GsP-XnI/AAAAAAAAAP8/laQxgOnIUGs/s200/bulan-1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407267458476039794" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Oleh: Salamet Wahedy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(I)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun dia sudah menghilang.&lt;br /&gt;Tapi Ceritanya berseliweran di sepanjang halaman kampung. Tubuhnya, dua tahun lalu bersih putih. Cerlang matanya tajam. Untaian kata-katanya selalu menyiratkan tanda dan teka-teki. Setiap orang yang berpapasan dengannya, selalu menyediakan tempat ingatan untuk mengenangnya.&lt;br /&gt;Dilahirkan di lingkungan keluarga keturunan dara biru, membuatnya mendapatkan tempat istimewa dalam pergaulan. Ibunya lulusan pondok pesantren. Ayahnya titisan seorang kiai. Teman-temannya memanggilnya dengan sebutan kakak tua.&lt;br /&gt;Di masa mudanya, ia dikenal anak yang berani. Ia tidak takut pada siapa pun. Suaranya lantang. Bahkan sebagai orang yang dituakan dalam pergaulan, ia tetap menunjukkan sikap yang penuh hormat ke sesamanya.&lt;br /&gt;Suatu pagi kejadian itu pun terjadi. Matahari menggeliat dengan malas. Orang-orang masih enggan menepis kesepian. Wajah Haemi tampak memar. Seluruh tubuhnya penuh luka. Gigi depannya tanggal. Yang paling mengenaskan pelipisnya. Tak ada yang mengira: Haemi yang lahir dengan dara biru terjerembab dalam kubang debu.&lt;br /&gt;Haemi dituduh menyelingkuhi istri orang. Ia digebuki. Massa menghakiminya. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(II)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun dia sudah menghilang.&lt;br /&gt;Kini, dengan mata cekung legam. Rambut awut-awutan kebiru-biruan. Tampang terpasang seram, ia muncul di ujung jalan desa waku tengah malam. Pandangnya jelalatan seperti mencari sesuatu, seperti hendak membongkar dinding rumah, pohonan juga bebatuan. Jalannya masih tegap. Hanya kaki kirinya agak pincang. Untuk menepis keterasingan suasana malam desa yang larut, berulang ia mendehem, atau sesekali batuk-batuk.&lt;br /&gt;Di rumah kesembilan dari ujung jalan desa, ia mengetuk pintu. Rumah bercat hijau. Hijau keseluruhan. Hanya warna hitam menyela di beberapa sisi dan bagiannya. Rumah nomor nolsatunol. Berulang ia mengetukkan tangannya. Dan berulang pula senyap menelan gemerisik buku tangannya dan daun pintu yang mengelupas.&lt;br /&gt;“Bu. Bu. Bu... Aku Haemi. Buka pintunya Bu. Huk. Huk”, batuknya memberat. Ketukan tangannya semakin keras dan cepat. Rumah itu tampak mau bergetar. Tapi tetaplah senyap yang menyergap untuk beberapa kejap.&lt;br /&gt;Paakk. Paakk. Paakk.&lt;br /&gt;Kini telapak tangannya dihantamkan ke jantung pintu. Kerangka pintu pun ikut bergetar. Seperti kesalnya yang membuncah di kedua matanya. Seperti lelahnya yang menyaru dalam dahak batuknya.&lt;br /&gt;“Sebentar, siapa?”&lt;br /&gt;Pintu berderit berat. Sosok perempuan paruh baya surut di depannya. Sosok itu mengucak-ngucak matanya. Matanya kurang awas. Apalagi malam telah larut. Kabut mengambang di setiap lubang penglihatannya.&lt;br /&gt;“Haemi?” suara itu memastikan dirinya. Ia melengos masuk. Di lemparkannya ransel berat di atas meja bambu tua. Ransel itu meringkuk pasrah seperti tubuhnya yang menimbulkan keriut di kursi bambu di sudut rumahnya.&lt;br /&gt;“Kau ini dari mana saja. Kau pergi tanpa pamit atau kabar yang jelas. Bagaimana maksudmu? Aku tak pernah menganggapmu sebagai Karna. Kau tetaplah Bima”, sosok perempuan paru baya itu berseloroh. Celoteh-celoteh kecilnya seperti kerikil. Ia tak butuh kerikil. Kepulangannya pun hanya sekadar palarian dari kerikil-kerikil yang menggunung di jalannya.&lt;br /&gt;Sosok perempuan paruh baya itu, ibu Haemi, terus berseloroh ria. Petuah dan teguran membuat kuping Haemi tampak berdenyut. Dadanya turun naik. Tanpa ba-bi-bu ia bergegas ke kamar tidurnya. Kamar yang sudah dua tahun terkunci. Hentakan keras membuat debu menghempas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(III)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;“Dari mana saja kau Haemi? Pagi-pagi ibunya kembali memastikan keberadaannya selama dua tahun belakangan ini. Sambil menyuap suguhan ibunya, dengan sedikit kesal, ia menjelaskan keberadaannya.&lt;br /&gt;“Saya tahu ibu melahirkan saya untuk jadi anak yang berbakti. Tapi saya juga berhak untuk mencari pengalaman. Sehingga saya dapat berbakti dengan baik kepada ibu” suaranya agak ketus. Suara yang meletuk seperti kayu-kayu bakar yang mendekati hangus. Panjang lebar dijelaskannya petualangannya.&lt;br /&gt;Malam itu, malam kepergiannya ia mengetahui pacarnya, Indira, memutuskan untuk menikah dengan Kamir. Ia terpukul. Sangat terpukul hatinya. Indira, perempuan yang bersedia pacaran dengannya empat tahun lalu, ternayata diam-diam menjalin hubungan dengan Karim, anak Pak Amir pedagang besar itu. Untuk melepas rasa sakit hatinya, Haemi menerima ‘ajakan’ Nona Pokewati, istri Bang Birokron. Nona Pokewati sudah sejak lama menggodanya. Nona Pokewati, binatang jalang yang binal. Keperkasaan Bang Birokron tidak membuatnya puas. Apalagi Haemi sebagai sosok yang di mata Nona Pokewati penuh imajinasi.&lt;br /&gt;Sialnya sewaktu keduanya melepas segala gumpalan hasrat di dada mereka. Haemi ingin melepas beban nyeri luka hatinya. Nona Pokewati hendak menuntaskan imajinasinya bertarung dengan pemuda penuh imajinasi. Sewaktu mereka hendak melewatkan malam di ranjang spring bed pink di rumah Nona Pokewati, karena kebetulan suaminya lagi bertugas keluar kota, ternyata Bang Birokron pulang mendadak di tengah malam itu. Di tengah pertarungan itu.&lt;br /&gt;“Saya tidak mungkin menahan malu dengan berdiam diri di sini” suaranya serak. Haemi hendak menangis. Tapi buru-buru ditepisnya.&lt;br /&gt;Selama dua tahun ini, ia menghabiskan hari-harinya dengan mendirikan event organiser di Kota Surabaya. Di sana, 176 km dari desanya. Berbekal sisa kemampuan sebagai siswa SMK, ia mengumpulkan beberapa temannya. Satu semester di kota Buaya itu, usahanya cukup berhasil. Ia dapat berkuliah di sana.&lt;br /&gt;“Tapi kenapa kau tidak pamit, atau sekadar ngasih kabar?”&lt;br /&gt;Sayang perjalanan kuliahnya harus pupus. Di semester dua kuliahnya, ia ditimpa nasib sial. Ia ketahuan menggelapkan uang unit kegiatan intra kampusnya. Ia dikeluarkan. Ia pun mesti kembali membangun usahanya demi bertahan hidup. Event organiser yang sempat ditinggalkannya, kini digerakkannya kembali.&lt;br /&gt;“Dan sejak itu Bu...” nafasnya menghela berat. Ceritanya menyimpan kenangan pahit. Matanya menerawang hendak melepas beban yang nyelekit di dadanya.&lt;br /&gt;“Saya mencoba merambah rimba Kota Surabaya. Tapi sayang...” mata Haemi menyelinap di antara celah-ceah rumahnya menangkap bulan. Mulutnya berhenti sejenak. Kata-kata seolah menyingkir untuk diucapkannya.&lt;br /&gt;Sedang ibunya hanya mendengarkannya dengan raut penuh garis-garis campuraduk. Kecewa, iba, sesal membuat airmukanya tercenung rusuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(IV)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;“Haemi! Haemi! Haemi!&lt;br /&gt;Pagi-pagi pintu rumahnya digedor-gedor. Teriakan dan pekikan penuh amarah memenuhi gelembung udara pagi. Matahari menyeruak seperti airmuka ibunya menguar heran.&lt;br /&gt;“Haemi membawa kabur uang Bu Pathimah. Ia menipu beliau. Haemi seorang penipu”&lt;br /&gt;Sosok kekar tampak melemparkan kata-kata dengan ketus. Cerocos mulutnya seperti hendak menumpahkan kesumat di dadanya. Seluruhnya. Sepenuhnya. Tubuh kekar itu berulang mengulang kata-kata kasarnya. Matanya menyala. Nafasnya turun naik dengan kasar. Tubuh kekar itu suami Bu Pathimah, Pak Kalong.&lt;br /&gt;“Tidak mungkin. Haemi tidak mungkin seperti itu. Anakku bukan penipu. Bukan maling” perempuan paruh baya itu meraung. Suara yang dikuat-kuatkannya, hendak menyerang sosok kekar di depannya. Dengan segala daya-upaya perempuan paruh baya itu hendak menangkis segala tuduhan yang ditimpakan pada anaknya. Ia meraung. Ia mengamuk. Ia kalap.&lt;br /&gt;Segala sesuatu yang dapat dipegangnya, dilemparkannya ke kerumunan tetangganya. Tetangganya hanya menanggapi dengan menghindar. Atau tersenyum kecil melihat kelakuan Ibu Haemi yang seperti kanak-kanak.&lt;br /&gt;“Tidak mungkin Haemi menipu. Tidak mungkin ia mencuri uangmu. Haemi dilahirkan dari rahim yang suci. Ayahnya pun keturunan seorang kiai. Tidak mungkin Haemi mencuri” perempuan paruh baya itu terus melengking. Lengkingan yang runcing. Lengkingan yang menyayat telinga pendengarnya. Mengiris-mengiris gendang telinga di dekatnya.&lt;br /&gt;“Tidak mungkin Haemi menipu. Tidak mungkin” suara itu melemah. Beberapa orang memapah perempuan paruh baya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(V)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun dia sudah menghilang.&lt;br /&gt;Kini kedatangannya hanya menyisakan bisik dan gosip. Ibunya sudah dengan segala cara mencoba menepis, tapi nasi sudah jadi bubur. Haemi menjadi sorotan tetangganya. Ia menjadi topik perbincangan yang tiada habisnya. Teman-teman lamanya pun merasa perlu untuk menjaga jarak untuk sekadar menyebut namanya.&lt;br /&gt;Haemi kembali menghilang. Uang Bu Pathimah ditilapnya. Ibunya meradang. Kenyataan ini pun diterimanya dengan dada lapang.&lt;br /&gt;“Haemi, Haemi. Kau kuharapkan menjadi seorang kiai penuh karomah dan magis. Tapi sayang kini kau hampir mirip iblis” seru ibunya menerawang jauh ke langit malam tak berbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lidahwetan, 01 Juni 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8194169263164832698-7731841621704552957?l=www.92maud.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.92maud.co.cc/feeds/7731841621704552957/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/11/haemi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/7731841621704552957'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/7731841621704552957'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/11/haemi.html' title='HAEMI'/><author><name>92maud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15771142033201981403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SjycJmK2AII/AAAAAAAAAAg/FJCJ9UI4WxM/S220/Maud+Khan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/Swp5GsP-XnI/AAAAAAAAAP8/laQxgOnIUGs/s72-c/bulan-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8194169263164832698.post-1673986658140670504</id><published>2009-11-23T03:48:00.000-08:00</published><updated>2009-11-23T04:02:02.332-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen Mereka'/><title type='text'>Merdeka</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/Swp26I-c3hI/AAAAAAAAAP0/koz-qYsNjSM/s1600/merdeka-atau-mati_resize+copy.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 126px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/Swp26I-c3hI/AAAAAAAAAP0/koz-qYsNjSM/s200/merdeka-atau-mati_resize+copy.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407265043825614354" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Oleh: Putu Wijaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari ulang tahun proklamasi kemerdekaan, seorang anak lahir di sebuah kota kecil. Bapaknya, seorang bekas pejuang kemerdekaan, menimang orok itu dengan bangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selamat datang ke atas dunia. Selamat datang di Indonesia, anakku,” kata lelaki yang bahagia itu. “Kau adalah harapanku, masa depanku dan pewarisku. Aku beri kau nama Merdeka dan jadilah kusuma bangsa.Tulis sejarah yang berbeda dari apa yang sudah aku alami di masa lalu. Merdekakan diri kamu dari segala macam penjajahan, jangan seperti bapakmu ini. Bebaskan negeri ini dari kemiskinan. Merdekakan rakyat dari kesengsaraan akibat kezaliman para pemimpinnya sendiri. Jadilah masa depan kami semua!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merdeka kecil, sudah bisa mendengar, tetapi belum bisa menyimak. Ia hanya membuka mulutnya dan tertawa. Bapaknya tersenyum dan berbisik. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Syukur kamu sudah mendengar apa yang aku katakan. Mudah-mudahan nanti, setelah kamu dewasa dan mengerti apa yang aku katakan, kamu masih bisa tertawa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duapuluh tahun kemudian, Merdeka tumbuh dan dewasa. la menjadi seorang anak muda yang gagah. Wajahnya cakap. Otaknya encer. Barangkali juga terlalu cerdas untuk ukuran seusia dia. Merdeka sangat enerjetik dan suka membantah. Teman-temannya semua suka dan segan. Tetapi guru-gurunya sebaliknya. Mereka kesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Merdeka adalah seorang anak yang hebat. Dia jenius. Dia bisa menjadi pemimpin di masa depan untuk negeri ini. Jenis orang seperti Merdeka sangat kita butuhkan di zaman millenium ini. Tapi sayang dia terlalu PD,” kata guru-gurunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Andaikan saja dia lebih rendah hati sedikit, tak ayal lagi dia bisa menjadi harapan kita semua,” lanjut gurunya yang lain. “Karena di masa globalisasi, ketika kita akan bersaing secara terbuka dengan seluruh dunia, kita memerlukan SDM yang canggih. Merdeka adalah contohnya.Tetapi sayang, dia terlalu cepat matang. Di dalam menuntut ilmu, mula-mula yang diperlukan adalah menyerap, bukan bersikap. Kalau belum apa-apa sudah bersikap, sebagaimana ulah Merdeka, kita akan konyol. Kita tidak akan mungkin bisa maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat saja di dalam ilmu pasti, pada dalil satu dan dua kita harus mau menerima saja dulu, tidak boleh membantah. Nah nanti sesudah dalil tiga boleh pertanyakan apa saja dengan logika. Sesudah menguasai ilmu, perkara mau mendobrak atau melabrak, itu terserah. Tapi tidak mungkin memberontak sebelum menguasai. Jadi Merdeka, sudah salah kaprah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merdeka tidak peduli apa yang dikatakan guru-gurunya. Ia lapar ilmu. Ia buka mulutnya lebar-lebar untuk mereguk. Dia tidak peduli sama sekali apa perasaan guru-gurunya. Kalau ia tak setuju, tanpa nertimbangan lagi ia protes. Tidak pandang tempat dan waktu, ia langsung dobrak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai akibatnya, Merdeka terkenal sebagai anak kurangajar. Ia ditakuti tetapi sekaligus dikucilkan. Guru-guru ngeper semua kalau ada Merdeka. Akhirnya karena kasus yang sangat sepele, terlambat bayar sekolah, Merdeka dipecat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika teman-temannya menamatkan pelajaran dan pada me-ngantongi ijazah, Merdeka hanya mengantongi pengetahuan. Tetapi ia tidak kecil hati. Aku hanya memerlukan pengetahuan, aku tidak memerlukan ijazah, kata Merdeka. Dengan bekal kepintarannya itu, ia terjun ke masyarakat dan mereguk hidup yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masyarakat, kenyataan berbeda dengan apa yang dibicarakan di dalam kelas. Walaupun semua orang setuju bahwa ilmu pengetahuan adalah utama, pada prakteknya, yang menentukan orang dapat pekerjaan adalah ijazah. Ke mana saja Merdeka pergi, dia selalu diminta untuk memperlihatkan ijazahnya sebelum mereka mau membuka pintu. Dan waktu mereka tahu Merdeka tak punya ijazah pintu langsung ditutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Boleh ngomong besar tapi mana bukti. Mana dokumen rekomendasi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman-teman Merdeka yang goblok, semuanya mendapat pekerjaan dan jabatan. Bahkan yang dulu lulus karena membeli ijazah dan nodong kepala sekolah, mendapat posisi penting. Merdeka melihat kejanggalan itu dengan jijik. Ia merasa diperlakukan tidak adil. Kontan Ia mencak-mencak, berkoar menggelar aksi protes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi kepada siapa. Ternyata semua orang hanya mengaku menyuarakan keadilan dan kebenaran. Bila waktunya tiba untuk menunjukkan aksi, semuanya punya alasan untuk menghindar. Bahkan surat-surat kabar yang paling vokal, tak berani memuat gugatannya, ketika itu menyentuh orang yang berkuasa yang mampu menyumpalnva dengan duit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalian semua hanya ngomong-ngomong muluk, prakteknya semua dagang. Segala kegombalan yang kalian maki-maki, nyatanva kalian kaji sendin!” teriak Merdeka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merdeka mulai marah dan benci kepada kehidupan, karena hidup berpihak kepada ketidakadilan. la menjadi sinis dan apatis. Dunia yang dibayangkannya sebagai lautan harapan, sekarang sudah menjadi sarang kebobrokan. Masa depan hanya enak dalam obrolan, pada kenyataannya semua kentut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi untunglah tidak semua yang hitam itu hitam. Rupanya di dalam belantara kebrengsekan itu, masih ada orang-orang yang idealis. Setelah kepalanya bonyok ditonjok oleh rasa kesal, Merdeka bertemu dengan seorang yang berpihak kepada kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memang ijazah itu perlu, karena itulah satu-satunya yang bisa jadi pegangan kita untuk memilih orang terbaik. Tetapi diploma sekarang sudah gampang saja dipalsu,” kata orang idealis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi Bung Merdeka, keunggulan yang digaransi oleh sebuah ijazah pun hanya keunggulan macan kandang, sedangkan kita menggarap hidup keras di lapangan yang memerlukan siasat. Itulah yang selama ini lupa diajarkan di sekolah mana pun. Walhasil, Bung Merdeka, jangan merasa kesepian. Aku tidak buta. Aku melihat secara transparan potensimu. Persetan dengan ijazah, bukan orang-orang yang bertopeng ijazah itu yang akan memperbaiki negeri ini, tetapi SDM jenius seperti Ente!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merdeka lantas dirangkulnya. Diberikan tanggungjawab memimpin sebuah proyek raksasa yang menentukan nasib berjuta-juta orang. Merdeka disodori jabatan, kekuasaan dan harapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merdeka kontan sembuh. Darah membara lagi di mukanya. Ia terima jabat tangan itu dan siap berpacu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi apa lacur, pada hari pengangkatannya sebagai panglima proyek, orang yang merangkulnya muncul membawa segepok uang. Dengan muka manis tetapi malu-malu, ia menarik Merdeka ke sudut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Merdeka,” katanya dengan suara orang yang bersalah, “kita semua tahu, setiap orang mencari pekerjaan, untuk mendapatkan uang. Betul tidak, Bung?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merdeka mengangguk. Betul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah, berarti Bung, mereka yang lain itu juga bekerja untuk mendapatkan uang. Kalau uang yang Bung cari itu sudah Bung dapatkan, buat apa lagi pekerjaan. Ya kan? Jadi, lihat ini, aku bawakan Bung duit sekarung. Terima rezeki nomplok ini. Dan serahkan jabatan yang sudah ada di tanganmu ini kembali kepadaku. Karena ada seorang anak pejabat yang memerlukan itu. la punya duit. Banyak sekali. Tetapi ia tidak punya kehormatan karena tidak ada jabatan. la membeli jabatan kamu. Jadi klop! Bung untung dan aku juga untung!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa menunggu jawaban lagi, jabatan itu diambilnya kembali sambil menaruh segepok uang di tangan Merdeka. Sebelum Merdeka bisa mencegah, idealis itu sudah kabur. Merdeka jadi histeris. Uang itu dicampakkannya sambil mengumpat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bangsat! Aku memang perlu uang. Aku tahu untuk hidup orang membutuhkan uang.Tapi aku tidak hidup untuk mencari uang. Aku cari uang untuk hidup. Dan aku hidup untuk menjalankan amanat bapakku untuk membangun bangsa ini. Untuk menjadi manusia yang berarti dan berbuat kebajikan kepada negeri dan rakyatku!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara Merdeka lantang dan jelas. Tapi idealis itu sudah ngibrit entah ke mana. Tinggal Merdeka yang sekarang benar-benar merasa nasibnya sangat sialan. la berteriak-tenak karena tak mampu lagi menahan emosinya. Orang-orang bilang, anak muda itu sudah mulai terganggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu kelihatannya frustasi, Merdeka,” kata seorang sahabat. “Di zaman edan ini, siapa yang tidak frustasi. Kalau kamu terus ikutkan perasaanmu, kamu akan gim. Kamu tidak akan menjadi istimewa, hanya karena kamu gila. Karena semua orang memang sudah gelo sekarang. Jadi lebih baik kamu waras saja. Lawan semua itu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lawan? Lawan dengan apa? Musuhku tidak kelihatan. Kalau ada, aku hajar sekarang juga!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Makanya jangan lawan secara konfrontatif, lawan dengan cara mencintainya. Terima! Pasrah, Merdeka!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak! Aku tidak mau jadi orang Jawa yang nrimo. Itu sudah kuno! Aku manusia baru. Aku bukan proyek feodalisme yang mau saja menjadi budak segala ketidakadilan ini. Aku mau berontak!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak mungkin! Orang gila tidak mungkin berontak. Paling banter kamu akan dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Kalau mau berontak jangan pakai otot, pakai mulut dan diplomasi. Belajar dari para politisi. Untuk menguasai diplomasi pikiran kamu harus tenang. Dan untuk tenang jiwa kamu harus stabil. Untuk membuat emosimu stabil, kamu harus punya seorang pendamping. Dengan kata lain, Merdeka, satu-satunya jalan yang bisa kamu pilih sekarang adalah: kawin. Kawinlah Merdeka, sebelum terlambat!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merdeka terkejut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa? Kawin?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya! Menikah! Apa kamu tidak sadar bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri? Setiap manusia wajib punya teman hidup. Baik untuk diajak bersetubuh maupun untuk berkomplot. Kalau kamu tetap sendiri, kamu akan menjadi manusia separuh yang tidak lengkap. Emosimu akan labil. Dan staminamu hanya sebatas ayam sayur. Jati dirimu akan kropos. Pasti kamu akan cepat tamat. Makanya, cepat-cepat saja, carilah seorang teman hidup. Mesti berkongsi, melawan semua kebejatan dunia ini. Kalau tidak kamu akan terlambat. Coba umurmu sudah berapa sekarang? Jangan terlalu sibuk berjuang, nanti kamu keburu tua bangka dan tidak jadi apa-apa! Apa kamu mau kedaluwarsa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merdeka terkejut. Buru-buru ia berdiri di depan kaca. Lalu dilihatnya sebilah rambut putih berkibar di bulu hidungnya. Garis-garis tua sudah merayap di wajahnya. la tidak semuda yang ia kira lagi. Ia terpaksa menerima, ia hampir basi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu tanpa berpikir panjang lagi, Merdeka mengajak pacarnya nikah. Pacar Merdeka menyambut lamaran itu dengan pekik gembira. Setelah bertahun-tahun dan hampir kehilangan kesabaran, akhirnya Merdeka berani mengambil keputusan. Siap untuk mengambil resiko melepaskan kebebasannya, memasuki penjara suami-istri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi celaka tiga belas. Meskipun dukungan pacarnya seratus persen, calon mertua Merdeka bertingkah. Mereka yang semula menerima Merdeka, tiba-tiba menolak. Alasannya bagi Merdeka sama sekali tak masuk akal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu mau menikah dengan putri tunggalku, Merdeka?” tanya calon mertuanya. “Kenapa? Karena kalian saling mencintai?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul, Pak, kami saling mencintai.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Calon mertuanya tersenyum pahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Merdeka, jangan main-main. Apa kamu tidak tahu, cinta saja tidak cukup untuk hidup? Tak sampai tiga bulan, kamu akan bosan mengisap cinta, lalu kesulitan hidup akan mulai merongrong. Kamu memerlukan lebih dari cinta. Kamu perlu duit dan jabatan. Itulah sumber kesuksesan dan kebahagiaan. Tidak. Kamu tidak bisa menikah dengan putriku, kalau kamu tidak bisa memberikan janji yang baik. Hendak kamu bawa ke mana putri tunggalku yang cantik jelita ini. Buktikan dulu bahwa aku pantas menyerahkan anakku kepadamu, baru ngomong. Jangan suruh aku bersabar dan menunggu. Kalau kamu tidak bisa memberikan jaminan bahwa kamu akan bisa membahagiakan dia jasmani dan rohani, relakan putriku dengan orang lain. Atau jangan-jangan kamu sebenarnya tertarik bukan pada putriku, tetapi kepada warisannya. Kepada kekayaan dan jabatanku. Kalau begitu, maaf anak muda, sekarang juga minggat, tinggalkan rumah ini dan jangan berani kembali, karena aku akan tembak kepalamu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merdeka pingsan. Belum pernah ia menerima kenyataan yang begitu parah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku manusia sial. Aku ditakdirkan menjadi orang gagal,” teriak Merdeka putus asa. Pikirannya benar-benar mulai terganggu. Ia tidak tahu lagi apa yang harus dikatakan, apa lagi yang harus dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya dalam keadaan panik dan terjepit, Merdeka datang kepada seorang dukun. Ya dukun. Kenapa tidak. Meskipun ini zaman millenium, banyak orang masih pergi ke dukun. Para pejabat juga ke dukun. Olahragawan ke dukun. Para politikus ke dukun. Presiden juga ada yang punya dukun. Bahkan beberapa seniman malahan jadi dukun itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dukun memegang tangan Merdeka dan membaca nasibnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebenarnya menurut skenario, kamu ini orang jenius, seperti Pak Habibie, Merdeka,” kata dukun. “Pada dasarnya kamu adalah manusia hebat. Kamu bisa menjadi pemimpin bangsa ini di masa depan. Di dalam tubuhmu mengalir darah kesatria yang berwarna putih.Tetapi sayang pada prakteknya, kamu tidak jadi apa-apa, karena sajenmu kurang!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sajen? Sajen apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu tahu. Segala sesuatu itu memerlukan sajen. Otak saja tidak cukup, kepintaran saja tidak menjamin. Bahkan kelihaian juga bukan kartu kunci untuk membuat kamu sukses. Kamu memerlukan keikhlasan. Kamu harus ikhlas. Ikhlas berarti kamu tulus. Tulus berarti kamu harus rela. Rela untuk berkorban. Kamu harus mengorbankan apa yang dlperlukan. Kamu tidak akan bisa sukses kalau kamu tidak berani berkorban dengan ikhlas, Merdeka!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merdeka terkejut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berkorban? Berkorban apa? Ini sudah zaman merdeka, kita tidak memerlukan pengorbanan jiwa lagi seperti di masa revolusi seperti Bapakku. Kita memerlukan pekerja-pekerja lapangan yang canggih. Dan aku canggih. Aku tidak mau mengorbankan jiwaku. Aku mau berbakti kepada bangsa, negara dan rakyatku. Kamu jangan macam macam, Duk!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tenang, Merdeka, pengorbanan ini bukan pengorbanan fisik. Ini adalah pengorbanan spiritual. Dengan berkorban, tidak berarti kamu akan kehilangan apa-apa. Kamu hanya harus mengikhlaskan dirimu kehilangan namamu. Tukar namamu sekarang. Ganti nama kamu jangan lagi Merdeka. Nama itu terlalu besar, terlalu berat untuk kamu pikul sendirian.Tidak mungkin. Kalau kamu memikulnya, kamu akan terlalu repot sehingga kamu tidak akan bisa berbuat apa-apa. Jadi lepaskan saja. Ganti dengan yang lain. Oper Merdeka itu dengan sesuatu yang lebih ringan. Apa artinya nama. Ya tidak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merdeka tidak setuju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengganti nama? Tidak. Tidak mungkin,” katanya. “Nama ini pemberian bapakku. Dia seorang pejuang yang hebat. Dia orang yang jujur. Dia sudah berjasa kepada negeri ini, tetapi dia tidak punya uang. Dia tidak punya pabrik. Dia tidak punya kekuasaan. Dia hanya punya cita-cita dan konsep. Dan semua itu dia wariskan kepadaku. Aku tidak bisa mengganti apa yang diwariskan oleh orang tuaku begitu saja. Karena itu adalah amanat. Aku tidak mau menjadi manusia durhaka!”&lt;br /&gt;Dukun menggeleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memang susah bicara dengan orang pinter tetapi picik seperti kamu, Merdeka!” katanya sambil mengusir Merdeka supaya pergi, karena pasien-pasiennya yang lain berjubel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merdeka pulang sambil mencak-mencak uring-uringan. Berhari-hari ia bergulat dengan usul dukun itu. Pada hari yang ketujuh puluh, ia kalah. Lalu sambil mengenakan baju batik, ia berangkat ke rumah orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Romo,” kata Merdeka sambil mencium tangan bapaknya yang sudah tua. “Aku datang untuk melaporkan apa yang sudah terjadi di lapangan. Terus-terang aku sudah gagal. Tetapi bukan berarti aku menyerah. Aku terus berusaha. Aku datang bukan untuk minta bantuan. Aku datang hanya untuk meminta restu. Karena aku bebas dari Merdeka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua Merdeka kontan mengernyitkan alisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku ingin mengganti nama yang sudah Bapak berikan.”&lt;br /&gt;”Mengganti nama? Apa maksudmu Merdeka?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dukun bilang, nasibku jadi sial, karena namaku terlalu berat. Kalau aku ganti nama itu dengan nama lain, dalam sekejap aku akan menjadi orang baru yang sukses. Jadi apa salahnya kalau nama itu diganti. Aku juga tidak akan memilih nama sendiri. Aku serahkan kepada Romo untuk memberiku petunjuk.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata orang tua itu sekarang terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu mau berhenti menjadi Merdeka, Merdeka?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya! Kenapa!” bentak orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merdeka tertegun. Waktu kecil la tidak peduli kalau dibentak. Tetapi sekarang la sudah dewasa, sudah jauh lebih pintar dari bapaknya, di samping itu hidupnya sudah pahit, ia tidak mau lagi dibentak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena aku tidak mau terus-menerus sial!” teriak Merdeka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi orang tuanya semakin keras lagi mendamprat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gelo! Tidak!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merdeka takjub.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa tidak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pokoknya tidak!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yaaaaaa!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidakkkkkk!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Brengsek!” teriak Merdeka kelepasan. “Bapak kan tidak tahu apa yang sudah terjadi di lapangan. Aku yang berkutat di sana. Aku tahu apa yang aku lakukan. Aku yang mengalami apa yang terjadi. Sekolahku jebol, gara-gara aku Merdeka. Jabatan-jabatan copot dan luput dari tanganku gara-gara aku Merdeka. Bahkan pacarku direbut orang lain gara-gara aku Merdeka. Dukun juga bilang aku goblok karena aku Merdeka. Aku tidak mau jadi Merdeka lagi. Sudah cukup! Aku tidak mau diperintah terus. Aku mau bebas dari Merdeka! Aku mau sukses, aku mau bahagia, aku mau berhasil, aku tidak mau lagi jadi Merdeka!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Goblok!” teriak Bapak Merdeka sambil menampar anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merdeka terkesima. la melotot memandangi Bapaknya. la belum pernah digebrak seperti itu. Masak putra harapan bangsa disebut goblok dan ditampar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya Bapak Merdeka juga tidak takut. la mendekat dan menghembuskan nafas kesalnya. Lalu mencekek leher Merdeka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Merdeka!” bisik orang tua itu dengan nafas menggebu-gebu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Merdeka, apa kamu kira Merdeka itu nikmat? Apa kamu kira merdeka itu bebas dari segala kesialan. Apa kamu kira merdeka itu berarti kamu akan mendadak jadi kaya dan bahagia. Kamu sudah keblinger! Merdeka itu adalah beban. Selangit beban di atas pundakmu sendirian. Merdeka itu adalah penderitaan. Merdeka adalah sejuta kesengsaraan yang tak putus-putusnya. Merdeka berarti kamu jalan sendirian, kamu tidak punya tuan dan majikan yang akan menolongmu kalau celaka. Merdeka itu berarti kamu harus menghadapi keperihan, kesengsaraan, nasib busuk itu sendiri. Merdeka itu sakit. Sakit yang maha besar. Tapi kamu harus bangga karena kamu yang terpilih untuk memikulnya. Berarti kamu dianggap mampu. Kamu masih dipercaya. Kalau kamu masih dipercaya, berarti kamu masih diperhitungkan. Kalau kamu masih diberikan kesengsaraan, berarti kamu masih hidup. Kamu belum jadi mayat, belum jadi robot, belum mati seperti yang lain, berarti kamu masih merdeka. Goblok kalau kamu mau berhenti Merdeka. Mengerti? Mengerti!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merdeka bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengerti?!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tidak!”&lt;br /&gt;”Ya Tuhan, aku juga tidak mengerti!” teriak orang tua itu lebih dahsyat lagi. Lalu memegang dadanya. Lehernya seperti tercekek. Kemudian mendadak tumbang dan mati di tempat.&lt;br /&gt;Merdeka kebingungan. Ketika sadar, dengan panik ia memeluk bapaknya. Tetapi tiba-tiba saja tangan lelaki tua itu kembali bererak dan mencekek Merdeka. Sambil menangis tersedu-sedu, ia berbisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Anakku, tetaplah Merdeka. Jangan berhenti. Berikan aku janji. Merdeka kamu harus tetap Merdeka, jangan pernah berhenti Merdeka, anakku. Jangan bablas. Tetaplah Merdeka”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan orang tua itu gemetar. Cekekannya semakin lemah, Semakin lemah, lalu perlahan-lahan terlepas. Tubuhnya terhempas la gi ke bumi, melanjutkan mati.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SELESAI.&lt;br /&gt;Karya: Putu Wijaya, Sumber: Horison, No. 2, Februari 2001.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8194169263164832698-1673986658140670504?l=www.92maud.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.92maud.co.cc/feeds/1673986658140670504/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/11/merdeka.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/1673986658140670504'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/1673986658140670504'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/11/merdeka.html' title='Merdeka'/><author><name>92maud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15771142033201981403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SjycJmK2AII/AAAAAAAAAAg/FJCJ9UI4WxM/S220/Maud+Khan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/Swp26I-c3hI/AAAAAAAAAP0/koz-qYsNjSM/s72-c/merdeka-atau-mati_resize+copy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8194169263164832698.post-6754404413531730423</id><published>2009-11-22T21:24:00.000-08:00</published><updated>2009-11-22T21:36:06.384-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen Mereka'/><title type='text'>Sang Pembunuh Syams (In Memoriam Syams)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SwodACGAzVI/AAAAAAAAAPs/i29HA-h3gYA/s1600/dante+graffiti.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 185px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SwodACGAzVI/AAAAAAAAAPs/i29HA-h3gYA/s200/dante+graffiti.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407166189010996562" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;by: Salamet Wahedy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;I&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Syams. Kami memanggilnya. Syams Al-Wahed. Sudah dua tahun, ia telah meninggalkan kami. Ia telah menjadi manusia impian. Banyak hal dan peristiwa yang, tiba-tiba, minta dikenang. ’ee’, logat-gaya bicaranya agak lambat. Matanya yang selalu menampak kuyu. Kebiru-biruan. Pakaiannya ala kadar. ”si charokonx”, begitu kami memanggilnya. Lalu, ia nyengir. Lalu keluarlah filosofi andalannya, ”chasing boleh charokonx, tapi isi tetap tetap nomer settong”. Lalu terurailah dari mulutnya, kata-kata yang puitis. Peristiwa demi peristiwa mengalir ritmis. Entah cerita tentang siapa. Kami tak mengerti. Kami begitu asing dengan nama dan tokoh yang disebutnya. Tapi kami- dengan bahasanya, dengan tuturnya yang meledak, melemah- dibuatnya begitu akrab. Begitu terhibur.&lt;br /&gt;Syams. Satu dari sekian nama yang dipakainya. Suatu kali Kami menemukannya dalam sebuah majalah. Atau el-habib, ketika kami mendengar teman-teman kuliahnya. Atau Bang Slam, panggilan yang dilekatkan anak didiknya. Syams. Satu dari sekian nama yang kami pakai untuk mengenangnya. Sosok yang begitu rupawan, tapi bersahaja. Sosok yang penuh kontroversi, tapi arif dan bijak. Celotehnya, di samping membuat kami mengernyitkan kening, juga memberi sebuah dunia lain, -yang sekali lagi dengan bahasanya yang ritmis, tuturnya yang lemah-lembut, syams membuatnya begitu akrab. Dunia lain, tempat peristiwa yang akrab bagi kami. Sekaligus asing. Dan syams, seperti kebiasaannya, sehabis isya’, selalu kami temukan nongkrong di warung babeh.&lt;br /&gt;”Kita mesti bertanya tentang diri kita. Tentang sejarah yang berjalan atas nama nenek moyang kita” malam itu syams datang dengan gaya yang amat nyentrik. Pakai gelang, kalung, serta anting-anting. ”banyak potongan sejarah ini digudangkan dan diganti dengan cerita birahi para penguasa. Koruptor...” &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;”Semalam mimpi apa Syams? Adi menyela” pakaianmu kayak penyair tidak diakui orang”&lt;br /&gt;”Aku hendak bertemu izrail” seperti angin malam yang menusuk sumsum, kata-kata syams membuat kami terkesiap. Malam itu kami hanya berpandangan dengan mata nanar penasar. Kata-kata yang polos. Tentang kamtian yang tulus. Isyarat yang halus. Tapi kami tidak dapat menangkap bahwa kematian itu, telah ditangguhkannya sendiri. Kematian itu, telah dijemputnya dengan kepala tegak.&lt;br /&gt;Dua tahun, Syams telah meninggalkan warung bapak babeh. Jejaknya tidak hanya minta dikenang, tapi telah menyelipkan kesunyian bersama desir angin malam. Syams mati malam itu. Malam, di mana ia berpakaian amat nyentriknya. Kata-katanya mengandung magis. Tentang nasib petani yang ditemui dan didampinginya mengurus hak-hak tanahnya. Tentang para mahasiswa yang mulai kehilangan jati dirinya. Tentang caleg muda yang terjebak pada euforia kekuasaan semata. Tentang....&lt;br /&gt;Syams mati mengenaskan dan penuh misteri. Tubuhnya tersayat. Potongan tubuhnya berserakan sepanjang selokan. Lidahnya hilang. Matanya copot. Ia mati dibunuh. Jejak ceritanya yang menghibur bagi kami, ternyata begitu runcing dalam kenangan. Pun tokoh-tokoh yang berulang disebutnya: Pak Mahmud yang tanahnya kena gusur, Bu Karti yang merelakan warung kopinya demi mall , atau Dr. Mizoh, M.M yang getol menawarkan diri jadi caleg dengan seribu janji copypaste, K.H. Ali Gili, yang dengan gaya da’i sejuta umat mengajak para pemiarsanya mencoblos gambarnya, atau Moh. Aris, Mahasiswa tekhnik yang jadi kader partai biru-merah, Al-Jaber, Mahasiswa yang nyentrik dan merasa jagoan karena jadi ketua tim sukses pasangan pilpres no. 27 dan banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;”Syams” ia memperkenalkan diri. Wajahnya sayu. Rambutnya awut-awutan. Selain kata-katanya yang rancak, sosok 20-an ini memiliki aura yang sungguh menarik. Tuturnya yang runtut, untaian kalimatnya yang berantai, serta mimiknya yang ekspresif. Apalagi humor dan joke-jokenya yang memecah kebuntuan, bahkan ketegangan.&lt;br /&gt;Malam masih merambat 20.30. ketika kami berjabat tangan. ”sudah dua tahun saya mengadu nasib di kota bratakala ini” matanya berkaca-kaca. Ada tetes bening di pelupuk matanya. Seperti embun yang mulai merembes, dan memenuhi udara dingin rongga dada. Mata yang Memandang kilat matanya terlalu lama, dengan raut yang runcing akan terhipnotis. Terhisap pada pusaran kata-kata. Kubangan welas asih tak tertangguh.&lt;br /&gt;Setiap malam. Setiap pukul 20.30 kami mulai menghabiskan dua pertigamalam kami dengan puntung rokok, secangkir kopi, cerita-cerita remeh orang-orang pinggiran, siasat perang orang-orang besar. Tidak terlewatkan, tentang wanita-wanita yang hilir mudik memasuki memori dan diary kami. ”tanpa bunga revolusi, kita akan sepi. Lalu mati” ia ngakak. Seperti tak ada beban yang perlu dipikirkan, ”tapi siapakah orang-orang revolusioner? Kita? Mereka?” tawanya semakin jumawa. Tawa yang tidak hanya menertawakan keadaan yang berjalan tanpa arah, tapi tawa yang begitu menusuk hatiku. Menusuk ulunya yang paling dalam.&lt;br /&gt;Suatu malam, syams menghilang. Kata Adi, temannya, ia menghadiri acara sastra: baca puisi! ”Sosok yang energik!” seruku dalam hati.&lt;br /&gt;Hilangnya syams memberi gambaran lain akan sosoknya. Tiba-tiba aku memahami segala ucapannya. Kata-katanya yang berangkai, kalimat-kalimatnya seirama dan beruntai, serta kritikannya yang berlambai dan landai. Sesekali aku membayangkan rautnya yang kuyu. Matanya sayu. ”jangan percaya pada siapa pun. Bahkan pada diri kita sendiri, kita perlu mawas. Was-was” wajahnya tanpa ekspresi suatu waktu.&lt;br /&gt;Waktu itu kami memutusakn untuk cangkru’an di cafe arudam, di lantai tiga sebuah mall. ”Dari sini kita dapat menyaksikan kelap-kelip lampu. Gelap dan terang yang berisisian menciptakan nuansa. Lalu malam...” sejenak ia menyeruput es juice-nya” akan membawakan aku sepotong puisi” lalu menyelorohlah ia tentang seribu lembar mimpinya. Aku hanya sesekali menimpali.&lt;br /&gt;”Di Jerman...”. Syams nampak berbinar menghisap rokoknya. ”Ya di Jerman, aku akan membacakan sebuah puisi. Aku akan berkeliling dunia membacakan puisiku. Tentang Utari, yang menjadi kekasih impian. Sebab ia telah memilih suaminya bukan aku. Lalu puisi ’bapakku’, seorang petani yang tiada lelahnya menantang matahari...”&lt;br /&gt;”Tentang aku?” tukasku. Bibirku mengembang senyum. Syams pun mengiya. Sekali lagi diseruputnya minumannya. Dan dihembuskannya asap rokoknya.&lt;br /&gt;”Ya tentang Mahfud. Seorang teman yang setia menemani sepiku. Seorang teman yang menghitung jejak di malam tahun baru. Seorang teman, ah mahfud. Malam itu” cerocos syams begitu puitis. Aku tidak dapat membedakan apakah ia sedang berpuisi atau mengingau” kau tampak gemetar. Bibirmu yang tirus meringis. Menahan dingin yang datang dengan segenap bisanya. seperti daun dini hari. Tubuhmu pun menguar aroma cendana. aroma...&lt;br /&gt;Lalu mengalirlah berbagai angan dan khayalannya. Cita-citanya ingin jadi orang bebas, berpenghasilan tetap. Ia punya istri seperti Utari. Perempuan berjilbab. Pipi bulat telur. Mata seperti kerling tetas air di kejauhan. Dan tutur kata yang halus dan sopan. Dan yang tak dapat dilupakan Syams, rona mukanya ketika ia marah. Di antara celoteh dan seloroh Syams, yang membuat darahku tersirap, adalah sikapnya tentang gerakan mahasiswa. Tentang anak-muda bangsa-negeri ini yang, sepanjang sejarah ikut andil mengawal negeri ini menjadi republik berfikir bebas. ”kalau dulu, suasana dan situasi yang kurang ajar terhadap kita, tapi sekarang kitalah yang kurang ajar pada kesempatan” ujarnya suatu malam ”apalagi di tengah krisis kepercayaan...”&lt;br /&gt;Ah, Syams celoteh dan selorohmu adalah bumbu dapur. Kini aku hanya bisa mengenangmu. Wajahmu yang lugu, tapi penuh semangat yang berkobar. Kata-kata berangkai, tapi penuh tikungan dan kawah terjal. Serta pendirianmu yang memancang bak tembok china.&lt;br /&gt;Tapi di luar itu semua. Terlepas akan kenangan yang kadang menyakitkan. Kadang menyenangkan. Aku hanya menunaikan tugasku. Khayalmu terlalu tinggi. Cita-citamu menjulang meninju langit, Syams.&lt;br /&gt;Akhirnya di malam jumat kliwon. malam yang hujan, yang menandai rapuhnya saton hidupmu, saat kau mengendap kedinginan, sengaja kuambil kesempatan itu. Kesempatan yang akan menyempurnakan segala keluh kesahmu dengan janji tuhanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Perempuan separuh abad, kurang lebih, menatapku dengan mata sembab. Kilatnya penuh gairah dan harapan, yang tiba-tiba liar oleh prahara. Di hadapannya potongan tubuh anaknya semisal fragmen yang menghantui masa-usianya yang kian menua dan lampau. Keriput pipinya menyimpan sisa air tangisnya yang tumpah sejak kabar kematian anak semata wayangnya.&lt;br /&gt;Sejenak aku terenyuh. Rasa bersalah tiba-tiba pun berseliweran di setiap pori-pori dan sendi tubuhku. Ibu separuh abad, Ibu Kunti, merangkulku. Degup dadanya seperti hentakan musik yang bertalu di ruang-ruang diskotik malamku. Dan sengak isaknya seperti ujung kuku jarum menusuk ulu hati. Seperti gunung yang lama tidak meledak, Ibu Kunti menumpahkan segala kehilangan dan kehampaannya ke dadaku. Tubuhku bergetar. Darahku tersirap panas.&lt;br /&gt;”Ibu,..” seruku pelan. ”maafkan aku telah...” kata-kataku tersekat dalam dada. Seperti para pelayat yang ikut berbelasungkawa dengan kebaya hitam, beras, uang dan juga dengan ngaji yaa-sin yang mulai menggerumung di kamar tengah.&lt;br /&gt;Sementara persiapan pemberangkatan jenazah telah menyedot dan menarik perhatian beratus pasang mata, seorang dara berkebaya hitam legam, rambut sebahu, terus memantau gerak-gerikku. Seperti pemburu yang mengintai mangsanya. Rautnya runcing. Bias wajahnya menanarkan aura kejantanan. Aku rikuh. Mungkin inilah sosok perempuan yang memikat Syams, Utari. Sosok yang diceritakannya akan hadir dan menghantui pembunuhnya. Aku bergidik&lt;br /&gt;Kubelai kepala Ibu Kunti. Isaknya kian sengak. Arakan jenazah mulai bergerak. Dan gema kalimat tauhid mendendangkan lagu dingin di hatiku. Di tambah suara isak Ibu Kunti, sendi-sendi tubuhku semakin bergidik. Apalagi sepasang mata tajam si dara itu, yang tidak mau melepasku barang sebentar.&lt;br /&gt;Pemakaman berlangsung syahdu. Pembaca talqin tidak hanya menyudahi bekal bagi si mayit Syams. Tapi ia juga seperti putusan yang ditimpakan padaku. Ada rasa sesal. Tapi juga kesal. Tanpa terasa airmataku juga menetes. Satu-satu. Seperti para pelayat yang mulai pulang.&lt;br /&gt;Kini tinggal Ibu Kunti, aku dan si dara berkebaya legam hitam itu yang termangu. Menghikmati upacara duka yang baru usai. Menikmati cuaca berkabung yang tunai. Lalu Ibu Kunti menatapku dingin. Tatapan yang membuat bulu kudukku berdiri. Lebih dingin dari aroma tubuh Syams. Ia melepaskan rangkulanku.&lt;br /&gt;”Benar kata Syam” suara ibu Kunti lirih ”suatu hari nanti pembunuh anakku akan datang kepadaku. Dan meminta tolong untuk mencincang tubuhnya di bilik suara”&lt;br /&gt;Aku tersentak. Ibu Kunti berlalu dengan lambaian jumawa. Si dara berkebaya hitam legam meremas stiker gambarku. Lalu menginjaknya.&lt;br /&gt;Sedang aku menghunus pisau untuk mereka{}&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*dimuat di surabaya post, minggu 1 Maret 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**Fitriyani El-Mansur: nama pena Salamet Wahedi&lt;br /&gt;Lahir di ujung pulau Madura. Setelah menamatkan sekolahnya di Pondok Pesantren Mathali’ul Anwar, ia tercatat sebagai mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, FBS, Universitas Negeri Surabaya. Karya-karyanya dimuat dan dipublikasikan di Radar Madura, Horison, Majalah Al-fikr, Duta Masyarakat, tabloid kampus GEMA, Majalah Widyawara, Majalah Media, dan lain-lain. Kini tinggal di dusun Ageng RT. 08 RW. 04 desa Pinggir Papas, Kalianget-Sumenep. Nomer Hape: 085645602814&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8194169263164832698-6754404413531730423?l=www.92maud.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.92maud.co.cc/feeds/6754404413531730423/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/11/sang-pembunuh-syams-in-memoriam-syams.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/6754404413531730423'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/6754404413531730423'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/11/sang-pembunuh-syams-in-memoriam-syams.html' title='Sang Pembunuh Syams (In Memoriam Syams)'/><author><name>92maud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15771142033201981403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SjycJmK2AII/AAAAAAAAAAg/FJCJ9UI4WxM/S220/Maud+Khan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SwodACGAzVI/AAAAAAAAAPs/i29HA-h3gYA/s72-c/dante+graffiti.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8194169263164832698.post-5494979282292378929</id><published>2009-11-22T21:12:00.000-08:00</published><updated>2009-11-22T21:20:09.384-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen Mereka'/><title type='text'>Sang Pemulung</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SwobU7Tz2uI/AAAAAAAAAPc/PpB-MeQBdrA/s1600/foto-people.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 189px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SwobU7Tz2uI/AAAAAAAAAPc/PpB-MeQBdrA/s200/foto-people.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407164348943817442" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;by: Salamet Wahedy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenangnya, apalagi menceritakannya pada kalian, sosoknya begitu membebani pikiranku. Bagaimana tidak, sosoknya begitu kontroversial. Kata-katanya ceplas-ceplos. Tapi penuh tekanan dan hikmah. Tingkah lakunya, setali tiga uang dengan ucapannya. Pakaian ala kadarnya. Compang-camping seperti gelandangan lazimnya. Pekerjaannya hanya memunguti kaleng, botol, atau gelas air minum bekas.  Tapi dari gerak-geriknya, ia sosok yang penuh talenta, gesturnya menyimpan benih bergairah, serta rautnya menebar aura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah bagaimana aku mesti menceritakan pada kalian. Sebagai pemungut sampah, ia tampak rapi dan bersih. Sebagai juru warta yang selalu mendongengi kami, ia tak memahami kaidah berita. Sebagai gelandangan, ia memiliki rasa dan karsa. Dianggap penjahat pun, ia jauh dari sosok kriminal. Entahlah siapa dia sebenarnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku hanya seorang pemulung. Pemulung kaleng bekas. Botol dan gelas air minum bekas. Juga Pemulung kata-kata bekas. Peristiwa demi peristiwa yang membekas” ujarnya di suatu pagi. Ia datang padaku saat aku celingukan. Kemudian dituturkannya sepotong hikayat tentang seorang kakek yang hidup dengan satu istri dan empat orang anak. Penghasilannya hanya didapat dari upah penjualan lencak kaju1 yang dipasarkannya. Satu lencak kaju, memberinya tujuh ribu lima ratus rupiah. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kakek yang menyita perhatianku” lanjutnya. Ia bercerita penuh intonasi dan penghayatan. Matanya selalu menerawang jauh, hingga pada detik yang penuh inspirasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Suatu hari”, lanjutnya. ”Aku berkesempatan bertemu dengannya. Wajahnya lusuh, tapi tidak menampakkan aura yang lumpuh. Tuturnya lembut. Kilat matanya penuh imajinasi. Sesekali ia tersenyum. Apalagi ketika mendengar berita huru-hara, senyumnya semakin menampakkan kematangan. Senyum yang mengembang dari mental kokoh”, ia terus bercerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sela-sela ceritanya, ia menegaskan makna dan hikmah setiap kejadian ‘penting’. Ceritanya mengingatkan aku akan nenek. Nenek yang selalu berdongeng menjelang tidur. Dongeng yang selalu diterjemahkan: buah apa yang bisa kita petik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan seperti kebiasaannya, ia selalu mengakhiri ceritanya dengan sebait ucapan filosofis.”Aku tidak makan sama manusia. Aku makan pada Tuhanku” tegas kakek itu, ujarnya dengan tatapan sayu. Sunggingan senyumnya seperti hendak menusuk dada pendengarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, mungkin ia pendongeng? Tapi aku selalu dihinggapi keraguan, kegamangan setiap menebak dirinya. Namanya pun, aku selalu sangsi: Kron, Danto, Cobik, Centong, dan sederet nama lainnya. Aku selalu ditertawakan setiap kali memanggilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah apalah sebuah nama. Mengenang Shakespeare terlalu lapuk”, selorohnya. ”Sebagai doa, ia terlalu singkat”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tertawa. Tawa yang membangkitkan gairah. Aku mengenangnya karena tawanya yang berteknik ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali pertama aku menemukan namanya di sebuah halaman koran: Kron! Puisi-puisinya begitu rancak. Puisi yang lahir dari kejernihan. Puisi yang tidak menyita kening berkerut. Puisi yang bersahaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali pertama aku bertemu dengannya, aku juga mengesankan bahwa ia seorang penyair. Mungkin juga sastrawan. Tapi setelah pertemuan kedua kalinya, kesanku berbeda lagi. Petuah-petuahnya, bahkan ide-ide yang ditungkannya dalam cerita-ceritanya, menandaskan keyakinanku akan sosoknya yang lain: kiai atau da’i, atau bahkan pemangku adat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pesan apa Mang?”, suara Bu Dango membuatku tergeragap. Aku angkat mukaku. Dan kulihat sumringah Bu Dango secerah pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah baca cerpen tentang aku?” suara Bu Dango menampakkan kebanggaan. Binar matanya memancar bahagia. “Warung tepi Kali, judulnya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kron itu pemuda yang hebat, Mang” sejenak Bu Dango duduk di dekatku. Tangan ringkihnya meletakkan kopi susu pesananku.”Suatu sore ia datang padaku. Ia utarakan niatnya untuk berbagi cerita denganku. Aku pun bercerita” Bu Dango menerawang jauh. Kata-katanya seperti tetasan hujan. Begitu ritmis. Meski sesekali laksana hempasan ombak menghantam karang. Tidak karuan. Kata-kata yang terus berletusan dari bibir keriputnya. Legam dan berkerut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku akui, cerita Kron tentang Bu Dango sungguh menggugah. Kehidupan orang cilik. Seorang penjaga warung. Pendapatan rata-rata 20 ribu rupiah per hari. Tanggungan keluarga lima orang. Disuguhkan lewat narasi yang runtut. Bahkan bumbu kesewenang-wenangan penguasa pada orang cilik seperti Bu Dango, semisal penggusuran warung Bu Dango yang sudah ketiga kalinya, menyegarkan kilasan ingatan kita akan realita yang biasa direkam siaran televisi. Siaran bernuansa berita dan tragedi. Masih berdasar pengakuan Bu Dango, juga sedikit pendapatku, Kron kadang-kadang seperti para pengarang ‘kiri’. Di sini pun, aku pun curiga: jangan-jangan Kron penganut paham komunis! Kalau ya, apakah ia salah? Apakah ia tidak boleh mengeluarkan pendapatnya tentang diorama hidup yang suram dan penuh intrik para bandit ini?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Meski omongannya terasa beraroma kiri, Kron juga shalat” tepis Bu Dango buru-buru. Lalu lanjutnya, “Kron memiliki kepekaan yang tidak dimiliki orang sebarangan. Tidak hanya aku yang diangkatnya dalam cerita-ceritanya. Kasus Bu Wiwit, tetangga sebelah ibu, selesai berkat tulisan Kron. Ia tidak pandang bulu membantu orang. Ketulusannya dalam membantu orang seperti kami, telah terbukti. Waktu ia mendampingi Bu Aslan…” sejenak Bu Dango menggantung ceritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cerita apa ya?” Pak Kandeng mampang di ambang pintu. Ia memesan kopi item dan sebatang rokok. “Cerita tentang Kron, toh?” Pak Kandeng mengelap keringat yang menetas di dahinya. “Kron tidak hanya peka. Ia begitu halus dan tulus menerjemahkan fragmen hidup. Ia cerdas dan tangkas menanggapi. Pendapat-pendapatnya tidak asal…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nggak makan Pak? Suara Bu Dango dari dapur memotong kata-kata Pak Kandeng. Pak Kandeng tersenyum kecil. Lalu ia memutuskan tidak makan. Lalu melanjutkan kenangnya akan sosok Kron, “tafsir Al-Qur’annya juga fasih. Ia mampu menangkap dan menerangkan isinya amat detailnya. Amat terangnya bagi kami yang tidak tahu-menahu apa-apa” tawa Pak Kandeng berderai renyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah Kron! Perpisahan dengannya, tidak mengurangi akan kehadiran sosoknya. Ia tetaplah sosok yang kontroversi sekaligus menyisakan fenomena kekaguman. Lima hari tidak bertemu dengannya, ternyata referensi tentangnya begitu berlimpah ruah. Referensi yang membuatku semakin ragu dan gamang untuk menebak dan menceritakannya secara pasti: siapa Kron sebenarnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak bisa menceritakannya secara pasti. Belum bisa! Keraguan dan kegamanganku semakin bertumpuk. Pencarianku akan siapa sebenarnya dirinya, hanya menambah kabur pemahamanku. Tapi hal yang perlu kalian ingat, berdasar simpulanku: Kron orang penuh misteri! Di mataku dan di mata orang-orang sepertiku:Bu Aslan, Bu Dango, Pak Kandeng, Bu Wiwit, Kron sosok yang gagah, berani. Ia tak hanya pahlawan. Bahkan kami diam-diam mengimpikannya bak seorang nabi: penuh pencerahan dan totalitas kepekaan sosialnya. Sebaliknya, di mata orang-orang yang jadi lawan kami: penguasa, pemilik modal, Kron adalah ular yang menyimpan bisa, yang sewaktu-waktu akan mematikan mangsanya, lawannya: lawan kami!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti pagi ini, kejanggalan diri Kron terpampang di tengah kota. Di tengah alun-alun. Ia telah membuat penguasa kota marah. Ia digantung di tengah alun-alun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuhnya compang-camping. Ceceran darah mengering di sekujur pakaiannya. Tapi bukan Aroma amis yang menyeruak sampai jarak lima puluh meter. Seperti dipenuhi semerbak bunga setaman hidungku, saat aku mendekat. Tubuh Kron begitu tirus. Ringkihnya lirih. Suaranya pelan. Sangat pelan. Dan di sekelilingnya, orang-orang tersedu. Mata mereka sembab. Orang yang berbaju putih. Di bawah kelabu langit, gerombolan mereka menguar cahaya. Tubuh Kron menjelma mercusuar di tengah mereka. Tubuh yang tergantung di tiang berlumur darah. Sungguh parade magic!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dosa apakah yang kau perbuat kawan?” bisikku di telinganya yang menggema. Telinga yang seolah sarang lebah. Suara-suara yang bertahan di gendang pendengarnya, suara-suara yang begitu akrab. Begitu dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dosaku hanya pemulung kawan” senyumnya bangga! Kedua tapuk matanya pun mengisyaratkan perjalanan panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, perjalanan panjang. Sejak saat itu, sejak Kron melempar senyum pada kelabu langit, kelam malam. Sejak Kron menghembuskan nafasnya di tiang gantungan, kami pun paham akan posisi kami: Para pemulung!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lidahwetan, maret 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Lencak kaju: dipan kayu/ tempat tidur yang terbuat dari kayu.&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8194169263164832698-5494979282292378929?l=www.92maud.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.92maud.co.cc/feeds/5494979282292378929/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/11/sang-pemulung.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/5494979282292378929'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/5494979282292378929'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/11/sang-pemulung.html' title='Sang Pemulung'/><author><name>92maud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15771142033201981403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SjycJmK2AII/AAAAAAAAAAg/FJCJ9UI4WxM/S220/Maud+Khan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SwobU7Tz2uI/AAAAAAAAAPc/PpB-MeQBdrA/s72-c/foto-people.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8194169263164832698.post-5683636296011072446</id><published>2009-11-22T21:05:00.001-08:00</published><updated>2009-11-22T21:06:55.380-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Maud Khan'/><title type='text'>Awas!!! Fitna, Fitna dan Fitnah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SwoYLP8UkvI/AAAAAAAAAPU/5ZiTDce8BoQ/s1600/fitna.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SwoYLP8UkvI/AAAAAAAAAPU/5ZiTDce8BoQ/s200/fitna.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407160884148867826" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sebelumnya Geert Wilders sudah mengingatkan kita lewat filmnya yang spektakuler. Film berjudul Fitna yang sempat menjadi kontroversi beberapa waktu lalu merupakan pukulan berat bagi umat muslim di seluruh penjuru negeri, namun hendaknya mampu dijadikan pelajaran berharga dalam mempersiapkan diri menyambut ’fitna-fitna’ selanjutnya. Terutama persoalan Ahmadiyah yang tak kunjung usai.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin saya merupakan salahsatu dari sekian bangsa Indonesia yang kurang mengindahkan ’himbauan’ pemerintah, yaitu himbauan untuk tidak menonton film ’fitna’ yang sempat menjadi persoalan dunia muslim beberapa waktu lalu. Terus terang saya akui sangat penasaran, sebab tanpa tahu seluk beluk inti permasalahan tentunya sungguh kurang bijak jika kita terlalu cepat mengambil tindakan (take action) atas munculnya film tersebut. Dan perlu disadari bahwa pengambilan keputusan semacam itu ¾yang tergesa-gesa¾hanya akan menambah mudharat bagi umat. Jika kita kaitkan dengan keadaan umat muslim di Indonesia sekarang, tentu sangatlah berbahaya karena masyarakat akan mudah untuk terpancing oleh provokasi sesaat yang menyesatkan tersebut sedangkan di dalam negeri rakyat masih sangat disibukkan dengan persoalan-persoalan aliran ’sesat’ yang hingga kini belum juga reda. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya jika dikaji lebih jauh, film yang dibuat oleh salah satu pejabat parlemen negeri Kincir Angin tersebut sangat jauh dari kesan keislaman ¾sedikitpun¾ bahkan saya menganggap film itu merupakan kumpulan kejahatan sosial yang terjadi dan terangkum secara mbulet serta ngawur. Lebih dari itu, tanyangan film berdurasi 16 menit tersebut menunjukkan kelemahan otentisitas dan relevansi dari pembuat film itu sendiri. Tidak diragukan lagi, hanya kaum awam-lah yang akan mudah terpancing dengan tanyangan semacam itu, selebihnya sikap arif serta bijaksana lebih dibutuhkan menyikapi dilema ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang Menjadi Pegangan....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak diragukan lagi, bahwa Islam turun ke muka bumi adalah sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmat-an li al ’alamin). Sebab nabi adalah diutus untuk seluruh umat manusia secara “universal” artinya tidak hanya untuk kaum muslim saja, dan umat non-muslim sekalipun akan mampu menilai serta merasakan apa yang telah diwariskan oleh Islam kepada sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita kembalikan lagi pada Al-Qur’an maka kita akan menemukan semua jawabannya. Di dalam Al-Qur’an Surah pertama (Al-Fatihah) dikatakan “segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam” (QS. 1: 2) menunjukkan bahwa Tuhan melindungi sekalian alam ini dengan segala sifat-sifatnya yang Agung. Tidak mungkin Tuhan kemudian mengajarkan kekerasan kepada sesama. Meskipun kemudian Geerrtz menunjukkan beberapa ayat perang dalam film fitna tersebut (terlepas dari kekurangpahaman Geert Wilders terhadap penafsiran ayat-ayat tersebut), namun ayat kedua Al-Fatihah ini memiliki keotentikan makna yang tidak dapat disangkal sebagai ummul qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hematnya, semua agama tidak akan mengajarkan kekerasan, Apalagi Islam yang (bagi saya) merupakan agama penyempurna dari agama-agama terdahulu (yahudi-nasrani). Sehingga kekerasan apapun yang terjadi dalam agama adalah bukan atas nama agama (Islam).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah Umar bin Khattab sendiri mati di ujung pedang seorang muslim? Tetapi kemudian hal ini bukan diangggap sebagai penodaan si pembunuh terhadap Islam, apalagi yang menjadi persoalan hanyalah permasalahan ekonomi tentang pabrik gandum yang di miliki oleh Abu Lu’lu’, sang pembunuh khalifah. Bukankah Reformasi Gereja yang terjadi pada abad ke-16 sebagai ketidakpuasan penganut Katolik sendiri terhadap dogma-dogma Gereja yang dianggap kaku lebih bisa dianggap sebagai keterpurukan suatu agama? Termasuk Gerakan Revolusi Islam Iran yang terjadi pada 1979 M. Bagaimana dengan pelakunya? Mereka kedua-duanya masih dianggap sebagai pahlawan, bahkan hingga sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika demikian, apa yang dilakukan Geert dalam mencari titik celah dari suatu agama tentunya lebih mudah daripada mengorek kelemahan apa yang menjadi kepercayaan dan keyakinan kita sejak kecil. Kita juga tidak akan sulit jika ¾misalnya¾ membuat film dokumenter yang setara atau bahkan lebih buruk. Tetapi hal tersebut bukanlah solusi, karena permasalahan belum tentu selesai hanya dengan pertarungan adu film yang tidak akan ada habis-habisnya. Sebab setiap agama (baca: pemeluk) pasti memiliki kebobrokan yang disebabkan kurangnya konsistensi dalam menjalani sebuah agama secara baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekerasan serta teror tidak boleh dipandang sebagai bagian dari agama. Sejauh dan seburuk apapun yang dilakukan personal maupun kelompok dalam upaya kejahatan lain dengan skala tertentu tidak boleh disangkutpautkan dengan masalah keyakinan. Berbagai macam aspek seperti politik, ekonomi, sosial, dan budaya merupakan penyebab utama terjadinya perpecahan umat di dunia meskipun pada tidak jarang akhirnya mengerucut pada soal keyakinan. Mengapa demikian? Sebab dalam kelompok agama, rasa fanatik serta ’send of be longing’ sangatlah besar bahkan tidak terbatas sehingga paling mudah jika kekuatannya digunakan untuk kepentingan beberapa kelompok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah telah membuktikan, bahwa peperangan panjang yang terjadi selama kurang lebih dua abad (1091-1295) yang dikemas dalam Crusade War (perang salib) terlepas dari orientasi sebagai perang yang mengatasnamakan agama ternyata tidak dipungkiri merupakan perang yang berujung pada permasalahan aset-aset ekonomi. Karena itu sejak dikuasainya Konstantin oleh Bani Seljuk (Turki Usmani) bangsa Eropa dituntut untuk mengambil inisiatif lain dengan mengadakan ekspedisi samudra dalam menemukan wilayah-wilayah baru. Ekspedisi ini berupaya untuk menemukan wilayah-wilayah baru untuk melancarkan serangkaian kegiatan ekonomi dengan bangsa Timur yang terputus. Terlebih-lebih perang yang mengakibatkan trauma serta permusuhan berkepanjangan antara kedua belah pihak ini telah memicu kebencian yang jika terkena percikan sedikit saja akan menimbulkan masalah yang tak kunjung reda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai Kaum yang Beragama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah bukan saatnya kita di era global seperti ini terlalu membesar-besarkan hal ’sepele’ ini untuk diperdebatkan. Sebab terlalu membuang-buang tenaga dan pikiran. Sudah waktunya kita berinstropeksi. ”adakah yang salah dengan agama kita?” jika tidak ¾dan tentunya pasti tidak¾ maka perlu kita pertanyakan lagi ”adakah yang salah dengan kita?”. Jika ini yang menjadi pertanyaan, maka jawabannya harus kita tunjukkan kepada mereka (yang atheis maupun yang tak perduli terhadap agama) bahwa inilah kita! Yang mampu merubah sejarah dunia, mampu memberikan yang terbaik kepada seluruh negeri secara universal. Sebab jika tidak, bukan sesuatu yang mustahil jika kaum beragama pada akhirnya akan menyusut dan harus kalah dalam kompetisi global.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya bagi kaum muslim khususnya di Indonesia hendaknya ’berterima kasih’ atas apa yang dilakukan oleh Geert. Bagaimanapun juga ia telah mengingatkan kepada kita tentang pentingnya persatuan dan kerukunan sesama muslim, termasuk pentingnya memperbaiki citra diri kita masing-masing sebagai pemeluk agama mulia ini. Dan yang perlu menjadi perhatian serius. Di negeri ini, relegiusitas merupakan momok yang hingga sekarang masih dipegang teguh. Berbagai persoalan yang menyangkut agama sangat rentan untuk menimbulkan konflik. Baik itu penodaan, pengingkaran ataupun pengambilan kepentingan dalam agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan Ahmadiyah yang hingga kini belum juga usai. Hendaknya dijadikan pelajaran berharga. Bahwa kita sedang diuji. Mampukah kita menghindari apa yang dikatakan Geert sebagai ’fitna’ itu? Bisa jadi kita yang selama ini meninggikan dan mengelu-elukan Islam justru menenggelamkan dan menodai agama kita. Sebab bukan tidak mungkin jika kepentingan-kepentingan yang menyangkut politik ataupun ekonomi tersembunyi dibalik hiruk pikuk Ahmadiyah ini. Dan dari sini bisa kita lihat, bagaimana konsistensi pemerintah untuk tetap berpegang pada UUD 45 sebagai landasan konstitus tanpa harus mengurangi skala dari aspirasi massa ataupun sekelompok ormas dalam menyikapi Ahmadiyah yang diaanggap sesat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, 5 Juni 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8194169263164832698-5683636296011072446?l=www.92maud.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.92maud.co.cc/feeds/5683636296011072446/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/11/awas-fitna-fitna-dan-fitnah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/5683636296011072446'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/5683636296011072446'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/11/awas-fitna-fitna-dan-fitnah.html' title='Awas!!! Fitna, Fitna dan Fitnah'/><author><name>92maud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15771142033201981403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SjycJmK2AII/AAAAAAAAAAg/FJCJ9UI4WxM/S220/Maud+Khan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SwoYLP8UkvI/AAAAAAAAAPU/5ZiTDce8BoQ/s72-c/fitna.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8194169263164832698.post-7913303496714441309</id><published>2009-11-22T21:03:00.001-08:00</published><updated>2009-11-22T21:04:39.321-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Maud Khan'/><title type='text'>Saatnya Mahasiswa Kembali Bangkit</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SwoXwa8CA8I/AAAAAAAAAPM/qx9JEiRHN5Q/s1600/mahasiswa.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 180px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SwoXwa8CA8I/AAAAAAAAAPM/qx9JEiRHN5Q/s200/mahasiswa.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407160423243973570" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Berdirinya Budi Utomo pada 1908, Pencetusan Sumpah Pemuda 1928, serta Peristiwa Reformasi tahun 1998 Membuktikan Bahwa Peran Mahasiswa Tidak Akan Pernah Mati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh: Mahfud&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam berbagai kesempatan telah banyak dikemukakan, bahwa mahasiswa merupakan agent of change/agent of control. Peristiwa 1998 yang merupakan unsur klimaks dari perjuangan mahasiswa di Indonesia telah menunjukkan bukti-bukti tersebut. Dalam kenyataannya, peran mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa yang berpendidikan dan berpengetahuan juga tidak dikesampingkan di sini. Gerakan mahasiswa 1998 yang berhasil menghimpun kekuatan bersama rakyat (social force) dan mampu menggulingkan rejim Soeharto telah membuka pengetahuan baru kepada kita. Ledakan-ledakan yang terjadi sejak tahun 1908 dengan berdirinya Organisasi Budi Utomo sekaligus dimulainya era perjuangan baru bangsa Indonesia, kemudian pada Oktober 1928 dengan adanya Sumpah Pemuda merupakan suatu pembuktian bahwa tanpa mahasiswa, Indonesia tidak akan pernah ada!! Sekali lagi Indonesia tidak akan pernah ada!!&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penegasan kembali, bahwa perjalanan pasca kemerdekaan baik pada masa ‘Orde Lama’ maupun Orde Baru meskipun tidak terlihat kemampuan yang menunjukkan adanya kemampuan“problem solving” tetapi setidaknya mampu membentuk suatu kebersamaan “solidarity making”. Dan efektifitas dari keterbatasan action semacam ini sekalipun belum mampu menghasilkan result yang sangat baik (sesuai harapan) tetapi setidaknya mampu melenyapkan kemungkinan yang lebih buruk. Dan atau hal terkecil yang paling kita rasakan adalah suasana baru (a new era), baik setelah turunnya Soekarno dengan Supersemar maupun setelah lengsernya Soeharto tahun 1998. Sebelum dilanjutkan pada bahasan selanjutnya mungkin sedikit “flashback” di atas mampu menggugah semangat kita ke depan, bahwa apa yang terjadi pada “difficult phases” tersebut bukan suatu keniscayaan bagi kita untuk mewujudkannya kembali apa yang mereka kerjakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak kalangan menilai bahwa reformasi 1998 merupakan gerakan massa terbesar dalam sejarah Negara kita. Rejim Soeharto yang telah berkuasa selama 32 tahun dengan otoriteristik-nya, serta keterbatasan ruang gerak cendekiawan oleh todongan senjata karena kuatnya militer pada saat itu. Ternyata mampu digulirkan oleh kalangan demonstran yang terdiri dari para mahasiswa serta masyarakat dan tanpa senjata. Dan apakah gerakan ini menghasilkan? Ya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reformasi 1998 memang tidak dapat sepenuhnya lebih dibandingkan dengan moment-moment besar sebelumnya. Apalagi melihat kenyataan saat ini di masyarakat yang penuh dengan euphoria serta turunnya nilai-nilai moral dalam masyarakat. Ekonomi yang semakin mengkerdilkan nasib wong cilik serta semakin merajalelanya budaya korupsi sebagai warisan turun-temurun rejim Orba. Sungguh bukan itu yang kita harapkan dari reformasi 1998 yang gede itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa sedikit mengurangi rasa hormat atas jasa para pejuang 1998 tersebut. Kita sebaiknya sadar bahwa ini merupakan cambuk bagi kita., bahwa perjuangan 1998 bukan akhir dari segala-segalanya. Bahwa saatnya kita berjuang, membentuk kembali jiwa-jiwa pahlawan yang telah hilang dari peredaran bangsa Indonesia , guna membangun pribadi civitas academica yang dinamis dan progresif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menandai hadirnya masa-masa yang semakin suram ini, krisis multidimensi yang berkepanjangan, terutama krisis moral dan etika. Keadaan ini semakin dipersulit dengan komposisi mahasiswa yang pasca reformasi 1998 mengalami“low environment”. Sudah saatnya para mahasiswa bangkit tanpa menunggu apa yang akan terjadi di kemudian hari. Persoalan-persoalan bangsa ini yang semakin pelik, ditambah berkurangnya perhatian pemerintah karena terlalu banyaknya permasalahan yang harus dipecahkan menuntut kita untuk turut serta membuat perubahan baru, gerakan baru serta semangat yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tipe Perjuangan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tidak salah jika selain disebut sebagai agent of change, mahasiswa juga sering dikenal sebagai civitas academica. Hal ini menunjukkan betapa urgen-nya posisi mahasiswa dalam proses perjalanan suatu bangsa. Sebab selain sebagai generasi yang mampu bergerak progresif dan revolusioner, mahasiswa juga memiliki kemampuan untuk berpikir dinamis, kritis tetapi logis. Sehingga dalam menyikapi suatu persoalan bangsa hendaknya mampu memilah skala prioritas untuk menyusun kerangka arah perjuangan. Pimilihan unsur strategi ini sangatlah penting mengingat gejolak serta kondisi bangsa yang terus-menerus mengalami perubahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di zaman pembangunan seperti sekarang ini, tentu yang lebih dibutuhkan adalah otak-otak yang mampu bekerja secara teknis, bukan sekadar bicara, retorika-retorika panas dan menggairahkan, terlebih-lebih kontak fisik. Cara-cara lama semacam itu mungkin masih cukup diperlukan (namun dalam skala relatif kecil) mengingat kecakapan utama yang menjadi kebutuhan saat ini adalah kecakapan “problem solving” bukan sekadar “solidarity making” seperti yang terjadi di masa-masa lalu. Artinya pribadi yang ulet, tekun, dan siap saing adalah lebih dibutuhkan saat ini daripada hanya sekadar ‘jargon-jargon palsu’ yang setiap harinya selalu memenuhi tampilan layar televisi serta halaman-halaman utama surat kabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi yang sama, Dr. Nurcholish Madjid (semoga rahmat Allah bersama beliau) pernah menulis bahwa “Model (perjuangan berkobar lewat pidato-pidato panas dan retorika bombastis) ini meskipun barangkali menarik untuk orang awam tetapi perannya dalam mencari pemecahan masalah masyarakat, umat, bangsa, dan negara sangat kecil”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini membuktikan betapa kerangka berpikir yang strategis sangat sekali diperlukan untuk memecahkan masalah suatu bangsa. Inilah saatnya untuk mulai mengubah diri, agar tidak selalu berpangku tangan. Sebab sudah merupakan tanggungjawab kita sebagai insan akademis untuk melakukan perbaikan terhadap sistem (bukan penghancuran).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, peran mahasiswa sebagai social transformator dalam perubahan harus memiliki orientasi yang jelas. Sebab tidak menutup kemungkinan, gerakan mahasiswa hanya akan dijadikan alat oleh elite politik terutama adanya indikasi saling tunggang-menunggang antar keduanya. Tidak dapat disangkali bahwa baik sebelum maupun sesudah runtuhnya rejim Orba banyak gerakan mahasiswa yang masih memiliki kebergantungan terhadap kaum elite (terutama parpol). Hal ini tentunya akan sangat sulit untuk menyatukan konsep-konsep maupun pemikiran-pemikiran ke arah yang sama sebab setiap organ memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Itulah sebabnya gerakan mahasiswa pada masa-masa sekarang ini cenderung tidak memiliki kemampuan yang penuh untuk berpikir dinamis, kritis dan logis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghilangkan sikap apatis mahasiswa sebagai ‘tugas tambahan’ yang perlu diperhatikan memang bukan hal yang mudah namun tetap menjadi suatu keharusan. Begitupula pembentukan gerakan mahasiswa yang independent secara hakiki, artinya tidak bergantung kepada apapun dan siapapun. Sebab paradigma-paradigma untuk tidak ambil bagian dalam upaya “berdemokrasi sehat” akan mengakibatkan alpha-nya pihak pemerintah dalam mengemban amanah dan kewajiban mengurus umat. Jika pada Reformasi 1998 kalangan mahasiswa mampu memunculkan musuh bersama serta menyongsong misi mengembalikan kedaulatan rakyat maka sekaranglah saatnya untuk kembali meluruskan arah kedaulatan serta hak-hak rakyat yang mulai tercecer. Jika saat reformasi kita memiliki musuh yang jelas yaitu rejim Orba, maka pada fase kali ini kita dihadapkan pada musuh yang lebih berat, yang tak terlihat, dan sangat menyengsarakan, bahkan tikus-tikus penentang Orba di saat reformasi sekalipun bisa menjadi musuh yang sangat mematikan bagi pergerakan. Oleh sebab itu, independensi dari masing-masing gerakan mahasiswa amat diperlukan dan harus dikembalikan dalam rangka pengembalian harga diri serta kehormatan mahasiswa dan untuk pemecahan permasalahan bangsa. Sudah saatnya, gerakan-gerakan ini mulai melepaskan diri secara substansi dari kongkongan politik praktis apalagi ketergantungan akan modalitas yang menimbulkan perpecahan sesama gerakan. Akhirnya diharapkan mahasiswa mampu memadukan serta menyatukan visi-misi dalam koridor yang jelas dan tersistem agar mampu menghasilkan output yang maksimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di moment yang besar ini, mari sejenak kita jadikan renungan bersama:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa di masa lalu, tepatnya tahun 1908 berani mengubah haluan perjuangan bersenjata (yang sebelumnya bersifat kedaerahan) menjadi perjuangan berskala nasional yang lebih halus dengan dibentuknya organisasi Budi Utomo. Kemudian 20 tahun berselang giliran mahasiswa kembali menorehkan sejarah awal ‘pembentukan’ bangsa Indonesia yang dikenal dengan Sumpah Pemuda. Selang 80 tahun setelah Sumpah Pemuda, tepatnya Mei 1998 giliran mahasiswa kembali mencapai prestasi puncaknya dalam memperjuangkan kebebasan rakyat melalui gerakan Reformasi-nya. Sudah saatnya kita mengukir sejarah baru. Menghilangkan sikap apatis mahasiswa. Begitupula pembentukan gerakan mahasiswa yang independent secara hakiki, artinya tidak bergantung kepada apapun dan siapapun. Sebab paradigma-paradigma untuk tidak ambil bagian dalam upaya “berdemokrasi sehat” akan mengakibatkan alphanya pihak pemerintah dalam mengemban amanah dan kewajiban mengurus umat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika pada Reformasi 1998 kalangan mahasiswa mampu memunculkan musuh bersama (common enemy) serta menyongsong misi mengembalikan kedaulatan rakyat maka sekaranglah saatnya untuk kembali meluruskan arah kedaulatan serta hak-hak rakyat yang mulai tercecer. Jika saat reformasi kita memiliki musuh yang jelas yaitu rejim Orba, maka pada fase kali ini kita dihadapkan pada musuh yang lebih berat, yang tak terlihat, dan sangat menyengsarakan, bahkan tikus-tikus penentang Orba di saat reformasi sekalipun bisa menjadi musuh yang sangat mematikan bagi pergerakan. Oleh sebab itu, independensi dari masing-masing gerakan mahasiswa amat diperlukan dan harus dikembalikan dalam rangka pengembalian harga diri serta kehormatan mahasiswa dan untuk pemecahan permasalahan bangsa. Sudah saatnya, gerakan-gerakan ini mulai melepaskan diri secara substansi dari kongkongan politik praktis apalagi ketergantungan akan modalitas yang menimbulkan perpecahan sesama gerakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya , 20 Juni 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maud Khan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8194169263164832698-7913303496714441309?l=www.92maud.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.92maud.co.cc/feeds/7913303496714441309/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/11/saatnya-mahasiswa-kembali-bangkit.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/7913303496714441309'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/7913303496714441309'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/11/saatnya-mahasiswa-kembali-bangkit.html' title='Saatnya Mahasiswa Kembali Bangkit'/><author><name>92maud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15771142033201981403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SjycJmK2AII/AAAAAAAAAAg/FJCJ9UI4WxM/S220/Maud+Khan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SwoXwa8CA8I/AAAAAAAAAPM/qx9JEiRHN5Q/s72-c/mahasiswa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8194169263164832698.post-5157146778565965705</id><published>2009-11-22T21:00:00.000-08:00</published><updated>2009-11-22T21:01:31.631-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Maud Khan'/><title type='text'>BBM naik Lagi???</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SwoXGc0rMuI/AAAAAAAAAPE/ABBADzM4iAI/s1600/BBM+naik+copy.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 152px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SwoXGc0rMuI/AAAAAAAAAPE/ABBADzM4iAI/s200/BBM+naik+copy.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407159702195483362" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sementara pasokan minyak nasional dan dunia terus-menerus berkurang, pemerintah harus menyiapkan langkah-langkah tegas dalam menyikapi persoalan naiknya harga minyak di pasaran. Terutama yang berkenaan penggunaan dengan teknologi alternatif dan tepat guna serta penegakan hukum terhadap para pelaku ‘tindak kejahatan’ yang telah banyak merugikan keuangan negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BBM naik lagi..! setidaknya kata-kata itu yang keluar dan sempat menjadi polemic di masyarakat kita saat ini. Tak hanya politikus, praktisi, atau mahasiswa. Warga kecil pun mulai angkat bicara. Sebagian kalangan menilai hal tersebut merupakan jalan satu-satunya untuk mengejar subsidi harga minyak mentah dunia yang menembus rekor USD 137 per barel. Namun sebagian lagi menyatakan bahwa menaikkan harga BBM bukanlah jalan keluar terbaik, sebab hanya akan semakin menyengsarakan masyarakat kecil.Tidak bisa dipungkiri bahwa langkah tegas ini diambil seiring melonjaknya harga minyak dunia yang tak terkendali. Sedangkan masyarakat kita sendiri merupakan salah satu masyarakat terboros di dunia dalam mengkonsumsi bahan bakar. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang perlu menjadi perhatian khusus, jumlah rakyat miskin di Indonesia dari tahun ke tahun kian bertambah. Naiknya harga bahan bakar, akan berimbas pada pada naiknya transportasi dan distribusi barang, kemudian berlanjut pada naiknya biaya produksi dan menurunnya minat beli karena harga melambung. Melambungnya harga barang inilah yang pada akhirnya yang akan membuat rakyat kecil kita akan semakin terkesan ‘dikerdilkan’. Para petani dan nelayan akan sulit melakukan aktivitas yang semakin memakan biaya. Termasuk sopir buruh dan karyawan yang menuntut kenaikan gaji sedang posisi mere sendiri berada pada tingkat kerawanan terjadinya PHK. Sementara itu, kebutuhan tuntutan untuk memenuhi akan hidup masih terus berlanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naiknya harga BBM di dalam negeri yang kisarannya mencapai 28% bukan tidak mungkin akan terus melonjak mengingat harga minyak dunia yang hingga kini belum berada pda titik stabil. Sebab, negara kita yang memiliki banyak kandungan alam termasuk simpanan minyak mentah masih belum cukup berpotensi untuk mengolah dan menasionalisasi aset-aset tersebut sebagai bahan bakar yang siap pakai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya beberapa solusi sempat diusulkan kepada pemerintah dalam mengatasi persoalan pelik ini. Salah satunya yang ditawarkan oleh anggota DPR dari salah satu fraksi. Diantaranya ialah menyita harta para obligator dan para koruptor tanah air. Namun tawaran ini dimentahkan oleh pemerintah. Usulan untuk mengambilalih sumber daya alam dari jangkauan asing pun belum menjadi alternatif pilihan. sebab kemampuan Indonesia masih belum mampu menjangkau komoditi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu ada pemikiran dan solusi cerdas. Bukan sikap negatif atau pelecehan terhadap kebijakan negara. Mengingat sejarah perkembangan harga BBM di tanah air yang tidak pernah menurunkan kembali harga BBM setelah adanya kebijakan untuk dinaikkan. Dan sebagai masyarakat ‘timur’ yang tahu betul adat dan tata kesopanan bukan seharusnya jika ketidaksetujuan itu disikapi dengan ‘memanas-manaskan’ suasana yang semakin mempersulit persoalan. Tetapi sebagai kaum yang memiliki hak dalam menyampaikan aspirasi tentunya tidak tepat jika kita hanya sekedar nrimo begitu saja. Menggunakan hak bicara dalam berdemokrasi harus tetap ditegakkan sebagi warga negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BLT dan BKM bukan Solusi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Negara kita negara bermartabat, bukan pengemis!” kalimat itulah yang sempat beredar dari mulut ke mulut. Bukan hanya politisi. Bahkan sebagian masyarakat pun akan mengiyakan pernyataan tersebut. Namun yang menjadi pertanyaan, apakah setiap orang yang berperut kosong akan lebih memikirkan apa yang disebut oleh mereka sebagai ‘martabat’ itu? Apakah dana yang diberikan secara cuma-cuma akan ditolak begitu saja? Sementara upaya pemenuhan kebutuhan semakin sulit dijangkau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang berulangkali dijelaskan oleh pemerintah, bahwa BLT bukanlah solusi. BLT hanyalah bantuan ketika masyarakat dihadapkan pada shock saat awal kenaikan BBM. Masyarakat tidak sepatutnya menolak manakala bantuan itu dibutuhkan. Masyarakat juga tidak patut ‘ambil bagian’ dalam BLT jika kebutuhan sudah benar-benar terpenuhi. Kesadaran itulah yang dibutuhkan. Ketika warga yang dinilai mampu ikut berbondong-bondong datang meminta jatah aliran dana. Ketika itulah akan banyak warga miskin yang kehilangan ‘haknya’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman tahun 2005, tentang pembagian dana BLT yang kurang maksimal dan tidak tepat sasaran bahkan tidak sedikit menimbulkan korban jiwa menyebabkan sebagian masyarakat sangsi dengan kebijakan BLT tahun ini. Belum lagi ketika ketidakadilan terjadi dalam penentuan penerima dana BLT, maka kemungkinan akan terjadinya konflik semakin tinggi. Banyak yang harus dievaluasi mulai dari pendataan, proses distribusi serta sistem pembagian dana BLT di tahun 2005. Perlu juga adanya kejelasan yang lebih terperinci dalam pengkategorian miskin. Sebab tidak sedikit kesalahan pendataan yang terjadi akibat adanya kerancuan terhadap kategori keluarga miskin ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lepas dari BLT ada istilah aneh lagi yang dikeluarkan pemerintah. Alih-alih sebagai upaya untuk mengurangi beban mahasiswa yang tidak mampu, meluncurlah program BKM, Bantuan Khusus Mahasiswa. Dalam program BKM ini pemerintah menyiapkan Rp 200 miliar untuk 400.000 mahasiswa di tanah air, baik perguruan tinggi negeri maupun swasta. Bantuan ini akan diberikan kepada mahasiswa yang kurang mampu sebagai kompensasi atas kenaikan harga BBM. Hingga kini, masyarakat kita masih belum memiliki kepastian tentang penerimaan dana BLT tersebut. Di beberapa daerah bahkan masih mengalami kendala pendataan dan administrasi lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Polemik kembali bermunculan. Kali ini datang dari mahasiswa sendiri yang sejak awal tidak setuju dengan kebijakan kenaikan BBM bahkan BLT. Sebab, kebijakan ini baru muncul saat mahasiswa tengah gencar-gencarnya menyuarakan aspirasi mereka menolak kenaikan harga BBM. Sehingga bukan tidak mungkin pemberian dana yang menurut pemerintah dilakukan secara ‘ikhlas’ dan sesuai program ini di tanggapi negatif oleh mahasiswa dan disalahartikan sebagai iming-iming belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terpisah ketua BEM Universitas Indonesia, Edwin Hofsan Naufal menyatakan bahwa bantuan yang dikemas dengan nama BKM ini pasti tak urung menimbulkan masalah baru. Sebab yang menjadi pertanyaan mengapa bantuan tersebut tidak perbah dikoordinasikan sejak awal? Justru ketika keadaan mahasiswa yang telah meledak-ledak menolak BBM naik mencapai puncaknya, program BKM baru dimunculkan. Ini yang kemudian perlu untuk diperhatikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling menjadi kekhawatiran sekarang adalah adanya indikasi terpecahnya mahasiswa dalam beberapa kubu yang berseberangan. Dan hal tersebut tentunya akan menjadi persoalan baru yang semakin meruncing. Karena sebagai yang kita ketahui selama ini, bahwa secara tidak langsung mahasiswa telah terpecah ke dalam beberapa front. Baik itu yang pro dan kontra terhadap kenaikan harga BBM ataupun mahasiswa yang antipati terhadap kebijakan pemerintah ini. Inilah yang membuat pemerintah terkesan berupaya mengambil hati mahasiswa yang selama ini kurang peduli terhadap permasalahan bangsa tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadar untuk Hidup Kolektif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemiskinan adalah masalah terbesar yang selama ini membelenggu negeri ini. Kelangkaan pangan, kelaparan, rendahnya pelayanan kesehatan dan tingginya angka kriminal adalah hasil dari apa yang disebut-sebut orang sebagai kemiskinan. Betapa tidak? Tingginya angka korupsi di tanah air yang telah menimbulkan kerusakan sepanjang bangsa ini berdiri juga diakibatkan oleh kemiskinan pula. Masihkah banyak pejabat-pejabat kita yang merasa miskin?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi jangan salah. Sebenarnya di negara kita yang miskin dan papa ini masih terlalu banyak orang-orang kaya. Orang-orang yang semakin lama semakin kaya. Masih banyak orang-orang yang bahkan hartanya tidak akan habis hanya untuk memenuhi kebutuhan pribadi mereka seketurunan. Dari sinilah mulai terlihat bahwa selama ini efek kesenjangan sosial sudah lama merasuki kebudayaan kita. Sehingga batasan antara kaya dan miskin semakin jauh saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal seperti kita ketahui , satu persatu nominator orang terkaya dunia dari negeri ini selalu bermunculan. Akhir Mei lalu, Menko Kesra Aburizal Bakrie tercatat sebagai orang terkaya di Asia Tenggara dengan total kekayaan mencapai USD 9,2 miliar (setara Rp 84,6 triliun) mengalahkan para konglomerat negara-negara Asia Tenggara lainnya. Bukan hanya itu, Bos Group Sinar Mas, Bos PT Djarum dan bahkan mantan menteri Siswono Yudohusodo pun masuk dalam daftar orang kaya baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan dengan harta seorang Menko Kesra saja, bangsa ini akan mampu melaksanakan program Pendidikan Gratis di tanah air, terutama untuk program wajib belajar 9 tahun yang membutuhkan dana sekitar Rp 74,92 triliun. Di negeri ini, tidak sedikit pejabat, artis atau pengusaha yang memiliki harta berlebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi sungguh ironis, sejak beberapa tahun terakhir selalu saja ada orang kaya baru di negeri ini. Munculnya orang kaya baru ini sering menjadi perhatian dan berita hangat di berbagai media massa maupun elektronik. Tapi pernahkah kita membayangkan bahwa setiap harinya nominator orang termiskin di negara kita selalu bertambah. Bahkan hingga menyebabkan kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara kemiskinan bertambah, kriminalitas pun merajalela, termasuk ancaman terbesar dan paling serius yakni korupsi. Sudah lama penyakit yang telah mendarah daging dalam kehidupan bangsa kita ini merajalela. Apalagi mengenai penyalahgunaan posisi, baik sebagai aparatur negara maupun swasta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, berkaca pada apa yang pernah disampaikan oleh mendiang Nurcholis Madjid, bahwa kesejahteraan pribadi akan mampu terwujud apabila kesejahteraan kolektif terpenuhi. Artinya, kepentingan umum haruslah lebih diutamakan daripada kepentingan khusus. Sebab bangsa yang baik dan adil adalah bangsa yang ikut merasa lapar ketika yang lain lapar dan merasa kenyang ketika yang lain makan. Kesadaran kolektif itulah yang sekarang mulai menghilang dari bangsa ini. Hilang sebab tergiur duniawi untuk kepuasan pribadi. Dengan korupsi, dengan mencuri, dengan hanya mampu menebar janji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rakyat kecil hanya butuh satu. Kesadaran! Kesadaran untuk mereka yang menjadi pejabat, pengusaha sukses, dan orang-orang berhasil lainnya. Kesadaran untuk tidak mengambil hak orang lain, kesadaran untuk mengerti keadaan orang lain, kesadaran untuk sama-sama ber-empaty terhadap orang miskin. Bukan kesadaran untuk mengemis dan mengajarkan menjadi pengemis. Bukan kesadaran untuk meminta dan mengajarkan menjadi peminta-minta. Tetapi kesadaran untuk bersama-sama ikut menyadarkan. Pertanyaannya, sudahkah kita sendiri sadar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, 5 Juni 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maud Khan&lt;br /&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8194169263164832698-5157146778565965705?l=www.92maud.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.92maud.co.cc/feeds/5157146778565965705/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/11/bbm-naik-lagi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/5157146778565965705'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/5157146778565965705'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/11/bbm-naik-lagi.html' title='BBM naik Lagi???'/><author><name>92maud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15771142033201981403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SjycJmK2AII/AAAAAAAAAAg/FJCJ9UI4WxM/S220/Maud+Khan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SwoXGc0rMuI/AAAAAAAAAPE/ABBADzM4iAI/s72-c/BBM+naik+copy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8194169263164832698.post-1451209110391683232</id><published>2009-11-22T20:57:00.000-08:00</published><updated>2009-11-22T20:59:18.208-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Maud Khan'/><title type='text'>Iran, Aawal Kebangkitan Timur Tengah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SwoWh3iReAI/AAAAAAAAAO8/AZq1qu7Bq4I/s1600/iran-khamenei+copy.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 133px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SwoWh3iReAI/AAAAAAAAAO8/AZq1qu7Bq4I/s200/iran-khamenei+copy.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407159073710897154" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;oleh: Mahfud*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sepanjang sejarah, Iran dikenal sebagai bangsa besar yang mampu menguasai wilayah Timur Tengah−termasuk di dalamnya Babylonia, Palestina dan Syria−, Asia Kecil, bahkan hingga kawasan Eropa. Sejarah kepahlawanan negeri Persia itu semakin lengkap tatkala berhasil menakhlukkan negeri Sparta tahun 480 S.M dibawah pimpinan Xerxes, putra Darius melalui pertempuran sengit di Thermopylae. Sejarah juga mencatat perkembangan kerajaan lembah sungai Eufrat dan Tigris pada masa Hammurabi maupun Nebukadnezar yang mampu memberikan kontribusi besar dalam perkembangan dunia. Salah satu karya besar negeri Babylonia ini adalah hukum Hammurabi yang memegang teguh penegakan hak-hak asasi manusia. Hingga abad ini Iran yang pernah 25 tahun berperang melawan Irak mampu menunjukkan eksistensi mereka sebagai bangsa yang beradab dan poros utama kekuatan Islam di kawasan Timur Tengah. Iran tidak henti-hentinya menghimbau kepada seluruh umat Islam dunia untuk bersatu agar terlepas dari ketertindasan serta monopoli kaum barat, menegakkan keadilan dan menciptakan perdamaian.” &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai bagian dari penghuni kawasan Timur tengah, rakyat Iran dituntut untuk dapat survive secara mandiri, terutama pada fase-fase awal perkembangannya yang cukup tertinggal dibandingkan negara-negara lain selama kurun waktu 2500 tahun dibawah kekangan monarkhi yang absolut. Keberhasilan Revolusi Islam Iran pimpinan Ayatullah Ruhullah Khomeini pada 1979 telah melahirkan semangat baru menuju modernisasi yang revolusioner, antiimperialisme, menjunjung tinggi nasionalisme, dan ajaran Islam. Karakteristik itulah yang kemudian muncul dan mampu membawa masyarakat Timur tengah ke dalam persaingan membangun peradaban. Tidak hanya terbatas dalam bidang infrastruktur pemerintahan, melainkan juga memengaruhi nilai-nilai identitas nasional, sosial, politik, dan budaya. Kini, bangsa Persia yang diarsiteki Presiden Mahmoud Ahmadinejad dalam Republik Islam Iran itu tengah dihadapkan pada upaya mempertahankan peradaban yang komprehensif, kolektif, dan mampu menjadi poros dunia Islam. Tindakan tidak proporsional yang selama ini selalu ditunjukkan oleh beberapa negara adidaya memang selalu menyudutkan Islam dari berbagai posisi. Apalagi di era global saat ini umat Islam merupakan kalangan yang paling mudah menjadi bulan-bulanan tuntutan zaman. Kondisi ini diperparah dengan semakin meningkatnya kekuatan imperialis, kapitalis dalam menyebarkan makar-makar mereka yang pada akhirnya memunculkan perpecahan, krisis berkepanjangan dan sikap ultra-sensitif antar sesama umat muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebangkitan Islam dalam mempertahankan eksistensinya merupakan sesuatu yang menjadi prioritas oleh masyarakat Iran saat ini. Apalagi kecenderungan merosotnya kepercayaan terhadap Islam yang selama ini dilontarkan oleh masyarakat internasional semakin meluas melalui isu-isu ‘terorisme’. Dalam hal ini Iran merupakan hampir satu-satunya negara berpenduduk muslim terbanyak yang masih lepas dari kesan terorisme dan kekerasan lainnya dalam dekade terakhir. Ini membuktikan bahwa kebangkitan Iran dalam mengusung landasan keislaman tidak dapat dipandang sebelah mata. Apalagi jika hanya menjadikan Irak sebagai asumsi akan keberadaan Iran yang dikhawatirkan mampu mengancam perdamaian internasional. Tidak hanya itu, konflik Syi’ah-Suni di area Teluk yang tak kunjung reda selalu dijadikan apologi oleh Amerika Serikat dan sekutunya dalam menuding Iran bahwa Ahmadinejad memiliki ambisi menjadi penguasa Timur Tengah setelah tumbangnya rezim Saddam Hussein. Mereka menilai tokoh-tokoh Syiah yang kini berkuasa di Irak dan juga di Iran termasuk Presiden Mahmoud Ahmadinejad merupakan orang-orang yang bersemangat membela ajaran dan nilai pokok Syiah. Pada saat yang sama mereka bukan hanya anti-Wahabi, tapi juga anti-Suni. Perspektif semacam ini sungguh mengandung resiko yang berbahaya mengingat kedua sayap Islam ini−Suni dan Syiah− sangat rentan membangkitkan luka-luka lama di antara kedua kelompok umat Muslimin. Namun berawal dari kesadaran dan sikap optimis segenap rakyat Iran dalam memegang semangat keislamannya, Iran mampu bangkit dan bersaing di dunia global saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangkitnya Republik Islam Iran melalui kemajuan teknologinya memang menyisakan permasalahan tersendiri bagi bangsa-bangsa Eropa-Amerika terutama program pengayaan uranium sebagai reaktor nuklir di negeri itu yang menjadi polemik hingga saat ini. Sungguh paradoks, Israel yang sejak dulu selalu menjadi biang keributan di berbagai belahan dunia serta berhasil membangun basis militer terbesar di Timur Tengah justru terkesan mendapat perlindungan dari PBB. Indikasi munculnya konspirasi internasional ini semakin jelas tatkala Mei 2008 diketahui bahwa jumlah misil nuklir yang dimiliki Israel telah mencapai ratusan. Namun hal ini belum sama sekali menimbulkan ketakutan atau kekhawatiran sedikitpun pada PBB selaku badan keamanan. Sedangkan Iran yang mengerahkan semua potensi dan sarana demi mengakhiri pendudukan dan pembunuhan warga sipil yang tak berdosa serta aktif melibatkan diri atas isu Timur Tengah, Palestina, Afganistan dan Irak selalu menjadi sosok yang harus diwaspadai. Sungguh ironis!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, Iran sudah mendeklarasikan kepada dunia bahwa Iran telah berhasil menggapai teknologi produksi bahan bakar nuklir dan secara resmi masuk dalam daftar negara-negara pemilik teknologi canggih dan efektif tersebut. Apalagi teknologi nuklir Iran telah menembus batas-batas wajar hingga ke berbagai sektor yang sangat rumit. Selain menjadi sumber energi alternatif yang efektif, teknologi nuklir mampu menunjang di bidang kedokteran, industri, geologi, pertanian, pertambangan, dan sektor-sektor penting lainnya. Dalam hal ini Iran juga tetap menekankan komitmennya terhadap ketentuan internasional di bidang nuklir serta hanya akan menggunakan teknologi ini sebagai sarana pendukung fasilitas. Ini menunjukkan betapa besar potensi Iran dalam persaingannya di bidang teknologi maupun ilmiah. Keberhasilan Iran dalam mengembangkan teknologi nuklirnya memang patut menjadi contoh bagi negara-negara muslim lain. Bagi Iran, bukan saatnya menggantungkan diri kepada bangsa asing, setiap bangsa memiliki hak-hak untuk diperjuangkan termasuk yang berkenaan dengan permasalahan teknologi nuklir. Itulah sebabnya sampai saat ini Iran bersikeras untuk tetap melanjutkan program nuklirnya walau sempat mendapatkan sanksi PBB, sebab tidak layak jika Iran menghentikan program nuklirnya hanya atas dasar 5 negara anggota tetap PBB tanpa melibatkan bangsa-bangsa lain yang sebenarnya mempunyai hak yang sama. Terlepas dari setiap padangan ketidaksetujuan terhadap program nuklir manapun, tekanan yang dilakukukan Barat kepada Iran memang terkesan tidak adil. Sebab sikap serupa tidak diperlihatkan AS Barat kepada India, Pakistan, Israel, dan China ataupun negara-negara lain yang ikut mengembangkan program nuklir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan ini memberikan pesan kepada semua masyarakat muslim bahwa sebagai umat yang besar dan beradab tidak perlu mengendurkan tekad di hadapan represi asing. Islam adalah agama besar, kuat, penuh cinta kasih, penuh kedamaian, dan mampu bersaing dengan lintasan perubahan jaman.. Iran adalah negara pertama yang membuktikannya. Sikap tegar pasca Revolusi 1979 tersebut juga menunjukkan bahwa Iran tidak akan pernah tunduk kepada Amerika Serikat walau dengan ancaman apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, 27 Juni 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8194169263164832698-1451209110391683232?l=www.92maud.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.92maud.co.cc/feeds/1451209110391683232/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/11/iran-aawal-kebangkitan-timur-tengah.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/1451209110391683232'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/1451209110391683232'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/11/iran-aawal-kebangkitan-timur-tengah.html' title='Iran, Aawal Kebangkitan Timur Tengah'/><author><name>92maud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15771142033201981403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SjycJmK2AII/AAAAAAAAAAg/FJCJ9UI4WxM/S220/Maud+Khan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SwoWh3iReAI/AAAAAAAAAO8/AZq1qu7Bq4I/s72-c/iran-khamenei+copy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8194169263164832698.post-1162825397729342559</id><published>2009-11-22T15:03:00.000-08:00</published><updated>2009-11-22T15:05:02.550-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen Maud Khan'/><title type='text'>Kenangan Dari Sebuah Bunga Mawar</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SwnDkmtIp-I/AAAAAAAAAOo/2oABmtkFYek/s1600/rose.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 156px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SwnDkmtIp-I/AAAAAAAAAOo/2oABmtkFYek/s200/rose.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407067861267556322" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Risih memang…! Ketika sebuah mawar liar harus tumbuh di samping pekarangan rumah. Tapi tak apa, toh aku masih bisa bernapas lega. Sebab bagiku tak terlalu merusak pemandangan. Kupikir, biarlah mawar itu tumbuh dengan indahnya. Nanti bila tiba saatnya ia telah berbunga kuputuskan untuk kupindah pada taman yang berada tepat di depan rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memang menyukai bunga, atau mungkin semacam tanaman-tanaman hias. Apapun! Namun satu hal yang sangat aku sukai dari sekuntum bunga. Yaitu bentuknya. Bagiku bunga akan dikatakan indah ketika ia merekah, dari sebuah kuncup yang kecil menjadi merona dan memesona tatkala mekar. Ah! Aku hanya menyukai bunga yang telah mekar, bukan kuncup. Dan semoga saja pikiranku ini tidaklah salah, sebab kebanyakan orang memang menyukai bunga-bunga yang mekar. Sama halnya ketika aku menyukai sekuntum bunga di pekarangan orang. Sekuntum bunga yang berharga mahal, yang tak boleh tersentuh oleh tangan-tangan jahil siapapun. Termasuk aku. Yang secara tak sengaja selalu melihatnya di setiap penghujung pagi. Dan entah sudah berapa kali pemilik rumah itu memperhatikan tingkahku. Yang jelas, setiap pagi aku selalu menyempatkan diri walau sekedar melihatnya. Dan aku sedikit menyesal, mengapa aku harus suka pada bunga milik orang? &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya aku memiliki banyak koleksi bunga. Di taman yang kubuat tiga tahun lalu semenjak lulus SMA, bunga-bunga itu selalu tertata rapi. Biasanya tatkala bunga-bunga itu mulai bermekaran aku akan memilih beberapa bunga yang paling indah untuk kubelikan pot. Adakalanya kugantung di depan jendela kamar atau kutaruh di teras dekat pintu masuk rumah. Tak hanya aku, bahkan sebagian besar bunga-bunga itu adalah ibuku yang menanamnya. Ibuku pun sangat menyayanginya. Konon, bunga-bunga itu bibitnya ibu beli dari seorang famili yang ada di luar kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buatku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentu saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal lagi, aku suka sekali bertualang ke gunung-gunung, sungai-sungai, sawah-sawah atau bahkan ke rawa-rawa yang letaknya jauh di luar sana hanya untuk urusan yang satu ini. Hampir seminggu sekali kuagendakan untuk keluar kota bersama teman-teman yang hingga kini aktif di organisasi pecinta alam. Apalagi jika terdengar kabar tentang akan diadakannya pameran bunga atau tanaman-tanaman hias, maka sepadat apapun kegiatanku hari itu harus urung kukerjakan. Dalam hal ini, teman-teman sering menjuluki aku sebagai ‘pecinta bunga sejati’, sebagai orang yang menghabiskan seluruh waktunya untuk bunga, bunga, dan bunga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan julukan yang jelek…” pikirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi entah mengapa? menurutku bunga paling indah hanya milik seorang yang tinggal di pinggiran kota yang tak jauh dari kampus. Tempat aku lewat setiap pagi, tempat yang di setiap waktu aku selalu menyempatkan diri untuk sekedar menjenguknya. Tak jarang kudapati seorang tukang kebun tengah menyiramnya. Pernah suatu ketika tukang kebun itu kuhampiri. Kukatakan kalau aku menyukai bunga yang ada dekat kolam ikan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Waduuuh! Jangan, Den!” katanya pelan-pelan. “Bunga ini kesukaan Den Bagus, putra yang punya rumah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berapapun saya beli, Pak!” kataku meyakinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan masalah itu, Den. Tapi memang saya selalu dapat pesan agar merawat dan menjaga bunga ini baik-baik. Pernah bunga ini ditawar mahal sama seorang pengusaha dari Jakarta. Tapi tetap saja tidak boleh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ooo, ya sudah, Pak! Terima kasih.” ucapku sambil menyalakan motor. Aku pun bergegas meninggalkan rumah mewah itu menuju tempat kuliah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya satu yang paling membuat aku khawatir. Mungkin si pemilik rumah sudah mengira jika aku menyukai bunga di pekarangan miliknya. Dan mungkin karena seringnya aku nongkrong di tempat itu lama kelamaan timbul pula kekhawatiran dari yang punya rumah. Keesokan harinya sebuah papan kecil terpampang dengan tulisan huruf balok tebal yang dari jarak sepuluh meter pun aku sudah mampu membaca isinya,“not for sale” (tidak untuk dijual). Ah, terlalu beresiko memang untuk menyukai bunga di pekarangan orang. Sebab jika sewaktu-waktu bunga itu raib sebab dicuri orang, maka akulah orang pertama yang akan disangkanya. Semacam tersangka pencurian bunga, meski aku sebenarnya bukanlah seorang pencuri….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, Mungkin cukup sekian saja cerita tentang bunga di pekarangan orang itu. Sebab mawar liar di samping pekarangan rumahku mulai memiliki kuncup. Setidaknya sedikit ke sedikit aku mulai memperhatikannya. Aneh, padahal aku tak seberapa suka bunga mawar. Entahlah, secara tak sengaja aku mulai menyukainya. Seringkali bunga itu kurapikan, kubersihkan dari debu-debu kotor yang menempel di beberapa helai daunnya. Kupikir, sesuatu telah merasukiku. Ada perasaan teduh dan damai ketika aku memperhatikan mawar liar itu. Mawar liar yang dahulu selalu menjadi tumpahan sumpah serapahku. Bahkan kadang terlintas pikiran hendak mencabutnya lalu kubuang saja ke sungai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kawan sempat memberitahuku bahwa kelak bunga itu akan menjadi bunga yang indah. Kata mereka dari bentuk kuncupnya saja sudah kelihatan sehingga mereka menyuruh aku agar lebih memerhatikannya. Ada-ada saja! Kukatakan pada mereka. Bukankah ini hanya bunga liar? Aku sendiri tak tahu siapa yang seenaknya meletakkan bibit bunga itu sebelumnya. Atau mungkin seseorang sengaja menanamkannya untukku? Sudahlah. Tak perlu kupikirkan. Yang jelas seindah apapun bunga itu tetap saja bunga liar bahkan bikin risih sebab letaknya yang sedikit menjorok ke jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi siapa yang merawat bunga liar ini? Dan yang menyiramnya? Bukankah aku orangnya… yang jelas aku memang orang paling munafik untuk berbicara tentang cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu tak banyak orang turun ke jalan. Hanya satu dua orang yang terlihat sedang asyik jogging atau mengayuh sepeda. Hujan yang turun malam tadi sedikit mengurangi minat beberapa warga yang biasanya gemar berolah raga. Genangan air masih terlihat di sebagian ruas jalan apalagi udara masih dingin merasuki badan. Aku masih duduk bersantai. Seorang kawan, Hafid, menghampiriku. Masih seperti biasa, ia datang mengenakan sarung bermotif kotak-kotak dengan setelan baju koko. Sebenarnya tak hanya kawan, bahkan ia telah kuanggap sebagai saudara terbaikku sejak lama. Satu hal yang tak pernah kulupa tentang kami berdua, jika aku adalah tipe orang yang paling suka meminta tolong, ia merupakan tipe orang yang paling tidak bisa untuk berkata ‘tidak’. Intinya, aku banyak berhutang padanya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah memberi salam kusilahkan ia duduk berdampingan denganku. Awalnya kami membicarakan cuaca pagi itu. Tetapi entah sengaja atau tidak pembicaraan mulai menjalar hingga sampailah akhirnya pada topik ‘bunga’. Rupanya ia sudah menyiapkan topik itu jauh-jauh sebelum perjalanan kemari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mawar itu indah juga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah tidak juga, aku pun tak terlalu menyukainya.” Potongku singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kupikir kau bukanlah tipe orang yang menyukai bunga semacam itu. Apalagi hanya bunga liar yang masih terlihat kuncupnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau kau mau ambillah?” Entah mengapa tiba-tiba aku mengatakan itu. Ah, biarlah sudah terlanjur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benarkah?” Ia melongo seakan tak percaya. “Dari dulu aku memang sudah menyukainya. Bukankah bunga itu dikatakan indah bila mampu membuat setiap yang melihatnya merasa teduh? Dan terus terang, Fid. Bunga ini benar-benar indah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa tak kau katakan dari dulu?” Tanyaku. “Bukankah jika kau cerikan, bunga ini bisa kuserahkan padamu sejak kemarin-kemarin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Entahlah, kupikir tanah di sini terlihat lebih subur dibandingkan tempatku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau begitu ambillah, tak apa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat ia bergegas menuju kran di samping kamar mandi, mengambil setengar ember air dan menyiramkannya pada mawar itu. Membersihkannya dari kotoran debu sisa hujan tadi malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akan aku belikan pot yang paling mahal.” Katanya sambil menyiramkan air itu perlahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sempat berfikir sejenak. Kulihat bunga itu. Memang indah. Pantaslah jika beberapa kawan menyukainya, mengingininya untuk dipindah ke tempat mereka tinggal. Dan tak satupun yang kuijinkan dari mereka. Kupikir, tepat sekali. Sebab ternyata seseorang yang selama ini paling peduli dengan bunga, paling menyukai bunga, dan banyak tahu sesuatu tentang bunga, bukanlah aku. Melainkan dia, kawanku sendiri. Ialah pencinta bunga sejati. Dan dialah yang pantas memiliki bunga ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hari ini pun kau bisa mengambilnya. Asal hati-hati saja menjaganya. Dan jangan lupa kau merawatnya di sana,” kataku sekenanya. Sebab aku pun paling tak bisa untuk berkata ‘tidak’ padanya. Toh, aku masih banyak koleksi bunga, apa salahnya jika bunga liar yang selalu membuatku risih selama ini kuberikan saja padanya. Bagiku membuat ia senang adalah suatu kebaikan tersendiri. Setidaknya sebagai balas jasa terhadap apa yang telah ia lakukan buatku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ternyata aku salah. Kejadian pagi itu telah berakibat fatal. Setelah sekian lama aku menyukai bunga di pekarangan orang. Kini aku hanya mampu menyukai bunga di pekarangan saudaraku sendiri. Saudaraku yang telah mengarungi hidup dengan pedih dan senang bersamaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ia tak pernah tahu jika seringnya diriku bertandang ke rumahnya bukan sekedar datang ataupun melihat bunga peliharaannya itu. Aku datang dengan kerinduan, dengan sesal yang mendalam yang tak mampu dirasakan oleh siapapun. Dan ternyata kini aku menyukainya. Semakin sering aku berkunjung ke rumah kawanku itu, maka semakin indahlah bunga itu di kedua kelopak mataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andai saja dahulu kudengarkan saran beberapa kawan untuk memeliharanya dengan baik, memindahnya ke taman tepat di depan rumahku. Mungkin aku tak akan merasa kehilangan seperti ini. Sekarang hanya ada sesal yang bertarung dengan sedikit kebahagiaan dan kepuasan. Sesal karena ternyata aku mencintai bunga itu, dan bahagia karena bunga itu menjadi milik seorang yang tepat buat menjaganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, setidaknya aku masih beruntung bisa setiap hari melihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, bunga-bunga yang lain masih menunggu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, 29 Juli 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(03.00 WIB)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ma’ud Khan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8194169263164832698-1162825397729342559?l=www.92maud.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.92maud.co.cc/feeds/1162825397729342559/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/11/kenangan-dari-sebuah-bunga-mawar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/1162825397729342559'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/1162825397729342559'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/11/kenangan-dari-sebuah-bunga-mawar.html' title='Kenangan Dari Sebuah Bunga Mawar'/><author><name>92maud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15771142033201981403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SjycJmK2AII/AAAAAAAAAAg/FJCJ9UI4WxM/S220/Maud+Khan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SwnDkmtIp-I/AAAAAAAAAOo/2oABmtkFYek/s72-c/rose.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8194169263164832698.post-1655465994470888445</id><published>2009-11-22T14:50:00.001-08:00</published><updated>2009-11-22T14:51:43.487-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen Maud Khan'/><title type='text'>Mengulang Hidup</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SwnAXLsf8YI/AAAAAAAAAOg/AbgCHvIQIBQ/s1600/mengulang+hdup.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 156px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SwnAXLsf8YI/AAAAAAAAAOg/AbgCHvIQIBQ/s200/mengulang+hdup.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407064332143948162" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Salah satu kebiasaan buruk saya yang hingga sekarang sulit dihilangkan adalah melamun. Bila ada waktu kosong di sela-sela pekerjaan, maka tanpa sengaja pikiran saya akan melayang jauh meninggalkan diri saya saat itu juga. Sering pula saya melamunkan suatu hal untuk beberapa waktu yang cukup lama tanpa banyak menghiraukan apapun di sekeliling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika saya mendatangi kawan lama yang kebetulan juga seorang psikiater. Saya sampaikan keluhan-keluhan yang saya alami. Termasuk akibatnya terhadap pekerjaan saya. Saya sampaikan bahwa kebiasaan ini sangat mengganggu dan membebani. Berat sekali rasanya. Apalagi di kantor, beberapa rekan sering melihat saya sebagai seorang yang aneh dan tentu mengundang rasa iba terhadap mereka. Lantaran keadaaan saya yang belum berkeluarga hingga sekarang, kebanyakan mereka berpikir bahwa saya dipusingkan oleh perkara perempuan. Tapi saya masihlah sangat muda, saya belum hendak kawin, bahkan meminang seseorang untuk menjadi calon istri sekalipun. Saya belum siap. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ceritakan semua masalah saya, kecuali tentang percintaan lama yang putus tanpa alasan empat tahun lalu. Sebab buat saya tak perlu diceritakan, saya sudah lama melupakannya. Saya mulai bertanya kepada kawan saya itu bagaimana menghilangkan sifat melamun dan membuangnya jauh-jauh. Walau tidak seluruhnya minimal dapat dikurangi. Ia masih manggut-manggut mendengar dan pertanyaan saya. Ia belum menjawab. Kemudian ia mengeluarkan secarik kertas dari sakunya, menuliskan beberapa yang saya pikir sebagai resep.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia kembali memandang saya. Sebagai teman lama ia tahu betul watak dan perangai saya. Termasuk kebiasaaan saya itu. Ia lantas mengatakan bahwa hobi melamun itu tidaklah buruk. Saya katakan bahwa saya sudah keterlaluan. Namun ia tetap saja berkelit melindungi profesinya, dikatakannya saya telah menghakimi diri sendiri. Padahal saya belum pernah mengukur kadar lamunan masing-masing orang. Menurutnya tak pantas jika saya merasa sebagai orang paling sering atau setidaknya lebih sering melamun daripada orang lain. Baginya penyakit saya hanya satu, yaitu kurang bisa melamunkan sesuatu sebagai hal-hal yang positif. Itulah yang biasanya membuat saya lupa keadaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukankah pekerjaan presiden hanyalah melamun?” katanya pula sambil tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya diam. Memang tak bisa saya bedakan antara melamun, termenung, berpikir, konsentrasi atau semacamnya termasuk menghitung, membaca dan menulis yang bagi saya semuanya adalah proses kerja otak. Dan saya baru merasa bahwa otak saya sudah terlalu banyak salah di setiap kerjanya. Mungkin benar kata dia, bahwa saya hanya kurang memanfaatkan lamunan saya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia kembali bertanya tentang apa yang akan saya lakukan seandainya tuhan memberi kesempatan kepada saya untuk mengulang hidup dari titik manapun, termasuk dari patokan waktu kapanpun yang saya mau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentu saja memperbaiki hidup,” jawab saya sambil tertawa kecil. Termasuk memperbaiki kisah cinta saya dengan Jeny, pikir saya. Ah, pikiran itu masih saja menghantui saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Coba kau katakan, pada titik mana akan kau ulang hidupmu itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Lima tahun lalu.” jawab saya cepat sambil tersenyum kecil mendengarkan leluconnya. ”Sudahlah tak usah mengada-ada!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku tidak mengada-ada!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tapi itu tidak mungkin, John?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bisa saja,” katanya meyakinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Caranya?” saya semakin heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Anggap saja saat ini kau sedang berada di titik yang kau inginkan itu. Beres, kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Maksudmu?” saya sedikit tidak paham jalan pikirannya, namun saya tetap mengejar pembicaraan. Ia memandang wajah saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Coba kau bayangkan, lima tahun lagi kau akan jadi apa? Semakin baik atau burukkah? Tentu kita tak tahu. Jadi, anggaplah sekarang adalah masa mengulang hidupmu dari kehidupan yang telah salah nanti, kau tak kan mengulangi kesalahan yang telah kau kerjakan satu sampai lima tahun ke depan, bukan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jadi aku harus berpikir lima tahun ke depan dan kembali ke ’lima tahun lalu’ tepat ke sekarang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tepat sekali!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Seakan-akan aku pernah hidup di masa lima tahun lagi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Lalu bagaimana caranya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kau bayangkan saja.” jawabnya santai. Kemudian saya pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku baru mengerti. Membayangkan sesuatu yang belum terjadi? Benar, tapi aneh pula ucapannya. Ah, setidaknya hal itu akan mendorong saya menghindari hal-hal buruk yang akan terjadi. Saya perhatikan jam tangan. Kemudian saya percepat laju mobil sambil mendengarkan lagu favorit dari radio.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang jalan saya masih memikirkan apa yang dikatakan John itu. Seperti teka-teki. Dan tentu saya hargai ide dan pikiran cemerlangnya. Apalagi sudah banyak orang yang disembuhkannya dan pulang dengan muka tersenyum. Kembali ke masa lalu dari masa depan? Cukup masuk akal. Bahkan terlalu mudah untuk saya lamunkan malam nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya jika malam mulai larut, tanpa harus menyuruh atau memanggil, pembantu saya akan datang membawakan segelas susu hangat ke kamar. Merapikan baju dan bawaan saya kemudian menaruhnya di samping almari pakaian. Termasuk setiap kali pulang kerja lembur. Bila sesekali saya terjaga dan menginginkan sesuatu tengah malam itu, saya tak sungkan membangunkan ia buat mencari atau mendapatkannya. Walau demikian ia tak pernah keberatan melakukan pekerjaan itu. Kadang saya berpikir, betapa mudanya ia, cantik dan perhatian. Bahkan jika dipikir sekali lagi, tentu ia lebih pantas menjadi istri saya daripada pembantu. Tak jarang setiap kali pergi ke mall atau keluar menemui beberapa kawan lama, saya ajak ia sekadar buat menutupi kesendirian saya. Jika tak mau, saya paksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi malam ini saya tak ingin membangunkannya. Saya rebahkan tubuh di ranjang sebentar setelah tiba di kamar dan membikin secangkir kopi hangat. Malam ini saya tak akan tidur. Besok tak ada agenda penting yang harus dikerjakan. Saya coba mengarang-ngarang cerita kecil di dalam kepala. Tentang masa lalu, tentang Jeny, tentang pembantu saya yang cantik, tentang siapa calon istri saya nanti atau tentang karir dan pekerjaan saya. Membayangkan sedikit masa kecil. Dan tak lama setelah itu pikiran saya mulai terbang meninggalkan tubuh saya yang masih rebah di kamar. Kemudian entah, saya sudah terhanyut dengan bermacam lamunan dan mimpi malam itu juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kira-kira setahun setelah pertemuan saya dengan kawan psikiater itu, sedikit ke sedikit hidup saya mulai berubah. Saya sudah jarang melamun. Di kantor, saya selalu cepat mengambil keputusan, saya tak pernah lagi membuang-buang waktu. Hanya saja entahlah, urusan mencari pasangan masih belum melintas di benak saya. Jangankan mencari, buat membicarakannya saya tak ada sedikit waktu. Pernah saya dekat dengan seorang perempuan, rekan bisnis dari luar kota. Namun tak lebih dari menungguinya di klab semalaman atau menemani menghabiskan beberapa botol minuman. Itupun karena permintaannya yang lebih suka bicara bisnis di ’tongkrongan-tongkrongan’ malam daripada mengobrol di kantor yang serba formal. Selebihnya tidak ada. Saya hanya sibuk dengan pekerjaan, meeting, ke luar kota, atau bertemu kolega di lapangan golf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam satu bulan ini misalnya, akan ada agenda penting di luar negeri yang tak boleh saya lewatkan. Mau tidak mau rumah harus saya kosongkan untuk beberapa waktu. Saya mulai memanggil tiga orang sewaan untuk menjaga rumah. Sebab saya takut jika rumah saya akan menjadi sasaran pencuri. Seminggu lalu, salah seorang tetangga sebelah mengaku kehilangan uang dan perhiasannya senilai satu milyar lebih. Saya tak peduli. Sebab sudah saya ingatkan kalau akhir-akhir ini banyak maling berkeliaran. Akhirnya persis seperti dugaan. Rumahnya kebobolan saat sekeluarga pergi liburan. Sekarang rumahnya sepi, istrinya sakit-sakitan. Anak-anaknya yang jika sore selalu bermain di depan rumah saya tak pernah lagi tampak. Agaknya mereka sekeluarga menahan diri. Karena kasihan, akhirnya saya bantu membiayai pengobatan istrinya selama beberapa hari. Sementara itu jalanan sepi. Rumah-rumah pun sepi. Kabarnya, satu atau dua bulan lagi mereka akan pindah ke tempat lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ratna, pembantu yang dulu belum genap setahun bekerja di rumah ini sudah lama saya pecat. Ia terlalu bersikap baik dalam banyak hal, saya kira ia hanya berniat mengambil hati saya saja. Dan yang paling membikin saya jengkel, ia suka menangis jika saya tegur. Pernah ia kedapatan sedang memegang perhiasan peninggalan mendiang ibu saya dengan alasan membersihkan lacinya yang sudah berdebu. Padahal perhiasan itu hanya akan saya perlihatkan kepada calon istri saya nanti sesuai wasiat. Begitu saya tegur, ia menangis. Dasar perempuan. Saya begitu khawatir dengan keberadaannya di sini. Apalagi ia selalu membuat saya tergoda dan seakan menghalangi saya secara tidak langsung untuk mencintai seseorang. Saat saya pecat, ia menangis meraung-raung. Padahal saya tak memukulinya. Tapi apalah peduli saya jika ia sudah tak cocok lagi bekerja di sini, ia hanya akan menjadi benalu di kebebasan saya. Menikahinya? Mana mungkin. Sekali lagi saya belum hendak kawin. Setidaknya itu alasan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tiba saatnya berangkat, saya putuskan menelpon Om Iwan yang kebetulan tinggal di kota tempat saya singgah sementara. Saya kabarkan saya akan mampir dan akan sampai sekitar jam tiga sore. Ia dan putrinya akan menjemput di bandara. Saya begitu mengenal putrinya, perempuan bergelar Master of Arts setelah empat tahun tinggal dan belajar di Amerika. Terakhir kali kami berkumpul hanya saat masih SMP, sedang SMA hingga Sarjana ia jalani di negeri Jiran. Sekarang ia sudah kembali ke Malaysia dan bekerja di kantor Kedutaan Besar Indonesia di Kuala Lumpur. Meski begitu setahun sekali ia masih sempatkan diri berkunjung kemari, bertemu kakek atau famili di kampung. Berbeda dengan saya yang dengan terpaksa kembali mengurus perusahaan. Ah, tentu ia sudah tidak manja lagi seperti dulu. Sebagai saudara sepupu saya begitu mengharapkan ia bahagia dengan jodohnya nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di perjalanan saya bertemu dengan perempuan yang kira-kira dua tahun lebih muda daripada saya. Di pesawat. Ia duduk sejajar dengan saya. Mengenakan jas abu-abu dengan kemeja putih bermotif bunga-bunga di sepanjang jahitan kancingnya, sedang rambutnya dicat sedikit pirang. Saya bingung, seakan ada firasat yang mengatakan saya pernah mengalami kejadian ini. Entahlah, mungkin dalam mimpi. Masih seperti lima tahun lalu dalam bayangan saya. Wajahnya yang merona terlihat anggun tatkala ia melepaskan ikat rambutnya. Saat saya pandang, ia tersenyum. Saya berpikir, masihkah ia mengenal saya? Saya coba mengingat-ingat apa yang terjadi saat silam itu. Ya, kejadiannya hampir sama. Mirip. Mirip sekali. Setelah beberapa menit terbuang akhirnya saya memberanikan diri untuk mengawali pembicaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ke Kuala Lumpur?” tanya saya membuka percakapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ke Bangkok” jawabnya ramah ”Anda?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kebetulan, saya juga hendak ke Bangkok, tapi masih mampir di Kuala Lumpur untuk dua sampai tiga hari,” saya mengulurkan tangan. ”Nama saya Ricky.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jessica.” ucapnya penuh senyum ”panggil saja Jessy.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jessica? Saya ingat betul nama itu. Saya coba mengumpulkan ingatan yang kadangkala timbul tenggelam. Benarkah ia Jessy tunangan saya dulu? Ya, dialah yang seharusnya menjadi calon istri saya. Kalau bukan lantaran Ratna yang melarang dan mengarang-ngarang cerita tentang keburukan ia bersama laki-laki lain, tentu saya sudah menikahinya. Biarlah, saya memang sedikit menyesal sering meminta pertimbangan mantan pembantu yang sok baik itu. Tapi beruntung saya keburu memecatnya sebelum kembali berulah aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ada perlu apa ke Bangkok?” tanyanya sopan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Urusan kantor” jawab saya singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Lama?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kira-kira sebulan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sering ke Bangkok?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Baru sekarang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Istri anda?” ia mulai mengarah kepada pribadi saya namun tetap berwibawa dengan senyumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Belum” jawab saya ”saya belum beristri. Apakah saya terlalu tua untuk melajang?” tanya saya sedikit tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tidak. Bukan begitu, maaf. Hanya menurut saya orang seperti anda seharusnya sudah layak dan mapan buat berkeluarga,” rupanya pertanyaan saya membuatnya malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sebenarnya saya masih belum siap.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Atau mungkin soulmate or whatever, lah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Belum, saya terlalu sibuk dengan pekerjaan” jawab saya, ”bukankah Anda juga demikian?” Ah, seharusnya saya tak menanyakan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Maksudnya?” ia keheranan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Maaf, maksud saya apakah Anda sudah berkeluarga?” tanya saya merasa bodoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Oo... belum” jawabnya santai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulit buat saya mengendalikan arah pikiran yang masih sedikit tak percaya dengan perjumpaan ini. Saya kembali membuka ingatan. Ya, saya tinggalkan dia hanya karena isu perselingkuhan yang saya sendiri tak bisa membuktikannya. Tapi tak perlu menyesal, bukankah hubungan itu bisa saya perbaiki kembali? Ia masih cantik, masih segar, masih seperti ketika saya kenal ia di pesawat lima tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama di pesawat kami berbicara santai. Ia ceritakan sedikit tentang kehidupannya, pendidikannya, termasuk mengapa ia memilih fashion sebagai jantung hidupnya. Rasanya baru sekarang ada perempuan yang membicarakan hal-hal pribadinya pada saya. Bukan melulu bisnis. Saya katakan bahwa sangat menyukai perempuan mandiri, bermasadepan jelas dan tidak canggung menjalani kehidupan. Ah, saya memang tak pernah belajar memikat hati perempuan. Tetapi bukankah perempuan juga pernah belajar dari bermacam pengalaman dan bentuk rayuan? Minimal perempuan cerdas lebih menyukai lelaki yang masih polos dalam asmara. Macam saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Nona, sesampainya di Bangkok nanti, bila ada waktu bolehkah saya ajak Anda makan malam?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya perhatikan ia masih berpikir sejenak menjawab pertanyaan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tapi bukankah Anda ke sana untuk urusan kantor? bukan berlibur,” ia masih ragu dengan ucapan saya, ”tentu Anda akan sibuk sekali di Bangkok.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Saya akan usahakan ada waktu buat bertemu Anda.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Baiklah, saya juga usahakan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kira-kira sepuluh menit berselang, kami sudah sampai di Kuala Lumpur. Setelah keluar dari pesawat saya bergegas menemui keluarga Om Iwan yang sudah menunggu seperempat jam sebelumnya. Saya hampiri Jessica untuk berpamitan. Saya katakan betapa beruntungnya saya jika bertemu kembali di Bangkok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Akan saya tunggu,” ucapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Baiklah, terima kasih,” saya jabat tangannya kembali, ”Selamat jalan, semoga perjalanannya menyenangkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Menyenangkan sekali...!” jawabnya seraya mengangkat kedua bahunya dan tersenyum. Lalu saya berbalik. Namun tiba-tiba tangan saya diraihnya. ”Saya tak suka dipanggil Nona, panggil saja Jessy!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Baiklah”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun pergi meninggalkan dia dari ruang tunggu penumpang. Sambil menggeret bawaan, saya menoleh ke kanan kiri. Saya lihat om dan tante melambaikan tangan dari kejauhan. Kami pun akhirnya berkumpul. Tak sulit memang menemukan rombongan Om Iwan dan keluarganya di bandara. Wajahnya masih tak asing buat saya meski di keramaian semacam ini. Satu-persatu keduanya memeluk dan bersalaman dengan saya. Azizah yang berdiri pula di sana tampak cekatan menyambut kehadiran saya. Ia tampak lebih dewasa. Mukanya bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sedikit bercengkerema di Bandara, meluncurlah kami ke kediaman om di kawasan Kelap Golf Diraja Selangor tepat di pusat kota. Rupanya kedatangan saya dimanfaatkan mereka untuk mengabarkan jadwal pernikahan Azizah dua bulan lagi. Saya terperanjat. Mengapa saat tunangan tidak memberi tahu saya? Akhirnya saya mafhum sebab acara tunangannya diadakan di Australia. Jangankan saya, kerabat lain dari pihak tante Sinta pun sengaja tak diberi kabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kan ini surprise buat kakak dan yang lain?” kata Azizah lantas tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya saya tak banyak bertanya. Satu minggu di jantung Malaysia saya habiskan buat berkunjung ke kerabat-kerabat dekat. Saya benar-benar mendapatkan wejangan berharga dari mereka mulai dari memilih calon istri hingga kiat membangun keluarga dari nol. Saya coba pahami perkataan mereka sehingga butuh waktu cukup lama. Memang tak sesuai jadwal, karena seharusnya saya sudah berada di Bangkok beberapa hari lalu. Saya mulai bimbang. Adakah Jessica masih ingat dengan saya. Adakah ia juga calon istri terbaik buat saya, tidak seperti yang diceritakan Ratna. Keesokan harinya, saya berangkat ke Bangkok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa orang mengatakan, bahwa sudah satu bulan rumah di seberang jalan itu ditinggal penghuninya. Tepat sebulan sebelumnya, di suatu malam, kedua penghuninya bertengkar hebat. Belum pernah mereka dengar pertengkaran semacam itu. Tapi tidak ada tetangga yang berusaha datang atau melerai pertengkaran kedua laki-bini yang sudah sekitar lima tahun berkumpul itu. Mungkin orang-orang sudah tak terlalu menganggap penting atau wah, sebab sudah menjadi sesuatu yang biasa selama beberapa tahun terakhir. Hampir tiap malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah itu kosong. Hanya ada seorang jongos yang biasa terlihat membersihkan halaman rumah besar itu tiap pagi. Beberapa waktu terakhir ia selalu bangun lebih pagi karena tumpukan dedaunan makin hari makin banyak saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari seorang dari tetangga lama yang sudah sekian tahun tak berkabar datang menjenguk. Dulu ia pernah tinggal satu blok dengan pemilik rumah mewah itu. Namun akhirnya ia harus pindah karena beberapa hal. Terutama karena istrinyalah yang meminta. Hanya beberapa jam, ia sudah banyak mendapat cerita warga tentang penghuni rumah tak bertuan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menarik nafas dalam, kemudian menyusuri sepanjang pagar rumah yang bercat mengkilat itu sambil sesekali melirik ke balik palang pintu. Seorang jongos paruh baya menghampirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” tanyanya sopan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kalau saya boleh tahu, kemana yang punya rumah, Pak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ke luar kota, Tuan” jawabnya pelan. ”Tuan sendiri siapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Saya Lukman dari Lampung, dulu saya pernah tinggal di rumah itu,” sambil menunjuk sebuah rumah di seberang jalan. ”Kapan kira-kira balik?” ia kembali bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Waduh maaf, saya kurang tahu,” keduanya diam sesaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ya sudah, saya titip pesan kalau beliau datang, tolong bilang saya kemari, itu saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Baiklah, Tuan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia segera beranjak, kemudian kembali menyelesaikan urusannya di Jakarta. Sulit menemukan seorang tetangga seperti dia, meski sudah lima tahun tak berkumpul. Namun ia tak pernah lupa sedikitpun kepada Ricky yang pernah membantunya. Ia limabelas tahun lebih tua. Pikirannya matang termasuk dalam berkeluarga. Kini kedua anaknya sudah masuk sekolah menengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya ia berpikir jika Ricky pastinya sudah beranak dan hidup bahagia. Meski tak sempat mendatangi resepsinya namun ia selalu berharap Ricky akan senang dengan istri pilihannya itu, seorang desainer terkemuka di ibu kota. Mengapa ia begitu peduli?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu, lima tahun lalu. Saat istrinya ditimpa sakit-sakitan, Ricky yang membantu. Saat hartanya dikeruk pencuri, Ricky pula yang pertama kali datang. Termasuk ketika hendak berpindah ke Lampung, Ricky lah yang pertama kali berpesan agar tidak jera berkunjung ke Jakarta. Kedua putranya pun begitu akrab dengan sosok Ricky sebagai pemuda mapan yang menyukai anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya yang sedikit membuat ia tak mengerti adalah dipecatnya Ratna dari pekerjaannya sebagai pembantu di rumah itu. Tapi ia tak mau tahu. Itu adalah urusan Ricky dengan pembantunya. Ia hanya begitu menyesal mendengar kabar Ricky yang tak hidup bahagia dengan istrinya. Banyak tetangga mengatakan istrinya kerapkali pulang larut malam. Menyalakan klakson mobilnya keras-keras tiap kali datang. Jangankan membantu menyelesaikan urusan rumah, pembantunya saja seringkali disemprotnya dengan perkataan tak mengenakkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kerabatnya pun mengisyaratkan Ricky agar menceraikan istrinya. Tapi Ricky tak bersedia. Istrinya yang mendengar campur tangan itu balik tak terima. Ia menghujat Ricky dan keluarganya habis-habisan. Akhirnya pecahlah perang keluarga di rumah itu. Istrinya kabur. Dan Ricky mencarinya entah kemana. Ah, memang sulit menutupi aib keluarga. Sebab kabar buruk tentu lebih cepat menyebar daripada kebaikannya. Dan setiap kesalahan awal, tentu akan berimbas pada kesalahan di akhir yang sulit dielakkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terkejut, seorang pelayan berdiri di samping saya sambil tersenyum ramah menyodorkan buku menu. Entah sudah berapa lama ia berdiri di situ. Saya tak sempat menanyakannya. Saya katakan bahwa saya tidak terlalu lapar, saya akhirnya memesan segelas minuman dan kentang goreng satu porsi. Dengan sigap seorang pelayan lain datang mengantarkan pesanan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya perhatikan mereka. Alangkah bahagianya hati mereka melayani setiap orang yang berkunjung kemari. Muka mereka bersih. Walau kadang dibuat-buat. Tapi bukankah kita tak akan tahu apa yang ada di pikiran mereka. Toh, lambat laun hal itu akan menjadi sebuah kebiasaan dari watak mereka. Bukan selalu kewajiban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mulai teringat Ratna. Ya, ia begitu piawai menghadapi saya sebagai majikannya. Ia selalu melayani saya. Entah mengapa saya mulai menyesal. Rasanya saya tak pantas membebaninya dengan pekerjaan rumah yang begitu padat meski tak pernah gajinya saya tunggak. Sudah beberapa bulan ini rumah saya tak ada yang merawat. Sedangkan saya sendiri tak mampu mengerjakannya. Saya merindukan Jakarta. Saya merindukan rumah saya yang bersih dan kembali bersinar. Besok, setelah urusan di sini selesai saya langsung kembali ke Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sudah tak betah lagi di Bangkok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu sudah saya tak ke kantor. Tubuh saya agak sedikit kurang sehat. Sudah tiga kali saya ke dokter, namun tak juga mendapatkan jawaban jelas atas penyakit saya. Istri saya pun sudah tiga hari ini tak masuk kerja karena harus menemani saya di rumah. Kata dokter terakhir, sebenarnya saya hanya sedikit stress diakibatkan beban pekerjaan. Jadi selayaknya saya dibawa kepada psikiater saja. Hanya sebatas konsultasi. Awalnya saya tak sepakat. Saya katakan kepada istri saya kalau saya tidak gila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Siapa yang bilang Mas ini gila?” kata istri saya, ”Apa salahnya kalau hanya sekedar datang? Makanya jangan terlalu banyak memikirkan pekerjaan! Jangan terlalu suka melamun.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Siapa yang terlalu banyak memikirkan pekerjaan?” saya mulai sewot ”Aku hanya memikirkan supaya keluarga kita bahagia, Sayang..!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tuh kan? Lama-lama Mas nanti malah gila beneran.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Terserahlah!” dan seperti biasa akhirnya saya mengalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu kami pergi ke psikiater. Namun tak ada yang cocok buat saya. Besoknya dua psikiater, namun tak juga mampu menyembuhkan saya. Empat hari kemudian, seminggu kemudian. Entah sudah berapa psikiater yang saya datangi. Tapi tidak ada satupun yang bisa memecahkan masalah psikologis dalam diri saya. Mengapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tak ada satupun dari mereka yang mengenal watak perangai saya. Mungkin ini salah satu kekurangan, karena dari sekian banyak teman saya, tak ada seorangpun yang berprofesi sebagai psikiater. Tak ada. Hanya istri saya yang mampu memberikan keteduhan dan ketenangan batin. Istri saya, mantan pembantu saya, yang sekarang memberikan seorang anak kepada saya. Adalah teman sekaligus psikolog buat saya yang tak perlu dibayar dan siap menghabiskan sisa umurnya bersama saya. Terimakasih, Ratna!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, April 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maud Khan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8194169263164832698-1655465994470888445?l=www.92maud.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.92maud.co.cc/feeds/1655465994470888445/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/11/mengulang-hidup.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/1655465994470888445'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/1655465994470888445'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/11/mengulang-hidup.html' title='Mengulang Hidup'/><author><name>92maud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15771142033201981403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SjycJmK2AII/AAAAAAAAAAg/FJCJ9UI4WxM/S220/Maud+Khan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SwnAXLsf8YI/AAAAAAAAAOg/AbgCHvIQIBQ/s72-c/mengulang+hdup.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8194169263164832698.post-1784842190024894202</id><published>2009-11-22T14:45:00.000-08:00</published><updated>2009-11-22T14:49:45.037-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen Maud Khan'/><title type='text'>Anak-Anak Hujan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/Swm_RVo8qEI/AAAAAAAAAOY/j_xxExLeQ8U/s1600/anak-anak+hujan+copy.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 158px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/Swm_RVo8qEI/AAAAAAAAAOY/j_xxExLeQ8U/s200/anak-anak+hujan+copy.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407063132222564418" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Beberapa waktu setelah Panas dilahirkan, di tempat lain lahirlah Hujan. Tak ada yang tahu persis kapan kejadiannya. Jangankan kepala desa, bahkan camat sekalipun tak berani mengira-ngira tanggal kelahirannya itu. Mungkin pikir mereka menebak-nebak hari kelahiran sama halnya dengan menyuruh ibunda Hujan murka. Ibunya memang takut kualat jika mempermainkan tanggal kelahiran. Terutama buat peruntungan anaknya kelak. Sehingga walau diberi embel-embel apa pun, ia tak mau tanggal lahir anak satu-satunya itu ditulis secara ngawur. Pikirnya, lebih baik jika dikosongkan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janda beranak satu itu memang tak tahu kapan anaknya dilahirkan. Di rumahnya tak ada kalender, jam dinding atau apapun yang dapat menjelaskan pergantian waktu. Ia hanya tahu weton. Itupun sebatas diberi tahu tetangga, dan masih terlalu kabur keakuratannya. Tapi apalah artinya weton. Sedang sekarang sudah bukan lagi zaman kerajaan. Baru setelah kira-kira sebulan dirinya melapor ke kepala desa bahwa ia baru saja melahirkan orok. Sejak saat itu, Hujan adalah satu-satunya anak yang tak memiliki data kelahiran jelas di negeri itu. Bahkan mungkin satu-satunya diantara dua milyar lebih penduduk dunia. Tapi untuk sekolah ia sudah dapat rekomendasi dari kepala desa dan kecamatan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu ia masih anak-anak, rambutnya terurai lurus sebahu. Jika pagi ia sekolah, siangnya bermain-main dengan teriknya matahari, dan malamnya ia mengaji di surau. Sekolahnya ia selesaikan dengan prestasi yang memuaskan. Bahkan jika dibandingkan saudara-saudara yang lain, Hujan adalah anak yang paling cerdas. Lain dari itu, ia dikenal sebagai anak yang santun dan hormat pada yang lebih tua. Ia tak pernah mengeluh walau diperintah macam apapun oleh ibunya. Sejak kecil ia hanya menurut, dan seperti biasa ia hanya diberi tugas buat mengirim air di sekeliling desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring bergantinya waktu, maka Hujan tumbuh sebagai anak yang cakap dan pandai. Ia mulai memiliki keinginan buat melanjutkan sekolah. Tapi apa boleh dikata? Ia tak punya data kelahiran sebagaimana peraturan sekolah-sekolah perkotaan, bahwa tanggal kelahiran harus diisi dengan sebenar-benarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tapi ini asli, Pak” kata ibunya meyakinkan panitia pendaftaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Asli bagaimana sih, Bu? Ini masih kosong.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Memang seperti itu kok, Pak!” tandas ibunya lagi, ”Dulu di desa ia diterima.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tapi ini kota, Bu. Di sini ada peraturan. Pendataan harus lengkap. Terus bagaimana dia bisa kerja? Bagaimana dia bisa melanjutkan kuliah? Sedang untuk data kelahiran saja tak jelas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terus bagaimana ini, Pak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terserah ibu saja, kalau ibu punya uang lebih saya bisa urus,” kata panitia itu sambil tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama seperti yang dikatakan oleh kades dan camat belasan tahun lalu saat ibu Hujan berniat untuk mengurus Akta Kelahiran anaknya. Tapi bukan ibu Hujan kalau ia tidak berprinsip. Daripada harus menyuap, lebih baik ia menjadikan anaknya sebagai tukang kirim air keliling desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dalam sekejap saja, nama Hujan mulai dikenal di seluruh masyarakat. Tidak hanya di desa, bahkan pernah juga sesekali ia diterbangkan ke kota-kota besar buat mengirim air pula. Jadwalnya padat. Tiap hari, tiap jam, ia harus sering berpindah tempat. Jika dulu di rumahnya sepotong kalendar pun tak ada, sekarang untuk mempermudah pemesanan sudah ada pula mesin fax dan telepon yang bisa dihubungi sewaktu-waktu. Ada juga sebuah mobil hasil kredit, yang bisa dipakai sesekali jika ada order yang dirasa jauh berjalan kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama-lama Hujan risih juga dengan apa yang terjadi akhir-akhir ini. Banyak orang rebutan untuk mendapatkan pelayanan Hujan setiap jamnya. Bahkan di beberapa tempat sampai diadakan pelelangan buat satu jam jatah Hujan. Dan yang lebih menjengkelkan, di kota-kota sudah banyak ’calo’ yang berjualan jasa Hujan dengan harga mencekik. Belum lagi sebagian dukun yang menolak Hujan lantaran ada acara pernikahan dan hajatan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga hari lalu Hujan didatangi sekelompok orang tak dikenal, mereka langsung mencak-mencak di depan kantornya. Mereka merasa dirugikan lantaran acara karaoke-an yang mereka adakan bubar. ”Hujan harus bertanggung jawab!” teriak mereka. Beberapa menit berselang Hujan keluar. Dan bubarlah barisan demonstran itu kocar-kacir. Dan begitulah bila Hujan sedang marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan masih memandangi jadwalnya, daerah mana saja yang harus ia lewati, daerah mana yang pantang ia lalui, yang boleh ia lalui, atau yang boleh ia nikmati pemandangannya buat bermain-main. Ia masih bingung rencana apa yang harus ia pikirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Hujan memutuskan untuk membuat pengumuman melalui surat kabar yang isinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Hujan meminta maaf atas pelayanan selama ini yang kurang memuaskan. Ini semua lantaran kinerja sekretaris Hujan yang kurang profesional. Tapi dia sudah dipecat, kok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Hujan tidak pernah membanderol harga. Jika ada yang mengatasnamakan Hujan dengan meminta sejumlah uang. Jangan dikasih!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Keterlambatan pelayanan akan diganti sesegera mungkin. Dan terakhir,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Hujan tidak bertanggungjawab atas segala kerusakan yang disebabkan kelalain kliennya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ttd&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata iklan ini memantik masalah. Beberapa oknum yang selama ini merasa selalu dirugikan oleh Hujan mulai melapor ke aparat berwajib. Banyak pula perusahaan yang tak setuju dengan iklan promosi Hujan ini, terutama perusahan-perusahaan air yang sejak dulu memang telah dibikin pusing. Karena takut kalah pamor, mereka akhirnya berkonspirasi dengan mendatangi pemerintah, kejaksaan dan kepolisian buat menjegal Hujan dan ibunya ke manapun mereka hendak datang. Dilaporkannya bahwa Hujan itu merupakan usaha ilegal. Tak bersurat. Harus dibasmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat kata, dibuatlah penjegalan-penjegalan yang berujung pada larinya Hujan dan ibunya ke negeri orang. Ia sudah tak kembali lagi. Dan ia memang tak akan kembali. Ia sedih. Sudah puluhan tahun diabdikan seluruh hidupnya buat tanah air. Tapi ia malah dibuang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kurang apa aku ini? Kurang apa?” keluhnya di suatu tempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sudahlah, nak...! tak usah kaupikirkan itu. Sekarang pikirkan dirimu. Mungkin sudah saatnya kau menikah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tapi siapa yang akan mau menikah denganku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku.” tiba-tiba keluarlah suara dari balik dedaunan-dedaunan. Dialah Panas. ”Mungkin kita bisa menjadi pasangan yang serasi,” katanya pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kau?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ya, aku sudah banyak tahu tentangmu. Nasibmu memang tak seberuntung aku. Mari kuajak kalian ke negeriku. Di sana semua serba mudah, teratur dan tak berbelit-belit seperti di negaramu. Orangnya pun ramah-ramah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu Hujan dan ibunya mulai tinggal di negeri yang nun jauh itu. Dia pun sudah punya KTP walau data kelahirannya kosong, tapi itu tak jadi soal. Dan untuk pertama kalinya menikahlah kedua mempelai itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang mereka sudah beranak pinak, ada yang sama dengan Hujan, ada yang nurun dari Panas, dan ada pula yang mewarisi keduanya. Mereka sekeluarga bisa bekerja dengan leluasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Hujan rindu juga pada kampung kelahirannya. Banyak sekali email dan sms yang masuk ke handphone-nya menyuruh dia kembali, ia begitu dibutuhkan. Tapi untuk kembali jelas tidak mungkin. Tekadnya sudah bulat untuk tak kembali. Bukankah jika itu dilakukan hanya akan ada intimidasi? Ada pengusiran, penghinaan. Sebenarnya jika dia mau sekedar berkunjung. Bisa saja. Sebab tak perlu repot naik perahu atau mobil butut. Pesawat pun bisa menjadi tumpangan yang jadi pilihan utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas bagaimana lagi? sedang di negara asalnya itu tak ada jaminan keamanan transportasi, kalau mati belum tentu dapat ganti rugi, prosedurnya ribet, belum lagi jadwal yang suka molor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya ia kasihan juga. Tiap hari ia sering baca di surat-surat kabar tentang hiruk pikuk pejabat yang saling tuduh korupsi , berebut kursi kekuasaan dengan berbagai cara, termasuk menumpuk hutang luar negeri sebanyak-banyaknya. Barang-barang dijual mahal, sedang harga diri diobral murah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya itu, puluhan bencana beberapa bulan terakhir yang sering ia tonton di TV pun tak kalah hebohnya. Mulai dari tanah longsor, angin topan, banjir, kemarau panjang dan sejenisnya. Tapi untuk masalah ini ia masih bisa maklum. Ya, bagaimana tidak harus dimaklumi. Sedang ketiga anaknya pun butuh belajar beserta prakteknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sudah saya katakan, bahwa ’Kami tidak bertanggungjawab atas segala kerusakan yang disebabkan kelalain kliennya’, dan sampai sekarang peraturan itu masih berlaku.” ucapnya suatu ketika di depan televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, 25 Mei 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maud Khan&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8194169263164832698-1784842190024894202?l=www.92maud.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.92maud.co.cc/feeds/1784842190024894202/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/11/anak-anak-hujan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/1784842190024894202'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/1784842190024894202'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/11/anak-anak-hujan.html' title='Anak-Anak Hujan'/><author><name>92maud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15771142033201981403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SjycJmK2AII/AAAAAAAAAAg/FJCJ9UI4WxM/S220/Maud+Khan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/Swm_RVo8qEI/AAAAAAAAAOY/j_xxExLeQ8U/s72-c/anak-anak+hujan+copy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8194169263164832698.post-2509823776704670423</id><published>2009-11-22T14:42:00.000-08:00</published><updated>2009-11-22T14:49:45.038-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen Maud Khan'/><title type='text'>Semua Karena Kakek</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/Swm-nCCSgvI/AAAAAAAAAOQ/PNsLgyIoR7k/s1600/semua+karena+kakek.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 195px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/Swm-nCCSgvI/AAAAAAAAAOQ/PNsLgyIoR7k/s200/semua+karena+kakek.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407062405405639410" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Terkadang cinta memang aneh… Tapi cinta memang tak mampu dirasakan, sebab ia terlalu lembut. Orang sepertiku memang tak pantas memiliki cinta, mengalami, ataupun melihatnya. Sampai sekarang aku masih bertanya-tanya adakah sebenarnya cinta sejati? Apakah cinta hanya sekedar dongeng belaka yang merupakan hasil dari kegilaan sesama makhluk yang tiada tertahankan? Ah! Apalah cinta itu jika tiada pengharapan untuk menemukan dan mendapatkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapan aku mengenal cinta? Sejak kecilkah? Di bangku sekolahkah? atau saat aku menuliskan cerita ini? Ah, jika begitu mungkinkah cinta itu tumbuh seiring dewasanya alam pikir kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah kita selalu bercerita. Tentang bagaimana rasanya hidup berdampingan dengan orang yang kita sayangi. Sebagai impian hidup kita. Cita-cita kita. Kita merayu, menggoda, memeluk, mencumbu bahkan jika perlu berbohong demi 'cinta'. Mencari kepuasan hidup untuk sekedar berpamer dengan yang kita miliki. Manusia tumbuh dengan jalan dan likunya, seperti padi yang tumbuh di musim kemarau. Ia akan terus berharap akan hujan, walau mustahil. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu aku berpikir cinta itu adalah perasaan yang lebih terhadap seseorang, diatas yang lain. Sewaktu sekolah, seringkali aku menulis di halaman depan buku dengan kata-kata "I love You" atau "aku cinta kamu". Membuat puisi dan beberapa pantun pendek. Melakukan banyak tindakan bodoh. Melirik beberapa anak perempuan di samping meja belajar kelas. Kemudian melempar selembar kertas yang berisi tulisan konyol sebagai ungkapan perasaan. Tak pernah ada tujuan di sana. Apalagi komitmen. Hanyalah setitik pengaruh lukisan lipstik, tatanan rambut, atau sesuatu yang lebih hormonal tentunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih teringat betul, betapa seringkali aku melihat tubuh-tubuh perempuan itu menghanyutkanku. Entah sudah berapa kali kulontarkan kata-kata manis merayu dan memanggil mereka dengan beragam keahlian yang kuketahui dari beberapa kawan. Kadang jiwa tak bisa dibohongi, meski tak sepenuhnya suka, namun tatapan awal terkadang lebih membekas. Tetapi, bukankah sesuatu yang berjalan tetaplah memiliki permulaan dan akhir? Sedangkan permulaan tetap saja berawal dari pandangan. Ah, hingga sekarang aku juga tak pernah percaya dengan ’cinta pandangan pertama’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terperanjat! Sepuluh menit lagi aku harus tiba di kampus. Ada beberapa pekerjaan yang perlu kuselesaikan. Sementara itu, baru saja ada kabar tentang kakek yang sakitnya makin parah di kampung. Secepat kilat aku menyambar tas dan motorku, mampir sebentar ke photo copy dan menitipkan proposal kegiatan pada kawan sekelas untuk diserahkan besok. Sore ini aku harus ke kampung menjenguk kakek. Mungkin. Setelah kuliah nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya itu. Aku harus menjemput Laela secepat mungkin sebelum dia berangkat sendiri ke kampus. Seperti yang biasa dia lakukan tiap kali aku terlambat menghampirinya. Setelah lima menit perjalanan, kulihat dia masih berdiri tegak, sejajar dengan tiang telepon di sampingnya. Tapi ia tak marah. Dan memang sikap tak pernah marahnya itulah yang selalu membuatku tak berdaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mengapa lama sekali, Rus?" Ia bertanya penasaran saat aku tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Barusan aku ketiduran sehabis subuh." jawabku meyakinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Makanya, tidur jangan malem-malem!" Ia mulai mengingatkan "Nih, lihat! dah mau masuk kan?" Ia menujuk jam tangannya lalu menatapku dengan matanya yang terang laksana bintang di pagi hari itu. Aku hanya tersenyum. Dan kami pun berangkat ke kampus dengan sejuta kebahagiaan seperti biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, tatapan itulah yang setahun lalu membuatku bertekuk lutut. Tatapan matanya penuh makna dan perasaan. Tidak ada sedikitpun cacat dalam dirinya. Raut mukanya selalu cerah. Apalagi kecantikannya itu terkumpul dalam bingkai kerudung putih yang tak pernah ia tanggalkan. Tak pernah pula ia berbesar hati di hadapan orang. Bicaranya sedikit, tak seperti kebanyakan perempuan seusianya. Agaknya perangai itulah yang lebih membuatku tertarik di samping fisiknya yang nyaris sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun lalu aku mengenalnya di kedai kopi. Kedai itu kecil, jauh dari keramaian. Tempat pemuda biasa berkumpul untuk membicarakan masing-masing pribadinya, urusan perempuan. Kukenal ia saat pertama kali datang ke kedai bersama kakaknya yang sebelumnya kukenal baik. Kedatangan mereka berdua itu membuat pembicaraan beralih. Masalah organisasi. Oooh... Sungguh Membosankan. Kakaknya, Andre, memang penggila dan pecandu organisasi. Selama pembicaraan yang tak menarik itu, aku hanya mampu melepaskan pandangan liarku ke arah Laela. Matanya menangkapku. Ia hanya tersenyum kecil, tak seperti diriku yang banyak cakap. Dan dari situlah besoknya aku berani mengajak makan siang di warung dekat kedai kopi langgananku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun bukanlah waktu yang lama, tapi setahun bukan pula waktu yang sebentar untuk mengukur kekuatan 'cinta'. Aku menemukannya sebagai orang yang paham tentang itu. Tak jarang kami mendebatkannya. Baginya cinta dibangun atas dasar rasa percaya. Cinta diracik dengan bumbu kesetiaan, mengerti satu sama lain dan tentu menerima apa adanya. Ah, dasar perempuan! Apapun serba diperhitungkan dan didramatisir. Dasar makhluk sensitif! Tetapi di balik itu aku mengagumi gaya bicaranya. Perlahan, santai dan mampu membikin siapapun yang mendengarnya terhipnotis. Semua perkataanya masuk akal dan aku pun menerimanya. Setidaknya membuat arahku sedikit berubah dalam memahami arti cinta itu sendiri. Untuk memiliki komitmen bersama. Ya, komitmen! Itulah yang aku simpulkan sementara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di warung dekat kedai kopi langgananku itu. Masih di hari yang melelahkan ini, ia melanjutkan ceramahnya di sela-sela makan siang. Siang itu masih cerah. Secerah wajahnya yang tak terusik walau terkena panasnya hari. Ia menggerak-gerakkan bibir merahnya yang tanpa pewarna sambil memandangku. Ia memang pandai mengarahkan pembicaraan. Walau tak terlalu dipaksa, tetapi telingaku selalu hanyut dalam hidangan yang keluar mulutnya yang indah itu. Tapi saat itu yang menjadi lakon utama adalah aku. Ya, aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mulai sampaikan hal-hal penting siang itu. Berbagai hal, kecuali sakit kakek yang sudah begitu parah. Terakhir kukatakan padanya bahwa seorang pecinta harus memiliki keteguhan jiwa agar kedua pihak tak mudah berputus asa menjalani hidup. Tegar menghadapi cobaan-cobaan cinta. Dan entah apalagi. Aku sendiri makin tak mengerti dengan yang kuucapkan. Aku masih melanjutkan. Seorang pecinta sejati harus memiliki kerelaan hati, bahkan untuk berpisah sekalipun. Mengorbankan cintanya. Demi cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berpisah? Mengorbankan cinta?" ia bertanya heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, kenapa? Kau masih belum paham?" aku balik bertanya. Namun sama sekali tak merubah raut mukanya saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak-tidak, bukan begitu," ia mencoba menenangkan diri, "aku hanya aneh saja.. jika....jika... harus merelakan cinta?. Itu paradoks, mengorbankan cinta demi cinta. Bahkan baru sekarang aku mendengarnya seumur hidupku"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi bukankah cinta itu pemberian Tuhan? Bukankah kita hanya menerimanya? Bagaimana jika Tuhan mengambilnya kembali? sedang kita berdua belum siap." Ia masih terlihat tenang layaknya batu karang yang tak goyah dihempas gelombang. "Aku hanya tak ingin kita berdua belum siap menerimanya, Lel! Betapa banyaknya manusia-manusia bercinta dan tenggelam dalam cintanya. Tanpa menyadari kuasa Yang Memiliki Cinta. Toh hidup dan cinta bukan kita yang memintanya,” aku mulai serius. Aku coba meyakinkannya. Biasanya ia tak terlalu menanggapi, tapi kali ini tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Laela.., kau tak tahu maksudku. Begitu cintanya aku. Hingga tak sanggup meninggalkanmu walau sekejap. Tak kan ada yang mampu memisahkan kita, Lel! Kecuali maut. Kalaupun kau mau, ke ujung dunia pun kau akan kudatangi. Tak peduli sekalipun Tuhan yang melakukannya." Kupegang kedua tangannya. Kugenggam erat jari-jemarinya yang lembut bagai jalinan sutera itu. "Tetapi! hidup tidak hanya berjuang menghadapi maut. Bisa saja kematian itu kita dapati semasa hidup bahkan sebelum kita merasakan kehadirannya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Salah sendiri, kita hidup diberikan cinta. Mengapa harus diambil kembali?” aku mulai tak sabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, itulah akibatnya jika terlalu banyak membaca buku-buku filsafat, Rus. Kau selalu berbicara tentang hakikat, tentang tujuan atau apalah yang selama ini membuatmu makin aneh." Kulihat ia mulai jengkel dengan kata-kataku. "Kita jalani saja hidup ini seperti kebanyakan orang menjalaninya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ah, kau masih saja tak paham ucapanku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau cinta padaku, Rus?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maksudmu?" Aku semakin heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau tak akan melupakanku, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jelas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terdiam sejenak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ku akan selalu mencintaimu, Laela!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menatapku dengan penuh haru. Kulihat raut wajahnya sedikit berubah seiring bergesernya jam demi jam. Karang itu mulai terkikis sebab ombak yang tak henti-hentinya menghantam. Kutatap kembali matanya yang berbinar-binar itu. Mata itu seakan-akan berkata "terima kasih, Rus! Terima kasih."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak menyangka betapa soal cinta ini teramat mengganggu. Aku mengerti jika ia tak lagi meragukan cintaku. Tak seperti dulu saat aku pertama kali mengenalnya di kedai kopi Tapi ia tak pernah tahu bahwa ada sesuatu yang kusembunyikan hingga sekarang. Meski begitu, aku bukanlah pecinta layaknya anak-anak SMP yang tak punya pegangan, harapan dan cita-cita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku sudah menyiapkan semuanya untuk kita. Ya, termasuk untuk tak bertemu denganmu lagi. Bukankah kita sama-sama demikian?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya mampu bermenung. Ia masih diam. Lama aku menatapnya dengan penasaran yang masih melanda yakinku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ah, betapa aku cinta padamu, Atau mungkin kali ini aku sengaja menjadikanmu sekadar percobaan teori-teori cinta yang baru kudapat tadi itu?” kataku dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun, tiga bulan, lebih lima hari. Aku sedikit tak mampu memahami semua ini. Surat-surat di lantai, email di komputer, sms yang belum terbalas. Semua hampir tak ada artinya buatku. Kata-kata sayang, miss you, love you yang setiap hari terbaca membuatku semakin bimbang. Membuatku benci, benci dengan diriku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun lebih aku ditinggalnya dalam janji setia yang ia titipkan bersama setangkai mawar buatan tangan. Kuyakin kalimat-kalimat itu ditulisnya dengan kepingan kepercayaan. Dengan bumbu-bumbu cintanya yang dulu pernah diceritakannya padaku. Ah, Ternyata benar apa kata orang. Ketika jarak sudah tak berpihak lagi dengan kita. Ketika rindu hanya dihargai dengan selembar foto dalam bingkai cantik, tulisan, serta kata-kata manis yang melewati kawat telepon tiap pagi. Semua tak ada arti jika belum melihat wajah aslinya yang ayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya bisa menyesali diriku yang separuhnya telah mengikuti dirinya terbang jauh. Jauh sekali. Ia terbang ke Belanda mencari separuh tubuhnya yang hilang. Separuh tubuhnya yang ada pada Laela. Ia terlalu lama meradang sebab tak mampu menahan keinginannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang lengkaplah diriku yang tinggal separuh ini. Yang hanya dipuaskan oleh kata-kata manis. Memandangi bingkai cantik di atas meja. Membaca lembaran-lembaran kertas yang sudah usang. Mengingat-ingat kenangan bersamanya hingga kerutan di dahiku semakin menumpuk. Ya, aku mengingatnya dengan terpaksa. Demi mendiagnosa penyakit rinduku yang sesekali kambuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah ia meneleponku tepat tengah malam. Menceritakan indahnya taman kota, memperkenalkan beberapa kawan perempuannya, dari Jepang, India, Mesir. Lantas menyuruhku berbicara dengan ketiganya. Sambil tertawa, bergurau dan bercanda. Nampaknya ia bahagia sekali di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata kau betul, Laela. Aku terlalu gegabah memaknai cinta kita. Aku terlalu cepat mengambil keputusan tentang keberangkatanmu ke Eropa. Tapi aku punya alasan untuk itu. Kini aku kesepian. Sementara di sana kau banyak bercerita tentangku. Menulis namaku dalam kamus dan di setiap lembaran-lembaran buku harianmu. Kau masih mencintaiku, Laela? Sayang sekali... Kau benar, aku belum siap. Aku memang terlalu banyak bicara cinta. Sedang cintamu benar-benar mulia. Ia teguh. Kau memang menguasai semua topik yang sering kau bicarakan. Kau sempurna. Sedang aku tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski berkali-kali kukatakan akan tegar menjalani semuanya. Namun, sekarang aku telah menjalani kematian sebelum aku melihatnya. Persis seperti kataku. Aku tak bisa untuk selalu mengangkat teleponmu, membalas puluhan sms, membuka tumpukan email di komputer atau sekedar membereskan surat-suratmu yang selalu datang tiap minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak ada beda, layaknya anak-anak sekolahan yang selalu berpikir konyol atas nama perasaan, mengumbar kata cinta, cinta dan cinta setiap pagi dan sore. Tak punya tujuan, apalagi komitmen. Hanyalah pengaruh lukisan lipstik, tatanan rambut dan sesuatu yang lebih hormonal tentunya. Ah, Aku sudah lupa dengan janji kita. Yang kuingat hanya janji bersama perempuan-perempuan yang seringkali menungguiku di terminal, restoran, kampus, tempat hiburan atau bar. Berjalan melewati lorong ke lorong, gang demi gang, mencumbu, memeluk, menggoda, dan merayu. Berpamer kemesraan di depan kawan kost. Bukan untuk memikirkan masa depan kita, cinta sejati, abadi, atau sekedar keteguhan jiwa. Sedang memegang dirimu pun aku tak bisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketukan di pintu rumah membuatku bangkit. Kudapati Pak Badrun, tukang pos yang biasanya mampir di depan pintu tiap minggu itu, berdiri sambil melempar senyumnya. Ia memberikan surat kepadaku. Masih seperti biasa. Ia berlalu dengan sepeda anginnya. Sedang aku masuk kamar tanpa perasaan apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba bunyi sms mengagetkanku. Dari Andre. Kubaca perlahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kuharap kau datang ke rumah secepatnya, sore ini Laela akan tiba di Jakarta. Kita sambut kedatangannya. Andre"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya Allah, Laela, kau datang hanya untuk menemuiku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubuka surat terakhir yang kuterima hari ini. Ya, ia sakit. Sudah parah. Kubuka lagi surat-suratnya yang kusimpan dalam loker. Kubaca semuanya dengan seksama. Ya, ia sudah dua bulan bergelut dengan rindunya, ia benar-benar ingin kembali. Kubuka email, foto-foto kirimannya. Ah, semuanya sudah terlambat. Besok ia akan datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Agaknya inilah yang ku takutkan, Laela,” tak terasa airmataku menetes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku tak berani melepasmu, tapi aku tak berani berkata jika aku tak mampu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sekarang sudah gila. Bahkan lebih dari itu. Kubaca ceritanya satu persatu, cerita harian tentang kuliahnya di Leiden. Cerita tentang indahnya negeri kincir angin. Foto-fotonya di antara rangkaian bunga tulip. Dan tak lupa ceramahnya tentang cinta yang dulu sering membuatku bosan. Aku mempelajarinya seharian. Sorenya, malamnya. Aku masih belajar dari tulisan anehnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Rus, Laela sudah sampai di bandara. Kuharap kau cepat datang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi Andre mengirim sms padaku. Aku masih membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sungguh, kalau saja bukan kakek yang memintanya, semua tak kan seperti ini Laela... Sementara itu, istriku masih menungguiku di pintu kamar dengan perasaan cemburu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, 17 Nopember 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 01.00 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maud Khan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8194169263164832698-2509823776704670423?l=www.92maud.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.92maud.co.cc/feeds/2509823776704670423/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/11/terkadang-cinta-memang-aneh-tapi-cinta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/2509823776704670423'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/2509823776704670423'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/11/terkadang-cinta-memang-aneh-tapi-cinta.html' title='Semua Karena Kakek'/><author><name>92maud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15771142033201981403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SjycJmK2AII/AAAAAAAAAAg/FJCJ9UI4WxM/S220/Maud+Khan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/Swm-nCCSgvI/AAAAAAAAAOQ/PNsLgyIoR7k/s72-c/semua+karena+kakek.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8194169263164832698.post-2796893697221276142</id><published>2009-11-22T14:39:00.001-08:00</published><updated>2009-11-22T14:49:45.039-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen Maud Khan'/><title type='text'>Perempuan Itu...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/Swm91A7Cm4I/AAAAAAAAAOI/IE04wRLc-KM/s1600/perempuan+itu.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 168px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/Swm91A7Cm4I/AAAAAAAAAOI/IE04wRLc-KM/s200/perempuan+itu.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407061546113342338" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sudah dua bulan kutinggalkan rumah ini. Halamannya mulai kotor dipenuhi dedaunan. Lantainya berdebu. Meski posisi setiap perabotan tak ada yang berubah— sebab kuyakin tak ada seorang pun yang memasuki rumah ini termasuk pencuri—namun tetap saja terlihat berbeda seakan telah bertahun-tahun tak ditempati. Terlalu lama tak dibersihkan karena tak ada yang merawat selama aku pergi. Tapi entahlah, waktu berjalan teramat cepat, mungkin akibat kesibukanku yang tak terbendung. Sementara itu, hingga sekarang aku masih mejadi seorang yang gila dengan pekerjaan. Dulu sebenarnya sempat ada keinginan untuk mencari pembantu, tapi entahlah, kurasa aku masih bisa menangani rumah ini sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di depan rumah ada sebuah toko yang selalu buka tiap pagi higga larut malam. Toko itu tepat menghadap jalan. Intinya toko itu jelas menghadap rumahku. Seringkali aku duduk di pelataran rumah buat menyaksikan pemandangan luaran yang menurutku kacau tapi menyenangkan. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ternyata bukan kacau itu rupanya yang membuatku makin betah duduk-duduk di pelataran rumah tiap sore, melainkan seorang gadis penjaga toko yang kiranya tak perlu lagi kuceritakan tentang kecantikannya, saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mukanya cerah, rambutnya lurus kemerah-merahan, dan ia tak pernah berpenampilan keterlaluan seperti yang sering dilakukan perempuan seumurnya. Jadi menurutku, dia begitu bersahaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aku bukanlah orang yang pandai mengajak orang buat bicara. Singkatnya, aku bukanlah pemberani buat masalah rayu-merayu atau semacamnya. Meski kadang kurasakan aroma pandangan matanya yang bertemu dengan mataku, tapi aku acuhkan pandangan itu seakan aku hanya tak sengaja memperhatikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi lama-lama aku bosan juga rupanya dengan tingakahku ini, sehingga suatu pagi aku beranikan datang buat membeli barang-barang keperluan kamar mandi. Ah, setidaknya sekadar basa basi. Dan itulah kali pertama aku membeli di tempat itu setelah kira-kira lima bulan aku pindah dari Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sudah lama kerja di sini?” tanyaku seketika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Belum lama,” jawabnya perlahan. Kuperhatikan sekeliling, rupanya belum ada yang datang. Toko masih sepi. Sedang ia masih memandangi kalkulator sambil lalu menghitung-hitung belanjaanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kamu tinggal di mana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Di situ,” sambil menunjuk ke sebuah gang di balik tikungan. ”tak jauh kok,” katanya pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hmm, kalau begitu terima kasih, aku masih ada urusan,” kataku, beranjak pergi. Sungguh bukan karena terburu-buru, tapi memang lantaran tak sanggup aku berlama-lama di sana. Seakan ada yang memaksaku untuk segera pulang. Dan hampir selalu itu saja yang terjadi. Selebihnya, aku lebih suka menyapanya saat berangkat kerja, atau saat aku datang dari pekerjaan di sore yang melelahkan. Ya, walau hanya sekadar mengulas senyum dan cukup mengatakan ”mari....” tapi memang begitulah. Ohh, sungguh menggelikan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah dua bulan rumah ini kutinggal. Tentu bukan waktu yang sebentar meninggalkan perempuan penjaga toko yang selama ini kusenangi. Di rumah Badrun, sepupuku yang ada di Malang, memang banyak perkerjaan yang harus diselesaikan. Sehingga tak aneh jika aku harus berlama-lama di kota dingin itu. Tapi bukan itu saja yang membuatnya makin lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima hari lalu sebelum aku beranjak pulang, Ade, temanku semasa kuliah yang kini tinggal di Solo ternyata sakitnya kambuh. Sudah tiga hari dia tak keluar dari rumah sakit. Jadi dengan sangat terpaksa kusempatkan sejenak menjenguknya walau dia minta ditemani lama-lama. Dan akhirnya aku harus mengalah juga. Dan jika boleh jujur, sebenarnya adik Ade yang berhasil membuatku berhari-hari betah di rumah sakit. Dan memang itulah pusat kelemahanku. Kelemahan yang seringkali dimiliki kebanyakan lelaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kalau boleh tau, sakit apa kakakmu?” tanyaku ketika itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku juga gak tau kak. Sejak pulang kerja dari Surabaya tiba-tiba saja ia tak bangun-bangun dari kamarnya. Nampaknya ia sedang kena penyakit hati.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Maksudmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Biasa, penyakit laki-laki,” katanya sambil tersenyum-senyum ”tapi tak pa kok, bentar lagi juga sembuh. Mungkin dia hanya shock.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata benar apa yang dikatakan Rini, ia betul-betul sedang terkena demam cinta. Gadis yang membuat Ade tak berdaya itu kuketahui namanya Astuti. Dia kuliah di Surabaya. Berdasarkan cerita Ade, aku bisa simpulkan bahwa dia adalah perempuan jahanam. Ade yang selama ini sudah setia telah ditinggal kawin seminggu lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang membuatku begitu heran, Ade yang selama di Jakarta dikenal sebagai pemburu wanita paling gila rupanya takluk juga ia dibuat Astuti yang lebih gila lagi. Menurut sebagian orang itu karma. Tapi aku tak percaya. Bagiku ini hanya semacam permainan. Dan sebagaimana kebanyakan permainan, kita selalu menjumpai berbagai hal yang kebetulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sabar...” ujarku, ”orang ganteng sepertimu kan juga tak luput dari ujian?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ade hanya diam mendengar perkataanku. Ia masih meringkuk kedinginan yang sama sekali tak kurasakan di ruangan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kau sudah punya pacar?” tiba-tiba Ade bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Menurutmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kau itu tak pantas punya pacar, Lim,” katanya lagi. Aku makin bingung. ”kau tak pantas punya pacar kecuali dia sayang sama kamu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ah, kau ada-ada saja, De.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Betul,” katanya lagi, ”kau itu tampan, baik, berpendidikan, tak pernah bermain perempuan pula.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sudahlah, tak usah banyak memuji,” kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu aku merasa bahwa memang sudah selayaknya aku mampu menggandeng pasangan. Jangankan pasangan, memberi makan anak bini pun bagiku bukan masalah. Ha, tapi itu kan hanya lelucon saja buat menyenangkan hatiku. Tapi setidaknya membuatku semakin bersemangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah dua bulan. Ya, dua bulan aku tak melihat perempuan penjaga toko langganan baruku itu. Perempuan yang membuatku tak perlu jauh-jauh berbelanja. Tapi pagi ini aku belum melihat mukanya barang sekelebat. Aku masih duduk-duduk di depan rumah. Menantikan perempuan penjaga toko yang biasa tersenyum dan menyapu halaman tiap pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah satu jam toko buka. Tap tak juga ia keluar. Barangkali ia sakit. Mungkin. Akhirnya kuberanikan bertanya kepada penjaga yang menurutku belum pernah kulihat sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Penjaga yang biasanya nunggu di sini kemana mbak ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Siapa ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Yang biasa jadi kasir,” kataku lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Rani apa Tatik?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celaka, bahkan namanya pun aku tak tahu. Padahal hari ini aku baru hendak menanyakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hmm, saya kurang tahu namanya,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kalau Rani dia hendak kawin,” ungkapnya, ”tuh surat undangannya masih ada. Tapi kalau Tatik dia minggat,” katanya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Minggat?” aku mulai heran ”kenapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Biasa, masalah dengan juragan.” katanya menambahkan, ”juragan di sini agak galak. Entah sudah berapa kali pelayan toko ini dibongkar pasang.” bisiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mengapa begitu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dia tak suka sama pelayan yang suka macam-macam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tba seorang perempuan paruh baya menghampiri kami. Dari sisi penampilan, aku pastikan dialah yang punya toko. Dan baru sekali ini aku melihatnya. Aku bingung harus memulai darimana pembicaraan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ada apa, Ning?” tanya dia pada perempuan yang tadi kuajak bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mas yang ini tadi menanyakan Tatik, bu.” katanya sambil menunjuk ke arahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mengapa dia minggat, Nyonya?” tanyaku memberanikan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bukan minggat, tapi dia saya pecat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dia itu matanya suka melotot kalau ada pemuda-pemuda lewat.” katanya menjelaskan. ”kamu pacarnya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terkejut, jangankan pacar, sedang mana Rani dan yang mana Tatik pun aku tak tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bbb...bukan. Saya hanya sering lihat dia kerja di sini.” aku masih bingung, ”makanya saya heran waktu dia tak lagi saya lihat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hati-hati,” katanya pelan mengingatkan, ”kau bisa dijeratnya hanya dengan sekali pandang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Begitukah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ya, dia itu tak bisa kerja profesional. Keterlaluan. Apalagi kalau malam pas toko ini mau tutup, pasti dia sudah ada yang jemput. Dan selalu saja gantian ’om-om’ yang dibawanya. Terus mau ditaruh di mana muka saya?” tandasnya, ”kalau aku punya anak macam dia, sudah aku bunuh. Amit-amit..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Siapa peduli,” pikirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mulai tak menikmati pembicaraan. Tanpa banyak cakap aku langsung tinggalkan toko yang mulai sekarang tak kan pernah lagi kumasuki itu. Kurasa ini hanya sebatas sangkaan belaka. Bagaimana tidak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang hari jika aku tak kerja, aku kerap memperhatikan perempuan penjaga toko yang sekarang raib itu. Jika malam kuintip jendela. Dan menurutku tak pernah ada kejadian-kejadian aneh. Aku yakin betul jika gadis yang selama ini kuketahui adalah perempuan baik-baik. Apa yang kumaksud itu Rani? Tapi aku tak melihat cincin tunangan di jarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mulai ragu dengan yang diucapkan ibu pemilik toko itu. Kuambil motor, dan kucoba mencari-cari letak tinggalnya. Kususuri gang demi gang yang menganga setelah tikungan pertama di dekat jembatan. Tapi tak juga kutemukan. Aku heran, bagaimana bisa seorang perempuan lugu yang pernah kulihat ternyata membohongiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutatap jam tangan, jam duabelas siang. Sudah dua jam rupanya aku hilir mudik bagai orang yang tak tahu jalan. Saat aku mulai istirahat di pinggir jalan tepat disamping pos jaga satpam, tiba-tiba sebuah sedan warna silver berhenti tepat di depanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hai..” sapanya. Rupanya perempuan penjaga toko itu. Aku terkejut bukan main.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang yang sudah agak tua dan duduk di sebelahnya membuatku lebih kaget lagi. Jelas, jikalau dia perempuan mengapa aku harus kaget dua kali?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ngapain di situ?” tanyanya lagi. Aku menjadi semakin tak bisa berkata apa-apa. Hilang sudah rencana besarku buat mencarinya. Toh tanpa diburu dia sudah muncul bersama bodyguard yang tak pernah aku duga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Biasa, cari angin,” jawabku sekenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kemana saja lama gak lihat? kirain sudah pindah,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Baru dari luar kota, kamu darimana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Baru saja pulang kuliah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kuliah?” pikirku. Bukankah dia sering jaga toko seharian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tadi sempat mampir ke tokoku belum?” katanya basa basi, ”lumayan, banyak diskon lho sekarang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Baru saja, aku malah ketemu sama yang punya toko.” kataku yang mulai bertanya-tanya dalam hati, ada hubungan apa dia dengan ’ibu toko’ tadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Oo, jadi habis ketemu mama, gimana? Dia galak nggak? Haha, ayo mampir ke rumah. Tuh dia rumahku,” sambil menunjuk sebuah rumah berpagar putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sialan, ternyata selama ini aku salah mengerti. Seorang penjaga toko yang sering kudapati menghitung belanjaan, rupanya dia putri dari seorang nomor satu di toko itu. Dan tanpa ditanya, aku sudah tahu bahwa pria yang di sampingnya itu adalah sopir pribadinya. Setidaknya sopir keluarga besarnya. Cakap betul dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Gimana? Mau maen gak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Oh, ya. Lain kali saja,” kataku. Percakapanpun berakhir sampai di situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika berlalulah kedua orang itu memasuki pagar rumah berhalaman luas itu. Kuperhatikan seorang penjaga membukakan gerbang dan menutupnya kembali. Tapi yang masih membuatku gerah, betapa baiknya dia. Membantu menjaga toko seharian demi memenuhi pekerjaan ibunya. Ah, penilaianku ternyata tetap tak beranjak. Ia masih merupakan orang yang bersahaja di mataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini aku sudah menunggunya di taman tempat anak-anak bermain tiap sorenya. Malam ini sepi, tak ada orang berlalu-lalang. Mungkin malas, sebab udara memang cukup dingin. Kecuali dihabiskan buat menghangatkan badan, jarang sekali mereka akan keluar di malam-malam dingin menggigil macam ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lima menit, kulihat ia datang dengan dandanan ala kadarnya. Meski begitu tak ada sedikitpun yang kurang pada penampilannya malam ini. Di bawah temaran cahaya lampu yang sedikit redup, kami banyak mengobrol tentang masa lalu, tentang kegemaran masing-masing, juga tentang... ya, keberadaan saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kemana saja dua bulan terakhir?” tanyanya setelah satu jam perbincangan berlalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Menyelesaikan pekerjaan di Malang, terus mampir sebentar ke Solo menemui seorang kawan yang sakit.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sakit?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ya, sakit yang aneh,” jawabku sambil mengernyitkan dahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Berapa lama?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Empat sampai lima hari.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kau memang teman yang baik.” katanya memuji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tidak juga,” kataku menyela, ”kau sendiri, ngapain selama dua bulan terakhir?” tanyaku, kulihat ia sedang asyik bermain-main dengan sedotan di mulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Banyak,” jawabnya singkat. Kemudian kembali memainkan sedotan di mulutnya. ”Sebulan lalu, aku ketemu seorang yang begitu konyol di salah satu Boutiqe milik tante.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Konyol? Maksudnya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dia berani sekali menggodaku, bahkan sombong sekali dia hendak membeli semua dagangan milik tanteku yang mahal-mahal?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ia sering kesana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ya, hampir seminggu sekali bahkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Terus kau biarkan saja dia?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Karena jengkel kuajak dia taruhan. Jika mampu membeli lima potong pakaian dari Boutiqe tante, maka dia menang dan boleh mengajakku pacaran. Tapi jika tak bisa, maka dia harus mentraktirku seminggu penuh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Lantas?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dia kalah,” sergahnya, ”aku pikir dia pasti pura-pura tak mampu membelinya, biar bisa traktir aku seminggu penuh. Dan itu benar-benar dia tepati.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ditepati?” aku makin tak percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tapi tau nggak di hari terakhir traktirannya itu?” ceritanya semakin bersemangat, ”dia sudah nyiapin surprise buat aku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Terus?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tapi karena aku tak mau kecolongan, maka aku kasih dia surprise duluan. Aku bilang bahwa minggu depan aku hendak kawin. Aku berikan undangan palsu buat dia,” ungkapnya sambil tertawa, ”selesai, dech!” Ia masih tertawa lepas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan memang, sebenarnya tanpa ditanya aku sudah sedikit tahu akhir cerita itu. Tapi aku tak mau ingkari, bahwa aku menyukainya. Hanya hingga sekarang aku tak perlu menanyakan siapa namanya. Buatku, itu akan membikin hubungan kita nantinya menjadi renggang. Bahkan hingga sekarang aku masih saja alergi mendengarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, nama yang kuperoleh dari penjaga baru di tokonya sore tadi. Dan aku tak akan menanyakan atau menyebut-nyebutnya. Nama itu, Astuti. Nama yang masih kuanggap sebagai nama ’jahanam’ dalam memoriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, 30 Mei 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maud Khan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8194169263164832698-2796893697221276142?l=www.92maud.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.92maud.co.cc/feeds/2796893697221276142/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/11/perempuan-itu.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/2796893697221276142'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/2796893697221276142'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/11/perempuan-itu.html' title='Perempuan Itu...'/><author><name>92maud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15771142033201981403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SjycJmK2AII/AAAAAAAAAAg/FJCJ9UI4WxM/S220/Maud+Khan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/Swm91A7Cm4I/AAAAAAAAAOI/IE04wRLc-KM/s72-c/perempuan+itu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8194169263164832698.post-3624447300041621345</id><published>2009-11-22T12:53:00.000-08:00</published><updated>2009-11-27T10:02:58.010-08:00</updated><title type='text'>Membuat Websites Gratis pada Blogger</title><content type='html'>Seringkali kita menjumpai situs-situs yang kita kunjungi memiliki sub-domain seperti &lt;span style="color: #00cccc;"&gt;www.domain.blogspot.com&lt;/span&gt; atau &lt;span style="color: #00cccc;"&gt;www.domain.wordpresss.com.&lt;/span&gt; Dan kadang kita berpikir, bisakah kita membuat semacam itu?? Dan apa kegunaannya?? Jelas, membikin websites atau blog membutuhkan keuletan dan kebiasaan tersendiri. Baik dari segi pembuatannya, modifikasi hingga pengembangannya. Kegunaannya pun beragam, mulai dari sisi bisnis, daya tampung, maupun luasnya jangkauan terhadap search engine.&lt;br /&gt;Berikut, akan saya kupas beberapa langkah membuat Blog (khusus saya bahas tentang Blogger mengingat dari segi pengalaman yang saya peroleh).&lt;br /&gt;Beberapa alasan mengapa saya rekomendasikan Blogger, antara lain:&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Gratis&lt;/span&gt;, untuk semua orang suka tanpa harus mengeluarkan sepeser-pun uang.&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mendukung Bahasa Indonesia&lt;/span&gt;, sangat tepat bagi kita yang kurang menguasasi Bahasa Inggris.&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cepat dan Mudah&lt;/span&gt;, hanya dengan 3 langkah blog sudah dapat langsung online di jagad Internet.&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Banyak Tema&lt;/span&gt;, di Blogger kamu akan banyak menjumpai tema-tema atau template-template terbaru. Jadi, tidak perlu khawatir jika ingin mengubah tampilan blog menjadi lebih menarik kedepannya.&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kaya Fitur&lt;/span&gt;, Memiliki banyak fitur yang dapat kita pakai sebagai aksesoris Blog sehingga terlihat menarik dan bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Membuat Google account&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kunjungi situs &lt;a href="http://www.blogger.com/www.Blogger.com"&gt;www.Blogger.com&lt;/a&gt; kemudian klik pada ikon “BUAT BLOG”. Nanti akan muncul halaman seperti ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/Swmlbt0AseI/AAAAAAAAANg/ENw13r8NmmE/s1600/draft_lens2093725module10667528photo_1217233908ngeblog000.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407034723207786978" src="http://2.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/Swmlbt0AseI/AAAAAAAAANg/ENw13r8NmmE/s320/draft_lens2093725module10667528photo_1217233908ngeblog000.jpg" style="cursor: pointer; display: block; height: 218px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 320px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Klik &lt;span style="color: red; font-weight: bold;"&gt;"CIPTAKAN BLOG ANDA"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SwmmAYYdC-I/AAAAAAAAANo/ZdEZoJgPaEM/s1600/blogger2.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407035353110219746" src="http://2.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SwmmAYYdC-I/AAAAAAAAANo/ZdEZoJgPaEM/s320/blogger2.jpg" style="cursor: pointer; display: block; height: 223px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 320px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;• Alamat email : masukkan alamat email untuk Google account bisa dari &lt;a href="http://yahoo.com/"&gt;Yahoo&lt;/a&gt; atau provider lain (saya rekomendasikan agar email yang dicantumkan adalah email dari Google; seperti &lt;a href="http://gmail.com/"&gt;Gmail&lt;/a&gt;). Jika belum punya, maka anda bisa membuatnya terlebih dahulu. &lt;a href="https://www.google.com/accounts/NewAccount?service=mail&amp;amp;continue=http%3A%2F%2Fmail.google.com%2Fmail%2Fe-11-11789ff8be61f0681331cffa52a13f6-981c6343076e0e76582fcb364b3bfd129bbef17a&amp;amp;type=2"&gt;(klik di sini untuk membuat) &lt;/a&gt;mengapa? Sebab Blogger adalah adik seperguruan Google. Ini juga akan memudahkan kita jika sewaktu-waktu ingin mendaftar Google Adsense.&lt;br /&gt;• Buat Password : kata kunci yang akan digunakan untuk log in ke Google account.&lt;br /&gt;• Nama tampilan : Nama yang akan muncul pada setiap postingan blog anda, semisal: &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Maud Khan&lt;/span&gt; atau &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bisnis untuk Anak-anak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;• Isikan verifikasi kata dan centang Persyaratan &amp;amp; Layanan.&lt;br /&gt;• Lalu &lt;span style="color: red; font-weight: bold;"&gt;“lanjutkan”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Mengisi data blog&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Langkah selanjutnya adalah mengisi data atau identitas blog yang akan anda buat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SwmmNXMyDDI/AAAAAAAAANw/FejgN9ho1KE/s1600/blogger3.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407035576131128370" src="http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SwmmNXMyDDI/AAAAAAAAANw/FejgN9ho1KE/s320/blogger3.jpg" style="cursor: pointer; display: block; height: 224px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 320px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;• Judul blog : Judul dari blog kita ( usahakan mengandung keyword yang kita inginkan) misalnya: &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;92 Maud Khan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;• Alamat blog (URL) : alamat blog berbentuk URL (usahakan mengandung keyword juga) misalkan: &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;92maud&lt;/span&gt;. Sehingga tampilan addressnya menjadi &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;http://92maud.blogspot.com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;• Kemudian &lt;span style="color: red; font-weight: bold;"&gt;“lanjutkan”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3. Memilih blog template (Tampilan blog)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Langkah yang terakhir adalah menentukan template atau tampilan blog yang kita inginkan. Untuk kebutuhan bisnis, pilih tampilan blog yang enak dipandang, dengan tulisan mudah dibaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SwmmdjoPD2I/AAAAAAAAAN4/uP4JARcfMtk/s1600/blogger4.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407035854345408354" src="http://1.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SwmmdjoPD2I/AAAAAAAAAN4/uP4JARcfMtk/s320/blogger4.jpg" style="cursor: pointer; display: block; height: 245px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 320px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: red; font-weight: bold;"&gt;Lanjutkan &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Jika kurang puas dengan tampilan dasar yang disediakan, bisa pula mendownloadnya pada halaman-halaman yang menyediakan template gratis. Namun sebagai langkah awal, kita pakai dulu template seadanya agar sudah bisa dicoba dan digunakan langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SwmmscqJj7I/AAAAAAAAAOA/sscyhWOhk3A/s1600/blogger6.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407036110172426162" src="http://2.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SwmmscqJj7I/AAAAAAAAAOA/sscyhWOhk3A/s320/blogger6.jpg" style="cursor: pointer; display: block; height: 254px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 320px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sekarang Kita sudah bisa blogging dan mulai posting. Untuk panduan dan Pengembangan-pengembangan selanjutnya, Kawan-kawan bisa temukan tutorialnya di blog ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ok, Selamat mencoba! Mudah-mudahan langkah sederhana ini bisa membantu anda khusunya pemula, untuk fasilitas tulisan pribadi, atau mempromosikan dan membuat bisnis.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8194169263164832698-3624447300041621345?l=www.92maud.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.92maud.co.cc/feeds/3624447300041621345/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/11/membuat-websites-gratis-pada-pada_1464.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/3624447300041621345'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/3624447300041621345'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/11/membuat-websites-gratis-pada-pada_1464.html' title='Membuat Websites Gratis pada Blogger'/><author><name>92maud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15771142033201981403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SjycJmK2AII/AAAAAAAAAAg/FJCJ9UI4WxM/S220/Maud+Khan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/Swmlbt0AseI/AAAAAAAAANg/ENw13r8NmmE/s72-c/draft_lens2093725module10667528photo_1217233908ngeblog000.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8194169263164832698.post-8470458298234909493</id><published>2009-10-03T04:10:00.000-07:00</published><updated>2009-11-22T15:10:20.095-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen Maud Khan'/><title type='text'>Kau (hanya sebuah cerita)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SwnEyLeXMoI/AAAAAAAAAOw/LzjKD-Iuec4/s1600/I_m_Falling_Into_Memories____by_smashmethod.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 180px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SwnEyLeXMoI/AAAAAAAAAOw/LzjKD-Iuec4/s200/I_m_Falling_Into_Memories____by_smashmethod.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407069193987633794" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Hafid masih merancang apa yang ingin ia sampaikan di pikirannya. Di tepi pantai yang jarang dikunjungi, ia duduk menghadap ke laut seakan ada yang dinantinya. Tiga hari ini ia sakit-sakitan. Badannya sedikit lebih kurus daripada biasa. Tapi hari itu telah memaksa ia bangkit. Entahlah, sepertinya kehidupan akan dimulai di sana. Dan memang, dialah yang memilih tempat itu sebagai persinggahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu mungkin hari yang menyenangkan, tapi setidaknya memberinya sedikit harapan. Sebagai hari pelepasan, hari penentuan dimana ia akan bahagia atau tersiksa. Dan tentu hari itu akan menjadi hari yang tak terlupakan pula. Pikirnya. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu lalu, di pinggir jalanan kota yang hiruk pikuk. Dengan seutas senyum dan seuntai kata kosong tak berarti, ia coba melawan ketidakberanian yang menumpuk bagai gundukan tanah liat di tenggorokannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Laela, agaknya sudah lama kita berdiam diri dalam kebohongan yang begitu besar. Bahkan hingga sekarang aku sendiri tak mampu menebak apa yang ada di pikiranmu,” ia coba mengawali pembicaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksudmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku begitu takut tentang persangkaanmu padaku selama ini. Dan tentu aku ragu akan itu, Laela,” ia masih memandangi perempuan di depannya itu dengan perasaan yang campur aduk, “tidakkah kau merasa bahwa sudah begitu lama aku hidup dengan kegundahan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kegundahan apa yang kau maksud, Hafid?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kegundahan yang selama ini kau buat,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin itu hanya perasaanmu saja,” Laela coba menutupi dirinya, “Kau tak pernah mengerti apa yang aku pikirkan…,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu karena kamu tak pernah berterus terang, Laela,” Hafid mulai memotong, “kau selalu berbicara tentang ini, tentang itu, tapi tak pernah kau bisa putuskan keduanya, kau selalu membuat alasan untuk mengalihkan semua tentang hubungan kita. Kau tak pernah hiraukan perasaanku. Ya, seperti yang sudah kau ketahui selama ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi aku tak bisa, Hafid. Maaf…!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya terdiam. Tak kuasa Hafid meneruskan pembicaraan yang tak berujung itu. Ia sadar bahwa tak ada guna ia paksakan perasaannya buat seseorang yang tak pernah ia ketahui kedalaman hatinya. Tak pernah ia memegang jiwanya. Merasakan bau mulutnya yang mengeluarkan aroma kasih atau sayang yang begitu tulus ikhlas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir kali, dari hubungan yang tak bertaut itu. Mereka bercengkerama, bersendagurau diantara pepohonan pinus yang tegak menjulur ke ubun-ubun langit. Saling memandang satu sama lain, sebagaimana dua orang yang sudah hilang kesadaran akan sekeliling. Tiba-tiba seorang perempuan yang tak begitu jauh umurnya datang menghampiri mereka. Dengan muka sedikit masam, ia mengisyaratkan kepada gadis yang sedang asyik itu bahwa hari sudah sore. Ia harus pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda itu terdiam. Dan seperti biasa, dalam hatinya ia akan mengutuk habis-habisan tingkah perempuan yang sok arogan itu. Ya, ia bukanlah apa atau siapanya. Tak lebih dari seorang perempuan yang hanya iri, atau… dan entahlah, mungkin seorang yang diamanahkan buat menjaga Laela. Seorang yang amat dipercaya rupanya oleh keluarga Haji Djalal, abah Laela. Tapi bukankah, menebar muka masam tidaklah patut buat seorang ia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia masih menghadap ke laut. Tak dapat ia tenangkan gejolak yang menggebu dalam dirinya. Degup jantungnya bergerak kencang. Sudah sejam, ia tak melihat seorang pun muncul. Ia hendak kembali, tapi memperlambat laju kakinya, sambil menatap, kalau-kalau… yang ditunggunya itu akan hadir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sebagai perjanjian awal yang membingungkan, ia mulai pasrah, jika Laela memang tiada cinta akan ia, setidaknya, cinta itu tak lagi tulus. Atau ia sibuk? Ia masih saja membuat pledoi yang sekiranya menguntungkan buatnya. Walau tiada pasti, ia tetap saja meyakini akan cinta itu. Sebab hanya dari sanalah energi hidupnya muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau mungkin, ada yang melarangnya datang? Perempuan itu. Tapi bukankah ia tak selalu bersama Laela. Hanya sesekali saja jika ada acara keluar, menemui kawan yang sakit atau tasyakuran. Namun begitu, bisa saja ia yang membujuk Laela agar tak pernah lagi menemuinya. Ia masih berpikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mulai gunakan fikiran sehatnya. Dan meski hanya dengan selembar surat, ia tahu betul. Bahwa pembelaan tak lagi berarti buat dirinya. Ia ingat beberapa potong kata yang ia tulis tiga hari lalu;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;…Dan jikalau kau putuskan untuk akhiri semua ini, maka tak perlu kau datang. Karena itu akan membuatku semakin sakit. Cukuplah, ketidakhadiranmu itu sebagai jawaban ‘tidak’ buatku. Walau demikian, aku akan setia menungguimu hingga matahari terbenam, sebagaimana dahulu kita habiskan sekian waktu itu di sana…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ia mulai bersemangat. Di kejauhan nampaklah sesosok perempuan yang dinanti-nanti itu. Ia masih mengira-ngira barangkali ia salah terka sebagaimana telah banyak gadis-gadis yang disangkanya Laela, tetapi lambat laun jelaslah wajah itu berubah dan benar-benar menipu penglihatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia perhatikan gadis yang berjalan ke arahnya itu. Dan… kali ini ia tak salah. Laela yang ditunggunya telah tiba dengan muka yang begitu rupawan. Ia lena seakan kejatuhan mutiara untuk kali kedua semenjak ia menjumpainya kali pertama di pelataran balai desa. Senang hatinya tak dapat dikira. Cinta yang dinantinya telah di depan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya masih berdiri berjauhan. Hafid memandangi gadis itu dengan muka yang sedikit yakin namun penuh kecemasan. Memandang wajahnya, hilang sudah susunan-susunan kalimat yang ia bangun berhari-hari. Ia memang tak pandai membujuk. Ia pandai berkata-kata, tapi tidak di depannya. Semuanya menjadi hambar dan kosong. Hening pada menit-menit awal. Dan tak ada yang berani memecah kebuntuan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Hafid mengajaknya duduk, keduanya menghadapi luasnya laut. Tak kuasa untuk saling pandang, dan masih menikmati deburan ombak di pantai. Alangkah teduhnya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rasanya tak pantas jika kau yang mengawali,” Hafid coba melawan ketidakberanian dalam dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tak perlu membuang-buang waktumu, Hafid. Kau yang mengajakku kemari, bukan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, dan kau pasti datang,” Hafid coba menghibur dirinya. “Setidaknya menunjukkan jika kau memiliki perasaan kepadaku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perasaan itu…..” jawab Laela, “tak perlu lagi kau sebut-sebut.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu kau sebut itu apa? Selama ini kita selalu habiskan waktu bersama. Tak ada laki-laki yang mendekatimu, bukan? Semua orang tahu bahwa kita ini…,” matanya masih sayu memandangi ombak, pupus perkataannya, seakan anak panah yang ia lepaskan melewati sasaran. ”Aku tau betul, aku yang mencintaimu lebih dulu. Kau pernah katakan, bahwa kita akan jalani apa adanya… dan kurasa telah sekian tahun lamanya...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi aku rasa itu bukan cinta, Hafid. Aku takut dengan itu. Mungkin itu hanyalah khayalan kita…, atau perasaanmu yang berlebih, yang aku sendiri tak bisa membendungnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapan Laela benar-benar menusuk ulu hatinya. Tak dapat ia sangka jika kedatangannya itu hanyalah penyampaian sebuah ketakutan. Takut? Bukankah dengan datang kesana, sudah mengisyaratkan bahwa dirinya masih menyimpan rasa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, kupikir kau mencintaiku, Laela…” ia mulai mengeluh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan aku…. aku tak pernah sadar jika terlalu memberikan harapan buatmu. Kadang aku merindukanmu, tapi terkadang aku sadar jika kerinduan itu hanya sebatas perasaan yang tak ada lebihnya sedikit jua. Kau lelaki baik, mungkin itulah yang membuatmu lebih dimataku daripada laki-laki lain. Tapi bukan berarti aku kemudian akan… !!” Laela masih ragu dengan apa yang dikatakannya, “anggaplah kebersamaan kita selama ini sebagai sesuatu yang biasa terjadi dalam pertemanan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betapapun alasanmu itu… entah karena sabab-musabab lain yang tak pernah kita harapkan. Aku tak tahu akan jadi apa diri ini,” ia terdiam sejenak, “walau demikian, tak ada alasan buatku untuk berhenti mencintaimu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hafid terdiam. Karam rasanya bumi ini. Walau ia melihat air, menatap ombak. Tapi tak ada apapun yang melintas dikelopak matanya, selain tatapan kosong. Ingin sekali ia luapkan semua kemarahan dalam dadanya. Tapi kemudian ia sadar, jika selama ini ia terlalu egois. Mungkin ia sendiri yang terlalu yakin. Atau ia sengaja dipermainkan sebagai yang terkorbankan dalam lakon tak berujung ini. Ia coba mencari titik celah dari keputusasaannya. Ah, Jika saja ia ketahui bahwa terdapat sesuatu yang menghalangi, dan dengan sedikit keyakinan akan cinta yang ia temui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tahu betul jika Haji Djalal tak kan pernah secara cuma-cuma menerima dirinya sebagai seorang yang akan mempersunting anak perempuannya itu, lantaran hidupnya yang tak berharta atau berpangkat. Tapi itu tak bisa menjadi pembelaan, sedang mengambil hati putrinya pun ia tiada sanggup. Dibuat ia sanggup pun, ia harus pula melawan sanak kerabat lain yang ingin mempertemu-jodohkan anak lelaki mereka dengan putri sematawayang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi apalah yang dinantinya? Bukan berjodoh atau bertunangan. Tetapi hanya kejujuran akan cinta itu yang ia harap. Sebab kejujuran akan menimbulkan keberanian. Tapi entahlah, sedang tiga bulan ini Laela selalu berusaha menjauhinya. Tak pernah ada alasan. Mereka tak pernah bisa bersua, walau sebentar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kemana saja kau minggu-minggu terakhir ini?” Laela coba meredakan suasana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika pun engkau mengetahuinya, nampaknya tak akan membuat alasan untuk mencintaiku,” ia menarik nafas panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa kau berkata demikian?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Entahlah. Sepertinya terlalu jauh aku melangkahkan kaki dalam babak ini. Tak ada yang kukerjakan sedikitpun, selain kesia-siaan buat memenuhi hasrat cintaku ini…” Hafid tepekur. Kemudian mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Sebuah kotak kecil. Ia masih memegangnya. “Kau lihat. Aku mendapatkannya dengan tetesan keringatku di pagi sore. Sebab kuyakin kau akan menyukainya. Tapi… tampaknya percuma,” ia tertawa kecil sebagai kekecewaannya yang dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laela semakin bingung. Tak dapat ia sembunyikan rasa harunya melihat benda itu. Ya, sebuah cincin. Ia takjub. Hanya saja rasa takjub itu sebatas timbul bagai kilatan yang akhirnya meluluhlantakkan perasaannya. Kemudian ia menunduk lesu, memandangi buih-buih pasir yang sesekali tergerus ombak. “Sebegitu jauhkah, Hafid?” pikirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini tak pernah ia berterus terang mengenai keadaan dirinya. Ia mulai merasa bersalah. Mungkin buatnya, membikin Hafid senang, atau menghargai perasaan cinta dia, baginya sudah cukup. Tapi rupanya Hafid menganggapnya sebagai suatu jawaban ‘ya’ dalam memorinya. Ya, untuk mengarungi hidup bersama. Ya, buat menghabiskan sisa-sisa hidup dalam kebahagiaan. Ya, ia sendiri terlalu jauh melangkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingin ia luruskan perasaannya pada laki-laki yang mencintanya itu. Tapi, ia tak mampu memutuskan bahwa dirinya juga cinta. Dan walau ia buat dirinya cinta, secinta-cintanya, sebesar apapun cinta itu. Maka ia takut, jika sekali-kali cinta itu akan melukainya dan melukai Hafid pula. Sebab ia telah berikatan. Ikatan yang pantang ia rusak hanya karena cinta seorang Hafid. Ikatan yang ia buat dengan kesadaran penuh, tanpa paksaan siapapun kecuali dirinya. Ikatan yang ia paksakan, walau ia tahu wajah Hafid selalu hadir di matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hafid, ia telah banyak memberikan kesejukan, telah banyak menghibur dirinya disaat sedih merajau. Telah banyak memberikan waktu dari separuh hidupnya yang demikian terbelenggu oleh jaman. Ia menangis, ia menyesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Laela…” panggil Hafid lirih, “sudah, tak usah kau risaukan itu. Aku rasa semua sudah cukup. Tak perlu ada yang dipikirkan lagi. Aku juga tak ingin salahkan kau jika memang tiada mencintaiku. Hanya yang kusesalkan, kau tak pernah katakan itu sebelumnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Entahlah, aku benar-benar merasa bodoh,” ia masih menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguhpun, Hafid merasa bahwa semua sudah tamat. Tak ada harapan lagi. Skenario yang dibuatnya malam demi malam harus terhenti pada bagian ini. Ia marah. Ia sedih. Tapi ia juga merasa lega. Hanya ia tak ingin semua berakhir seperti ini. Sedikitnya, ia ingin mengakhiri hari yang melelahkan ini dengan beribu kenangan. Dibuat benci pun, ia tak bisa. Terlalu besar cinta itu sehingga tak ada tempat buat kebencian ataupun dendam. Apalagi cintanya begitu tulus suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku hanya ingin membuat diriku begitu yakin dengan perkataanmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksudmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku belum melihat kejujuran.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau meragukanku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Coba kau pegang ini,” Hafid menyodorkan cincin itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau pegang saja!” sergahnya pula, “tak apa, tak usah kau pakai.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tangan gemetar, diambillah oleh Laela cincin itu. Dan benar, benda itu membuatnya begitu lena. Ada rasa yang menyelinap di sela-sela pikirannya. Cincin mungil bermata merah, tak usah dikira beraga harganya. Matanya masih berkaca-kaca, tak percaya dengan apa yang dipegangnya. Ia semakin menyesal. Hafid menangkap perasaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Laela,” kata Hafid, “aku ingin kau meyakinkanku dengan begitu jelas. Kau tak perlu tahu bagaimana aku berjuang mendapatkan cincin itu. Itu hanya setitik dari sekian besarnya rasa cinta ini buatmu. Aku juga tak ingin nyatakan bahwa aku harus miliki dirimu jika memang kau cinta. Aku tak kan paksakan cinta ini sebab aku memang tak pantas, cukuplah ungkapan cinta darimu itu akan menjadi obat buatku di siang malam. Karena tak ada obat yang lebih mujarab bagi seorang pencinta sepertiku, kecuali diriku tahu bahwa kau benar-benar mencintaiku. Walau tak bisa milikimu. Tapi jika kau tak cinta, maka yakinkan aku. Bantulah diriku yang lemah ini untuk tak lagi memikirkanmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu, apa yang harus kulakukan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku ingin, kau simpan benda itu, jika memang kau menaruh perasaan yang sama kepadaku. Atau, kau lemparkan cincin itu ke dasar laut, sebab kuingin engkaulah orang terakhir yang memegang cincin tersebut. Apapun akhirnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama Laela termenung. Terlalu lemah jiwanya. Goyah perasaannya diantara khayal dan nyata. Jika menyimpannya, mengapa menjadi suatu keharusan? Atau membuangnya, bukankah percuma? Dan akan menyakitinya pula. Terlalu dalam perasaan hatinya. Nampaknya ia tiada sanggup melakukan kedua pilihan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Haruskah kulakukan diantara pilihan itu?” tanya Laela di tengah kebimbangannya, “tak adakah pilihan lain?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku hanya menginginkan kepastian, Laela. Buanglah rasa takutmu, buanglah apapun yang sekarang membelenggu perasaanmu! Ungkapkan apa yang ada di hatimu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi haruskah aku…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cincin itu tak berarti apa-apa lagi mataku, Laela!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi aku tak mungkin membuangnya, Hafid. Ini hakmu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu hakmu sekarang. Semua keputusan ada padamu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lakukanlah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tak bisa!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laela berusaha kembalikan cincin itu dengan paksa. Hafid menolaknya. Ia tetap bersikeras pada perkmintaannya. Mereka saling menolak dan tak ingin memegangnya. Walau begitu, akhirnya sampai pula benda itu di tangan Hafid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tak kuasa melakukannya,” Laela menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau merasa kasihan? Seberapa besarkah rasa kasihanmu itu buatku?” tanya Hafid heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebenarnya apa maumu? apakah dengan begitu semuanya menjadi lebih baik buat dirimu? kau egois!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau bertanya apa mauku? aku tahu betul apa maumu, Laela…“ Tiba-tiba, “Aaaaaagggghh….” Hafid melempar cincin itu ketengah lautan. Diringi gemuruh riuh ombak yang merawankan hati dan jiwanya. Matanya memandang jauh. Lenyap sudah. Ia hempaskan semua beban itu tepat di penghujung sore. Ia kecewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laela terkejut bukan kepalang, tak disangkanya Hafid akan melakukan pekerjaan itu dengan tangannya sendiri. Ia menatap Hafid dengan persangkaan yang aneh. Lama ia perhatikan laki-laki yang pernah singgah di kehidupannya itu. Sambil bertanya-tanya, mungkin ia sudah….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau ini gila!!” teriaknya sambil memukul-mukul ke arah Hafid, “kau gila, gila gilaaa!!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, aku memang gila!!!” jawab Hafid dengan suaranya yang tak kalah lantang, “tapi aku tak ingin hidup dengan kemunafikan dan kepalsuan!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya aku tahu itu!!” tangannya masih mendorong-dorong tubuh Hafid yang sudah limbung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lantas??? apa aku salah?” teriak Hafid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi mengapa kau membuangnya???” mereka mulai saling teriak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena kau tak pernah berani memutuskan!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena kau berikan aku pilihan yang bodoh!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu karena kau terlalu lemah!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi aku memang tak berniat membuangnya, Hafid!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu pun karena kau tak berani melakukannya sendiri!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau jahat, Hafid! Kau jahat!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laela mulai pergi meninggalkan Hafid yang…, entahlah! Ia tiada lagi mengenal pemuda itu. Dan sekarang, barulah ia merasa kehilangan seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, aku memang jahat!!! Itulah sebabnya kau tak pernah pantas buatku. Kau memang perempuan terbaik yang pernah kutemui…. Kau perempuan terbaik!!!” teriaknya sambil menunjuk ke arah Laela yang telah lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laela mempercepat laju jalannya. Ia tak ingin menoleh kebelakang. Hafid masih mengikutinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa kau bilang?? Aku jahat??? Hah?? Kau bilang aku jahat? Kau yang jahat, Laela! Kau….. perempuan terburuk yang pernah kukenal. Kau….??” ia berhenti sejenak, “tapi aku akan selalu mendoakanmu Laela. Sebab aku cinta kau. Walau kau jahat. Aku sadar sekarang jika aku telah mencintai perempuan yang salah selama bertahun-tahun. Terlalu lama kau bohongi aku!!! Laela….kau dengar aku??”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laela masih tak menoleh. Ia larut dalam tangis. Semakin menjauh dari pandangan mata Hafid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku akan menunggu Laela…!!!! Aku akan menunggumu!!!” teriaknya kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, 15 September 2009  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8194169263164832698-8470458298234909493?l=www.92maud.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.92maud.co.cc/feeds/8470458298234909493/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/10/kau-sebuah-cerita.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/8470458298234909493'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/8470458298234909493'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/10/kau-sebuah-cerita.html' title='Kau (hanya sebuah cerita)'/><author><name>92maud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15771142033201981403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SjycJmK2AII/AAAAAAAAAAg/FJCJ9UI4WxM/S220/Maud+Khan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SwnEyLeXMoI/AAAAAAAAAOw/LzjKD-Iuec4/s72-c/I_m_Falling_Into_Memories____by_smashmethod.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8194169263164832698.post-2788451031409759028</id><published>2009-09-03T09:59:00.000-07:00</published><updated>2009-11-23T04:59:21.191-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sajak Maud Khan'/><title type='text'>Ketika Senyum Mengembang di Wajahmu</title><content type='html'>Kau mungkin tak kan pernah sadar jika setiap tatapan itu akan terpaku kaku&lt;br /&gt;dan tentu dengan segala puji bersama lirih kata bisa terlontar dengan...&lt;br /&gt;“aduhai... siapakah gerangan dirimu?”&lt;br /&gt;tapi aku sama sekali tak mendengarnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupikir mereka takut dengan...&lt;br /&gt;kalau-kalau, jika senyum itu hanya buatku&lt;br /&gt;dan kupikir, mereka begitu bersahabat, dengan kembang di senyuman mereka....&lt;br /&gt;dan, tentu hati yang takjub akan kebersahajaanmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya,&lt;br /&gt;Kau tak begitu ikhlas rupanya&lt;br /&gt;dengan senyummu itu, kau buat aku makin takut&lt;br /&gt;kalau-kalau......&lt;br /&gt;Kau sudah tak ingin bersamaku rupanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sby, 2 September 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8194169263164832698-2788451031409759028?l=www.92maud.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.92maud.co.cc/feeds/2788451031409759028/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/09/ketika-senyum-mengembang-di-wajahmu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/2788451031409759028'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/2788451031409759028'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/09/ketika-senyum-mengembang-di-wajahmu.html' title='Ketika Senyum Mengembang di Wajahmu'/><author><name>92maud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15771142033201981403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SjycJmK2AII/AAAAAAAAAAg/FJCJ9UI4WxM/S220/Maud+Khan.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8194169263164832698.post-2336824004182245229</id><published>2009-08-30T19:57:00.000-07:00</published><updated>2009-11-23T04:06:46.464-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan Maud Khan'/><title type='text'>Kau</title><content type='html'>Aduhai, ternyata satu kata itu yang membuatku mulai terbangun. Satu kata, yang , entah darimana asalnya. Dari gubuk kejujuran, ataukah rumah kedustaan. Dan jika aku memikirnya, menasbihkannya pada butiran-butiran ombak di lautan. Maka teranglah, satu kata itu.. dengan sejujurnya. Tapi aku tak mau, biarlah ia bohong, karena hanya bohong itu yang bisa mengobatiku.&lt;br /&gt;Dan taukah kau..??? kampungku kembali ramai walau tak ada dirimu di sana. Aku telah bersemangat memanggil orang-orang. Meski tanpa kau. Tampaknya ini semua pasti berlanjut, hanya masalah waktu bukan? &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kau menyerah pada takdir. Kau menyerah pada kebohongan. Sehingga penyerahanmu itu membebankan sesuatu hal yang begitu berat buatku. Apalah? kau yang selama ini menjadi tonggak hidupku, harus runtuh. Diterjang ketidaktahuan yang arogan, yang buatku semata-mata hanya demi... entahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau membuat puisi? aku yakin kau tak bisa..&lt;br /&gt;Tapi seburuk apapun itu, aku akan dengan senang membacanya. Hatiku tak kan pernah tertutup dengan semua ucapanmu walau tak paham 'bisa' apa lagi yang kau keluarkan. Kau pernah makan dengan sejuta  kesenangan? tapi aku pernah, walau kau mungkin tak merasakannya. Jika kau merasa, maka aku akan lebih merasakannya.&lt;br /&gt;Kau pernah marah? aku selalu marah, pada diriku yang bodoh, berteriak-teriak, memaki-maki di setiap sudut ruangan. Mengutuk siapapun yang sebenarnya tak pantas dikutuk. Kau pernah sadar? kau memang selalu sadar... &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8194169263164832698-2336824004182245229?l=www.92maud.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.92maud.co.cc/feeds/2336824004182245229/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/08/kau.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/2336824004182245229'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/2336824004182245229'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/08/kau.html' title='Kau'/><author><name>92maud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15771142033201981403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SjycJmK2AII/AAAAAAAAAAg/FJCJ9UI4WxM/S220/Maud+Khan.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8194169263164832698.post-3765269537205931430</id><published>2009-08-30T11:55:00.000-07:00</published><updated>2009-11-27T16:23:12.993-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Senyum itu Sehat'/><title type='text'>Menipu Tuhan</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/ADMINI%7E1/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot.png" alt="" /&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/ADMINI%7E1/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot-1.png" alt="" /&gt;&lt;br /&gt;Saudara Salamet, dalam satu hikayatnya pernah bercerita pada saya; seorang petani kecil yang hampir separuh hidupnya dihabiskan buat beribadah, suatu hari hendak menjemur beberapa potong pakaian yang ingin segera ia kenakan. Namun belum genap sejam turunlah hujan lebat yang kemudian meluluhlantakkan tiang jemuran beserta gelantungan talinya. Setelah dirasa cerah, petani itu dengan sabar memunguti lembar demi lembar pakaian yang tercecer. Mencucinya kembali dan menaruhnya pada tonggak-tonggak jemuran yang ia dirikan buat sementara waktu. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tak berapa lama, ia hanya tersenyum simpul setelah beberapa butir hujan muncul kembali. Ia mengemasi jemurannya, takut, kalau-kalau hujan akan liar sebagai yang telah ditimpakan kepadanya. Tapi tiba-tiba cuaca cerah. Ia kembali menjemur. Tapi hujan turun. Ia ambil pakaiannya. Namun hujan kembali reda. Demikian, kejadian itu terjadi berulang-ulang. Ah, ia masih saja tersenyum sebagai kebiasaannya.&lt;br /&gt;Sambil berucap sesuatu, ia berjalan menuju pelataran mushalla. Pergi ke tempat wudhu, bersuci. Merapikan pakaiannya, termasuk dengan sorban yang melilit di kepala dan tasbih siap di saku. Ia tersenyum, menghamparkan sajadah di 'pengimaman'. Mungkin ia pikir "tempat ini begitu nyaman". Kemudian ia tegakkan badannya, ia tetapkan pandangannya seraya mengangkat kedua tangan dan berucap....... dan rebahlah tubuh kering itu dengan perlahan menutupi sajadah. Ia rebah, ia terpejam, gerak nafasnya masih naik turun. Kemudian, entahlah...&lt;br /&gt;Saya pikir ini anugerah.&lt;br /&gt;Saudara Salamet melanjutkan; tapi beberapa jam kemudian petani itu terbangun, jelas bukan di alam barzah seperti persangkaan saya sebelumnya. Ia masih di dunia. Sambil tertawa terkekeh-kekeh, ia meninggalkan mushalla menuju halaman rumahnya. Menyaksikan jemuran yang seharian tak dihiraukannya itu. Ia terkekeh. Tawanya makin keras saja...&lt;br /&gt;"Tadi Kau tipu aku," selorohnya sambil menyalakan sebatang rokok.&lt;br /&gt;"Sekarang ku tipu Kau!!" ia tertawa... dengan tawanya yang makin keras dan lantang..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, ada saja bualanmu itu, Met," kata saya dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, 31 Agustus 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8194169263164832698-3765269537205931430?l=www.92maud.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.92maud.co.cc/feeds/3765269537205931430/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/08/menipu-tuhan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/3765269537205931430'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/3765269537205931430'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/08/menipu-tuhan.html' title='Menipu Tuhan'/><author><name>92maud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15771142033201981403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SjycJmK2AII/AAAAAAAAAAg/FJCJ9UI4WxM/S220/Maud+Khan.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8194169263164832698.post-6905115764248533986</id><published>2009-08-28T11:52:00.000-07:00</published><updated>2009-11-23T04:59:21.192-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sajak Maud Khan'/><title type='text'>Puasa Ritual</title><content type='html'>Tuhan...adakah ibadah yang bukan ritual?&lt;br /&gt;Atau adakah ritual yang bisa mendekatkanku kepada-Mu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau...&lt;br /&gt;Ah, aku hanya melihat orang-orang kelaparan dan kekenyangan,&lt;br /&gt;orang-orang berpesta pora dan menangis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau...&lt;br /&gt;mereka yang menunggu-nunggu adzan di maghrib,&lt;br /&gt;yang sebelumnya tiada pernah mereka sediakan waktu buat mendengarnya,&lt;br /&gt;apalagi menungguinya seperti itu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan orang-orang itu....&lt;br /&gt;Adalah aku sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin puasa Ritual ya, Rab...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jika shalat itu ritual, Aku ingin puasa&lt;br /&gt;jika zakat itu ritual, aku ingin puasa&lt;br /&gt;jika haji itu ritual, aku akan puasa&lt;br /&gt;jika puasa itu ritual, aku puasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa dari segala ritual....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;betapa sulitnya!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa hati...&lt;br /&gt;kita terlalu terlena&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, 29-08-09&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8194169263164832698-6905115764248533986?l=www.92maud.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.92maud.co.cc/feeds/6905115764248533986/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/08/puasa-ritual.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/6905115764248533986'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/6905115764248533986'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/08/puasa-ritual.html' title='Puasa Ritual'/><author><name>92maud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15771142033201981403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SjycJmK2AII/AAAAAAAAAAg/FJCJ9UI4WxM/S220/Maud+Khan.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8194169263164832698.post-660932701082107290</id><published>2009-08-28T09:23:00.000-07:00</published><updated>2009-11-23T04:59:21.193-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sajak Maud Khan'/><title type='text'>Marah Pada Tuhan</title><content type='html'>&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.0  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 	--&gt; 	&lt;/style&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="background: transparent none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: border; -moz-background-origin: padding; -moz-background-inline-policy: continuous;"&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;Aku marah pada tuhan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="background: transparent none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: border; -moz-background-origin: padding; -moz-background-inline-policy: continuous;"&gt;Ia terlalu kaku&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="background: transparent none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: border; -moz-background-origin: padding; -moz-background-inline-policy: continuous;"&gt;terlalu arogan...&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="background: transparent none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: border; -moz-background-origin: padding; -moz-background-inline-policy: continuous;"&gt;Aku marah pada tuhan,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="background: transparent none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: border; -moz-background-origin: padding; -moz-background-inline-policy: continuous;"&gt;biar dia tahu bahwa aku juga bisa marah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="background: transparent none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: border; -moz-background-origin: padding; -moz-background-inline-policy: continuous;"&gt;Aku marah pada tuhan,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="background: transparent none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: border; -moz-background-origin: padding; -moz-background-inline-policy: continuous;"&gt;karena aku tak tahu apakah tuhan bisa marah...&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="background: transparent none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: border; -moz-background-origin: padding; -moz-background-inline-policy: continuous;"&gt;Aku marah pada tuhan,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="background: transparent none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: border; -moz-background-origin: padding; -moz-background-inline-policy: continuous;"&gt;sebab tak kan pernah ada manusia yang semarah aku...&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="background: transparent none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: border; -moz-background-origin: padding; -moz-background-inline-policy: continuous;"&gt;yang jauh dari kemunafikan dan kedustaan hidup&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="background: transparent none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: border; -moz-background-origin: padding; -moz-background-inline-policy: continuous;"&gt;Tak seperti mereka&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="background: transparent none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: border; -moz-background-origin: padding; -moz-background-inline-policy: continuous;"&gt;yang selalu menggantungkan dirinya pada harapan,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="background: transparent none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: border; -moz-background-origin: padding; -moz-background-inline-policy: continuous;"&gt;tunduk, tunduk dan tunduk&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="background: transparent none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: border; -moz-background-origin: padding; -moz-background-inline-policy: continuous;"&gt;tanpa pernah tahu apa yang mereka kerjakan...&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="background: transparent none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: border; -moz-background-origin: padding; -moz-background-inline-policy: continuous;"&gt;Aku marah pada tuhan,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="background: transparent none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: border; -moz-background-origin: padding; -moz-background-inline-policy: continuous;"&gt;bukan karena membencinya&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="background: transparent none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: border; -moz-background-origin: padding; -moz-background-inline-policy: continuous;"&gt;melainkan karena aku membenci diriku.....&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="background: transparent none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: border; -moz-background-origin: padding; -moz-background-inline-policy: continuous;"&gt;Aku marah pada tuhan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="background: transparent none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: border; -moz-background-origin: padding; -moz-background-inline-policy: continuous;"&gt;Marah!!! Marah sekali!!! Dengan marah yang amat sangat&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="background: transparent none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: border; -moz-background-origin: padding; -moz-background-inline-policy: continuous;"&gt;Aku marah pada-Mu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="background: transparent none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: border; -moz-background-origin: padding; -moz-background-inline-policy: continuous;"&gt;sebab aku tahu,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="background: transparent none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: border; -moz-background-origin: padding; -moz-background-inline-policy: continuous;"&gt;bahwa Kau tak kan pernah memarahiku,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="background: transparent none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: border; -moz-background-origin: padding; -moz-background-inline-policy: continuous;"&gt;tiada pernah...&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="background: transparent none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: border; -moz-background-origin: padding; -moz-background-inline-policy: continuous;"&gt;Surabaya, 28-08-09&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8194169263164832698-660932701082107290?l=www.92maud.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.92maud.co.cc/feeds/660932701082107290/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/08/marah-pada-tuhan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/660932701082107290'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/660932701082107290'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/08/marah-pada-tuhan.html' title='Marah Pada Tuhan'/><author><name>92maud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15771142033201981403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SjycJmK2AII/AAAAAAAAAAg/FJCJ9UI4WxM/S220/Maud+Khan.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8194169263164832698.post-4935337553602827809</id><published>2009-07-31T15:09:00.000-07:00</published><updated>2009-11-23T05:10:43.748-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pemenang Nobel Sastra'/><title type='text'>Pemenang Nobel Sastra  2001-2009</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/Swp-DKO0vZI/AAAAAAAAAQE/VufGapViRwE/s1600/2009.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 104px; height: 82px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/Swp-DKO0vZI/AAAAAAAAAQE/VufGapViRwE/s200/2009.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407272895362940306" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(2009) Herta Müller&lt;/span&gt; Perempuan asal etnis minoritas Jerman di Rumania yang ditindas karena kritis menyajikan gambaran kehidupan di bawah kekuasaan komunis, dianugerahi Nobel sastra untuk 2009. Merupakan perempuan ke-12 yang meraih Nobel sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/Swp-04bKOAI/AAAAAAAAAQM/_pdy5e8TyhA/s1600/2008.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 98px; height: 107px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/Swp-04bKOAI/AAAAAAAAAQM/_pdy5e8TyhA/s200/2008.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407273749576300546" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(2008) Le Clezio&lt;/span&gt; menekuni dunia sastra sepanjang hidupnya. Sejak masih belia, usia 8 tahun, Le Clezio sudah menulis. Hingga kini, lebih dari 50 novel, esai, cerita pendek, telah lahir dari tangannya.&lt;br /&gt;Terobosan besar Le Clezio sebagai novelis adalah Desert (1980). Novel ini berkisah tentang kebudayaan yang hilang di gurun Afrika Utara, dan dikontraskan dengan Eropa yang dilihat melalui kacamata seorang imigran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SwqBuWh1a6I/AAAAAAAAAQU/a8r-3oIGEYo/s1600/2007.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 109px; height: 109px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SwqBuWh1a6I/AAAAAAAAAQU/a8r-3oIGEYo/s200/2007.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407276935933160354" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(2007) Doris Lessing &lt;/span&gt;lahir sebagai Doris May Tayler di Kermanshah, Persia (sekarang Iran) pada 22 Oktober 1919) adalah seorang penulis Inggris. Ia mendapatkan Penghargaan Nobel dalam Sastra pada tahun 2007. Salah satu karya Lessing yang terkenal dan awal adalah The Grass is Singing &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;terbitan tahun 1950.&lt;br /&gt;Semasa muda ia pernah tinggal di Rodesia Selatan (sekarang Zimbabwe).&lt;br /&gt;Doris dikenal sebagai penulis beraliran kiri, komunis, dan antiapartheid. Dia &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;adalah ateis namun mendalami bidang mistisisme Islam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SwqCJ4FotFI/AAAAAAAAAQc/Si85CdXaVZY/s1600/2006.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 101px; height: 101px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SwqCJ4FotFI/AAAAAAAAAQc/Si85CdXaVZY/s200/2006.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407277408798159954" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(2006) Ferit Orhan Pamuk&lt;/span&gt; adalah seorang novelis Turki terkemuka dalam sastra pasca-modernis. Ia sangat populer di dalam negeri, dan pembacanya di seluruh dunia juga bertambah terus. Sebagai salah seorang novelis Eurasia paling terkemuka, karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 40 bahasa. Ia telah mendapatkan banyak penghargaan di dalam negeri maupun internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SwqCeIjppdI/AAAAAAAAAQk/WQNhtt8aiqU/s1600/2005.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 97px; height: 135px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SwqCeIjppdI/AAAAAAAAAQk/WQNhtt8aiqU/s200/2005.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407277756816401874" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(2005) Harold Pinter&lt;/span&gt;, Putra seorang pembuat busana keturunan Yahudi, Pinter selain telah menulis 30 naskah drama, juga penulis banyak puisi dan &lt;span class="new"&gt;skenario film&lt;/span&gt;. Ia juga sering menyutradarai pementasan drama maupun sutradara film dan bahkan pernah menjadi &lt;span class="mw-redirect"&gt;aktor&lt;/span&gt;.Naskah drama paling terkenal yang dia tulis adalah &lt;i&gt;The Dumb Waiter&lt;/i&gt; (1957) dan &lt;i&gt;The Caretaker&lt;/i&gt; (1959) yang disebut-sebut merupakan pengamatan tajam atas persoalan sosial dan linguistik, dengan alur cerita dan percakapan yang sangat mendalam. Film terbaik yang pernah ia sutradarai adalah &lt;i&gt;The French Lieutenant’ Woman&lt;/i&gt;, yang diangkat dari novel karya &lt;span class="new"&gt;John Fowles&lt;/span&gt;.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SwqFd7myNSI/AAAAAAAAAQs/uH-6k7dmkzg/s1600/2004.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 88px; height: 108px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SwqFd7myNSI/AAAAAAAAAQs/uH-6k7dmkzg/s200/2004.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407281051874768162" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(2004) Elfriede Jelinek&lt;/span&gt;, yang ibunya (Olga Jelinek/Olga Buchner) ialah manager personel di sebuah perusahaan terkenal dan ayahnya (Dr. Friedrich Jelinek) ialah &lt;span class="mw-redirect"&gt;kimiawan&lt;/span&gt; dengan latar belakang &lt;span class="new"&gt;kelas pekerja&lt;/span&gt;, besar di Wina.Karya Jelinek dapat dikelompokkan dalam 3 tahap. Karyanya yang paling awal mengkritik kapitalisme dan masyarakat konsumtif. "Pada 1980-an ia bertujuan menyerang kritik pada masyarakat &lt;span class="new"&gt;partiarkhal&lt;/span&gt; .&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SwqFeAy60wI/AAAAAAAAAQ0/jmSctdXCyMM/s1600/2003.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 80px; height: 103px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SwqFeAy60wI/AAAAAAAAAQ0/jmSctdXCyMM/s200/2003.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407281053267841794" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;(2003) John Maxwell Coetzee, &lt;/b&gt;Ia adalah penulis pertama yang dianugerahi &lt;i&gt;&lt;span class="new"&gt;Booker Prize&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; 2 kali: &lt;i&gt;The Life and Times of Michael K&lt;/i&gt; pada tahun 1983 dan &lt;i&gt;Disgrace&lt;/i&gt; pada tahun 1999. Namun ia sendiri tidak mengkoleksi salah satu dari 2 bukunya yang memenangkan penghargaan itu. Di samping &lt;span class="mw-redirect"&gt;Hadiah Nobel&lt;/span&gt; maupun &lt;span class="new"&gt;Booker Prize&lt;/span&gt;, ia juga menerima sejumlah penghargaan lain.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SwqFeXMS_GI/AAAAAAAAAQ8/ifsipB1YPSU/s1600/images.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 102px; height: 102px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SwqFeXMS_GI/AAAAAAAAAQ8/ifsipB1YPSU/s200/images.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407281059279862882" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;(2002) Imre Kertész&lt;/b&gt; , di antara karyanya adalah novel tahun 1975 berjudul &lt;i&gt;&lt;span class="new"&gt;Sortanslanság&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;, berdasarkan pengalamannya di kamp konsentrasi Nazi. Novel itu tak disambut baik saat pertama kali diterbitkan. Disusul &lt;i&gt;Fiasco&lt;/i&gt; pada 1988. Jilid ke-3 dari &lt;i&gt;&lt;span class="new"&gt;Kaddis a meg nem született gyermekért&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;, dicetak pada 1997. (&lt;span class="new"&gt;Kaddish&lt;/span&gt; adalah &lt;span class="mw-redirect"&gt;doa&lt;/span&gt; &lt;span class="mw-redirect"&gt;Yudaisme&lt;/span&gt; yang diucapkan untuk mengingat orang mati). Tokoh utama novel itu, Gyorge Koves, tak berkenan memiliki anak di dunia yang mengakui keberadaan &lt;span class="mw-redirect"&gt;Auschwitz&lt;/span&gt;.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SwqFeoHwTnI/AAAAAAAAARE/i3xmQ9R6FFI/s1600/2001.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 87px; height: 114px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SwqFeoHwTnI/AAAAAAAAARE/i3xmQ9R6FFI/s200/2001.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407281063824215666" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;(2001) Vidiadhar Surajprasad Naipaul, &lt;/b&gt;Pada 1990 ia dianugerahi gelar kebangsawanan oleh Ratu Elisabeth. Menerima Penghargaan Nobel dalam Sastra pada 2001. Dalam beberapa buku ia memusatkan diri pada peran agama, seperti Islam, dan ia menuai kritikan karena bertumpu dari sudut negatif, seperti nihilisme di antara fundamentalis. Ia tetap menjadi tokoh yang dicaci di Pakistan. Selain itu, nasionalisme dan kolonialisme juga menjadi tema dalam buku-bukunya.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8194169263164832698-4935337553602827809?l=www.92maud.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.92maud.co.cc/feeds/4935337553602827809/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/07/free-tour-for-this-site.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/4935337553602827809'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/4935337553602827809'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/07/free-tour-for-this-site.html' title='Pemenang Nobel Sastra  2001-2009'/><author><name>92maud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15771142033201981403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SjycJmK2AII/AAAAAAAAAAg/FJCJ9UI4WxM/S220/Maud+Khan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/Swp-DKO0vZI/AAAAAAAAAQE/VufGapViRwE/s72-c/2009.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8194169263164832698.post-7812971986241977848</id><published>2009-06-29T12:06:00.000-07:00</published><updated>2010-09-30T13:42:12.167-07:00</updated><title type='text'>Some Pictures</title><content type='html'>&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Hanya beberapa gambar bodoh...&lt;br /&gt;tak ada yang keren... ahhahahaa&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SkkWmIn1bJI/AAAAAAAAAKo/1zKVQYG2W1g/s1600-h/close+up+2.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5352834476511947922" src="http://1.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SkkWmIn1bJI/AAAAAAAAAKo/1zKVQYG2W1g/s320/close+up+2.JPG" style="cursor: pointer; height: 320px; width: 234px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rokok bukan Segalanya.....&lt;br /&gt;Tapi Rokok membuat segalanya jadi indah&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SkkWH3Bj86I/AAAAAAAAAKg/LA2SevqwpVY/s1600-h/DSCN5853.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5352833956391941026" src="http://2.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SkkWH3Bj86I/AAAAAAAAAKg/LA2SevqwpVY/s320/DSCN5853.JPG" style="cursor: pointer; height: 239px; width: 320px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelantikan BEM Unesa 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SkkXJz98VZI/AAAAAAAAAKw/-tDdIr8NOpc/s1600-h/AL+JIMBUN+%284%29.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5352835089442821522" src="http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SkkXJz98VZI/AAAAAAAAAKw/-tDdIr8NOpc/s320/AL+JIMBUN+%284%29.JPG" style="cursor: pointer; height: 240px; width: 320px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lomba Hadrah Katrok...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SkkhyRGRMvI/AAAAAAAAAK4/tLx0MmElemc/s1600-h/DSCI0213.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5352846779573416690" src="http://2.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SkkhyRGRMvI/AAAAAAAAAK4/tLx0MmElemc/s320/DSCI0213.JPG" style="cursor: pointer; height: 240px; width: 320px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pose depan hotel MEGA (gak pake Wati)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/Skkikn8pirI/AAAAAAAAALA/Zg4BaPGxJDg/s1600-h/UpacaRa+KBA%2707.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5352847644700543666" src="http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/Skkikn8pirI/AAAAAAAAALA/Zg4BaPGxJDg/s320/UpacaRa+KBA%2707.jpg" style="cursor: pointer; height: 239px; width: 320px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KBA 2007 (MAHANAIM)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/Skkjs4bMy8I/AAAAAAAAALI/xwBO256ZtH8/s1600-h/Jogja......jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5352848886074231746" src="http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/Skkjs4bMy8I/AAAAAAAAALI/xwBO256ZtH8/s320/Jogja......jpg" style="cursor: pointer; height: 240px; width: 320px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stuba Jogja (Hotel Puspita)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SkkkoBw7cRI/AAAAAAAAALQ/YAoZi8E9KFg/s1600-h/mk001.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5352849902193570066" src="http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SkkkoBw7cRI/AAAAAAAAALQ/YAoZi8E9KFg/s320/mk001.jpg" style="cursor: pointer; height: 222px; width: 320px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stuba Jakarta (UNJ)&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br /&gt;Sorry.....photonya itu2 aja yang isa ditampilin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8194169263164832698-7812971986241977848?l=www.92maud.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.92maud.co.cc/feeds/7812971986241977848/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/06/some-pictures.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/7812971986241977848'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/7812971986241977848'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/06/some-pictures.html' title='Some Pictures'/><author><name>92maud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15771142033201981403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SjycJmK2AII/AAAAAAAAAAg/FJCJ9UI4WxM/S220/Maud+Khan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SkkWmIn1bJI/AAAAAAAAAKo/1zKVQYG2W1g/s72-c/close+up+2.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8194169263164832698.post-6767589629217089290</id><published>2009-06-29T11:44:00.000-07:00</published><updated>2010-09-04T01:55:29.412-07:00</updated><title type='text'>Contact Me For...</title><content type='html'>&lt;span style="font-size: 130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul face="arial" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: 130%;"&gt;Report a problem with an article e.g. nonsense; errors; copyright issues&amp;nbsp; &lt;/span&gt; &lt;span class="" id="result_box"&gt;&lt;span title=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="" id="result_box"&gt;&lt;span title=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="" id="result_box"&gt;&lt;span title=""&gt;(melaporkan masalah pada sebuah artikel, misalnya &lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white;" title=""&gt;terdapat omong kosong, kesalahan atau isu hak cipta)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: 130%;"&gt;Submit a photo and articles of yourself or someone you represent for use in a biographical article&lt;/span&gt;&lt;span class="" id="result_box"&gt;&lt;span style="background-color: white;" title=""&gt; (menyerahkan foto diri dan artikel diri atau seseorang yang mewakili untuk digunakan dalam artikel biografi atau semacamnya)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: 130%;"&gt;Find more about a specific fact e.g. "How About My daily Activity?" or "How About My Love Adventure? Hah!?" &lt;/span&gt;&lt;span class="" id="result_box"&gt;&lt;span style="background-color: white;" title=""&gt;(ingin tahu lebih lanjut tentang fakta yang lebih spesifik, misalnya &lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white;" title=""&gt;"Bagaimana Tentang Kegiatan harian saya?" &lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white;" title=""&gt;atau "Bagaimana Tentang Petualangan Cinta saya? Hah!?")&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: 130%;"&gt;Contact a specific www.92maud.co.cc&lt;/span&gt;&lt;span class="" id="result_box"&gt;&lt;span style="background-color: white;" title=""&gt;&amp;nbsp; (kontak spesifik www.92maud.co.cc)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 130%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%; font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Here the One:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%; font-weight: bold;"&gt;email : maudkhan_999@yahoo.co.id&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%; font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;             &lt;br /&gt;&lt;blockquote style="font-family: arial; font-weight: bold;"&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%; font-weight: bold;"&gt;             Hp&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : +62878-5343-1214&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="color: #e69138;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #e69138;"&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%; font-weight: bold;"&gt;"Saya selalu berusaha untuk melayani, apapun yang terbaik buat khalayak dan pengunjung situs ini. Kritik dan saran yang membangun begitu saya harapkan. Terimakasih." &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%; font-weight: bold;"&gt; &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%; font-weight: bold;"&gt;(Anda bisa juga posting komentar langsung dibawah ini)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%; font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%; font-weight: bold;"&gt;Maud Khan &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8194169263164832698-6767589629217089290?l=www.92maud.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.92maud.co.cc/feeds/6767589629217089290/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/06/contact-us-for.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/6767589629217089290'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/6767589629217089290'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/06/contact-us-for.html' title='Contact Me For...'/><author><name>92maud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15771142033201981403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SjycJmK2AII/AAAAAAAAAAg/FJCJ9UI4WxM/S220/Maud+Khan.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8194169263164832698.post-6463372619558118570</id><published>2009-06-29T10:51:00.001-07:00</published><updated>2009-11-28T12:12:08.378-08:00</updated><title type='text'>Selamat Datang di 92 Maud Khan</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; font-size: 100%;"&gt;Setelah berbulan-bulan didera oleh keinginan menciptakan formulasi baru dalam perjalanan hidup saya. Alhamdulillah, saat ini blog pribadi yang saya impi-impikan sudah selesai lebih cepat dari waktu yang telah ditentukan.&lt;/span&gt;    &lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;  &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;    &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;    &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Tidak ada harapan selain semua hal mashlahat yang bisa kita ambil dengan adanya teknologi canggih yang membangun sekaligus menghancurkan ini. &lt;/span&gt;    &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;    &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;    &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;So, karena ini masih merupakan awal dari sebuah dunia baru. Maka akan menjadi hal yang baik pula jika Anda mampu memaklumi segala kekurangan yang masih sering ditemukan dalam blog ini. &lt;/span&gt;    &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;    &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;    &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Akhirnya, selamat berlayar di dunia maya. Dan selamat berkarya.  &lt;/span&gt;    &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SkkDu5GJp8I/AAAAAAAAAJw/xXaCKwBwPCc/s1600-h/rainbow-sky-1280x1024.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5352813736242030530" src="http://4.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SkkDu5GJp8I/AAAAAAAAAJw/xXaCKwBwPCc/s200/rainbow-sky-1280x1024.jpg" style="cursor: pointer; height: 160px; width: 200px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #3366ff; font-weight: bold; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SkkBI30st3I/AAAAAAAAAJg/uXyukXxhzB4/s1600-h/rainbow-sky-1280x1024.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt; &lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: #3366ff; font-weight: bold;"&gt;Natural&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SkkEDd5r0XI/AAAAAAAAAJ4/kClFNwHwfAA/s1600-h/anak-anak+hujan+copy.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5352814089719239026" src="http://4.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SkkEDd5r0XI/AAAAAAAAAJ4/kClFNwHwfAA/s200/anak-anak+hujan+copy.jpg" style="cursor: pointer; height: 158px; width: 200px;" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;a href="http://92maud.blogspot.com/search/label/Cerpen-cerpen%20Maud%20Khan"&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="color: #3333ff; font-weight: bold;"&gt;Short Story&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SkkEdisEyXI/AAAAAAAAAKA/gVUQ_Sn_NDQ/s1600-h/fitna.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5352814537680931186" src="http://2.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SkkEdisEyXI/AAAAAAAAAKA/gVUQ_Sn_NDQ/s200/fitna.jpg" style="cursor: pointer; height: 150px; width: 200px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #3333ff; font-weight: bold;"&gt;Politic and Religi&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SkkE4pssImI/AAAAAAAAAKI/2PdUwxvwCzM/s1600-h/sepotong+roti.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5352815003419026018" src="http://2.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SkkE4pssImI/AAAAAAAAAKI/2PdUwxvwCzM/s200/sepotong+roti.jpg" style="cursor: pointer; height: 160px; width: 200px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: #3333ff; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt; &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;span style="color: #3333ff; font-weight: bold;"&gt;About Our Country&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SkkFLBiecXI/AAAAAAAAAKQ/E9GX55Q5icE/s1600-h/perempuan+itu.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5352815319056281970" src="http://2.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SkkFLBiecXI/AAAAAAAAAKQ/E9GX55Q5icE/s200/perempuan+itu.jpg" style="cursor: pointer; height: 168px; width: 200px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: #3333ff; font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: #3333ff; font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote style="color: #3333ff; font-weight: bold;"&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;span style="color: #3333ff; font-weight: bold;"&gt;Tips and Reality&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: 78%;"&gt;any re-publication, copy, edit is please. dont forget to attach this credit, 92maud.blogspot.com &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: 78%;"&gt;For any critics, advice, sugestion, question, or disclaimer, tell us by fill this form or straight trhough our email: kodung_999@yahoo.com &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: 78%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: 78%;"&gt;Navigator::| Blog | &lt;a href="http://92maud.blogspot.com/2009/06/contact-us-for.html"&gt;Contact Us &lt;/a&gt;| hit: 5141&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8194169263164832698-6463372619558118570?l=www.92maud.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.92maud.co.cc/feeds/6463372619558118570/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/06/selamat-datang-di-92-maud-khan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/6463372619558118570'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/6463372619558118570'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/06/selamat-datang-di-92-maud-khan.html' title='Selamat Datang di 92 Maud Khan'/><author><name>92maud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15771142033201981403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SjycJmK2AII/AAAAAAAAAAg/FJCJ9UI4WxM/S220/Maud+Khan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SkkDu5GJp8I/AAAAAAAAAJw/xXaCKwBwPCc/s72-c/rainbow-sky-1280x1024.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8194169263164832698.post-3113468610464186160</id><published>2009-06-24T10:01:00.000-07:00</published><updated>2009-11-23T04:59:21.194-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sajak Maud Khan'/><title type='text'>Sajak Pertinggalan Diri 2</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SkKYSiKMcNI/AAAAAAAAAJA/GEN4784IuAQ/s1600-h/sepotong+roti.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 256px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SkKYSiKMcNI/AAAAAAAAAJA/GEN4784IuAQ/s320/sepotong+roti.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5351006751444201682" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 10"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 10"&gt;&lt;link style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: arial;" rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMIN%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: arial;font-family:arial;" class="MsoNormal" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: arial;font-family:arial;" class="MsoNormal" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: arial;font-family:arial;" class="MsoNormal" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;Tentang Sepotong Roti&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: arial;font-family:arial;" class="MsoNormal" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: arial;font-family:arial;" class="MsoNormal" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;sepotong roti tak berarti&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: arial;font-family:arial;" class="MsoNormal" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;sehingga ia tertinggal di atas sebuah piring kotor&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: arial;font-family:arial;" class="MsoNormal" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: arial;font-family:arial;" class="MsoNormal" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;sepotong roti tak berguna&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: arial;font-family:arial;" class="MsoNormal" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;ia mengambang di atas air keruh&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: arial;font-family:arial;" class="MsoNormal" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: arial;font-family:arial;" class="MsoNormal" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;sepotong roti tak bernilai &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: arial;font-family:arial;"  class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;ia tercecer di jalanan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: arial;font-family:arial;"  class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;di pinggiran bertumpuk sampah&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: arial;font-family:arial;"  class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: arial;font-family:arial;"  class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;sepotong roti itu,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: arial;font-family:arial;"  class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;bahkan pengemis sekalipun enggan memungutnya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: arial;font-family:arial;"  class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;hanya menunggu dermawan yang hendak lalu&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: arial;font-family:arial;"  class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: arial;font-family:arial;"  class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;meski sepotong roti telah berbaik hati berbagi...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: arial;font-family:arial;"  class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: arial;font-family:arial;"  class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Surabaya, Juli 2007&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 10"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 10"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMIN%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: arial;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-size:10;" &gt;Ijinkan Kami Mengamen&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:10;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:10;" &gt;gema subuh serasa menghujam kami&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:10;" &gt;retakan pagi memulai harinya demi hidup di uluran tangan orang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:10;" &gt;ku tahu tak banyak yang menyukai&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:10;" &gt;malah membenci&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:10;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:10;" &gt;sontak terdengar cercaan dari mulut yang tak kenal bijak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:10;" &gt;sejenak teringat, teriakan karena kami hanya anak jalanan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:10;" &gt;tetapi memang kadang tak beda&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:10;" &gt;antara menghibur orang dengan mengemis tangan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:10;" &gt;walau receh….&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:10;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:10;" &gt;sebab hanya itu yang kami anggap pekerjaan&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:10;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:10;" &gt;kutahu tak banyak yang menerima&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:10;" &gt;kadang mengusir walau dengan manisnya kata beku&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:10;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:10;" &gt;derita!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:10;" &gt;sungguh derita&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:10;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:10;" &gt;jauh dari sanak saudara&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:10;" &gt;di luar, kehilangan segalanya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:10;" &gt;kepercayaan, kebahagiaan, masa depan atau mungkin juga tuhan?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:10;" &gt;tetapi…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:10;" &gt;kami masih punya &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:10;" &gt;kehormatan, kebersamaan, kebebasan serta kepuasan&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:10;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:10;" &gt;ah…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:10;" &gt;memang sulit memberi celah antara menghibur dengan meminta&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:10;" &gt;tapi bagi kami tak jadi soal&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:10;" &gt;karena celah sangat terlihat antara meminta dengan mencuri&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:10;" &gt;walau tak semua orang melihatnya&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:10;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:10;" &gt;Surabaya, 26 Juli 2008&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8194169263164832698-3113468610464186160?l=www.92maud.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.92maud.co.cc/feeds/3113468610464186160/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/06/sajak-pertinggalan-diri-2.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/3113468610464186160'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/3113468610464186160'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/06/sajak-pertinggalan-diri-2.html' title='Sajak Pertinggalan Diri 2'/><author><name>92maud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15771142033201981403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SjycJmK2AII/AAAAAAAAAAg/FJCJ9UI4WxM/S220/Maud+Khan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SkKYSiKMcNI/AAAAAAAAAJA/GEN4784IuAQ/s72-c/sepotong+roti.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8194169263164832698.post-31072224714551706</id><published>2009-06-23T06:12:00.000-07:00</published><updated>2009-06-23T06:32:58.029-07:00</updated><title type='text'>Find This in Other Sites</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://92maud.blogspot.com/"&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SkDX0I9tlmI/AAAAAAAAAHg/6uytDgQuZVQ/s320/blog.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5350513648075642466" border="0" /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:180%;"  &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;some link to this blog.....&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:180%;"  &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;at the other's&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8194169263164832698-31072224714551706?l=www.92maud.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.92maud.co.cc/feeds/31072224714551706/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/06/find-this-in-other-sites.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/31072224714551706'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/31072224714551706'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/06/find-this-in-other-sites.html' title='Find This in Other Sites'/><author><name>92maud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15771142033201981403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SjycJmK2AII/AAAAAAAAAAg/FJCJ9UI4WxM/S220/Maud+Khan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SkDX0I9tlmI/AAAAAAAAAHg/6uytDgQuZVQ/s72-c/blog.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8194169263164832698.post-1022239121494511804</id><published>2009-06-21T01:55:00.000-07:00</published><updated>2010-09-06T03:40:29.827-07:00</updated><title type='text'>Profil</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/Sj4FSJVjFSI/AAAAAAAAAE0/ARFQ7kw6B8k/s1600-h/Maud+Khan..jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5349719216664810786" src="http://4.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/Sj4FSJVjFSI/AAAAAAAAAE0/ARFQ7kw6B8k/s320/Maud+Khan..jpg" style="float: left; height: 213px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 320px;" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 10" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 10" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CAdmin%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:SimSun; 	panose-1:2 1 6 0 3 1 1 1 1 1; 	mso-font-alt:宋体; 	mso-font-charset:134; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:3 135135232 16 0 262145 0;} @font-face 	{font-family:"\@SimSun"; 	panose-1:2 1 6 0 3 1 1 1 1 1; 	mso-font-charset:134; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:3 135135232 16 0 262145 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-language:EN-US; 	mso-no-proof:yes;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} - &lt;/style&gt;&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 11" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 11" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///E:%5CDOCUME%7E1%5Cmuhammad%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-parent:"";	margin:0cm;	margin-bottom:.0001pt;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:12.0pt;	font-family:"Times New Roman";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}@page Section1	{size:612.0pt 792.0pt;	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt;	mso-header-margin:36.0pt;	mso-footer-margin:36.0pt;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Mahfud, atau teman-teman biasa memanggil Maud alias Njelepotalias Keciput alias Damput terlahir di Pulau Garam, 6 Pebruari 1986. Iabukanlah anak orang yang berada atau berharta, kedua orangtuanya pun hanyapetani yg tak pernah makan bangku sekolah. Ia sendiri masih dikenal sebagaisosok yang sederhana dan apa adanya. Ya…. karena keadaannya yang memang"apa adanya" dan "ala kadarnya" itu.&amp;nbsp;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Sebagai putra tertua dari enam bersaudara, ia selalu berusahauntuk berbuat sebaik mungkin bagi diri, keluarga dan orang lain. Walau&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Arial;"&gt; sedangmenganggur lantaran kuliah yang tak karuan, alumni ponpes Al-Harom Sampang initidak akan pernah menyesal dengan apapun yang telah dijalani. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Arial;"&gt;Di sela-sela waktu santainya,’jebolan’ Jurusan Pendidikan Sejarah Unesa ini aktif menulis sajak dan cerpen,baca buku apa saja dimana saja, sesekali bermusik-bersyair di emperan ataurumah orang, bertapa dijalanan dan alam liar, sholat ’diatas daun atau air’,ngaji di awan, diskusi sambil berpolitik di warung kopi, sedikit blogging,banyak ngeGame,&amp;nbsp; bongkar-pasang komputer,ngutak-atik software, memandangi chart (grafik) perkembangan mata uang asing,sambil lalu berusaha menyelesaikan novel pertamanya yang begitu rumit, runyamdan bikin malas. Moga aja bukan omong kosong seperti yang lalu-lalu.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 10" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 10" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CAdmin%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;o:smarttagtype name="City" namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype name="country-region" namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype name="place" namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:SimSun; 	panose-1:2 1 6 0 3 1 1 1 1 1; 	mso-font-alt:宋体; 	mso-font-charset:134; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:3 135135232 16 0 262145 0;} @font-face 	{font-family:"\@SimSun"; 	panose-1:2 1 6 0 3 1 1 1 1 1; 	mso-font-charset:134; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:3 135135232 16 0 262145 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-language:EN-US; 	mso-no-proof:yes;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;  &lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Biodata Pribadi&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" class="MsoNormalTable"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td style="padding: 0.75pt; width: 7.5pt;" width="10"&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="font-family: arial; padding: 0.75pt; width: 117.45pt;" width="157"&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt; &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Nama   lengkap&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Panggilan &lt;br /&gt;Jenis kelamin &lt;br /&gt;Tempat, tanggal lahir &lt;br /&gt;Kewarganegaraan &lt;br /&gt;Status perkawinan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Pacar &lt;br /&gt;Tinggi, berat badan &lt;br /&gt;Kesehatan &lt;br /&gt;Agama &lt;br /&gt;Alamat Tinggal &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt; &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;    &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="font-family: verdana; padding: 0.75pt; width: 268.8pt;" width="358"&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;: &lt;b&gt;Mahfud&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;:&lt;b&gt;   Maud Khan&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;: Laki-laki (pasti lah) &lt;br /&gt;: Sampang, 6 Pebruari 1986 &lt;br /&gt;: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt; &lt;br /&gt;: Belum Menikah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;:   Juga Belum &lt;br /&gt;: 174 cm, 54 kg &lt;br /&gt;: Alhamdulillah baik &lt;br /&gt;: Belum ada yang Cocok &lt;br /&gt;: Lakarsantri , Gg......, Nomor....., Surabaya&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;        &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0.75pt 0.75pt 0.75pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pendidikan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0.75pt 0.75pt 0.75pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" class="MsoNormalTable"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td style="padding: 0.75pt; width: 7.5pt;" width="10"&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0.75pt; width: 93.75pt;" width="125"&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;1994   – 1995&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;1995   - 1999 &lt;br /&gt;1999 - 2002 &lt;br /&gt;2002 - 2005 &lt;br /&gt;2005 &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0.75pt; width: 292.5pt;" width="390"&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;: MI   Sabilas Salamah &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;Surabaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;: SDN   Karanganyar III &lt;br /&gt;: SLTP Negeri I Tambelangan &lt;br /&gt;: SMU Neger&lt;span lang="SV"&gt;i 1 Sampang &lt;br /&gt;: Universitas Negeri &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Surabaya&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt; &lt;span style="font-size: 85%;"&gt;(itu dulu...)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0.75pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pengalaman Organisasi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" class="MsoNormalTable" style="height: 153px; width: 539px;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr style="height: 63.65pt;"&gt;   &lt;td style="height: 63.65pt; padding: 0.75pt; width: 7.5pt;" width="10"&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="height: 63.65pt; padding: 0.75pt; width: 93.75pt;" width="125"&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;2000-2001&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;2005-2006 &lt;br /&gt;2005-2007 &lt;br /&gt;2006-2007&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;2006-2007&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;2007-2008&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="height: 63.65pt; padding: 0.75pt; width: 292.5pt;" width="390"&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;: Ketua   OSIS SLTP Negeri I Tambelangan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;: Pengurus   BEM-J Pendidikan Sejarah FIS Unesa &lt;br /&gt;: Ketua Remaja Mushalla FIS Unesa &lt;br /&gt;: Ketua BEM-J Pendidikan Sejarah FIS Unesa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;:   Pengurus Ikatan Himpunan Mahasiswa Sejarah se-Indonesia (IKAHIMSI) wilayah   III Jatim&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;: Staf Ahli Departemen Dalam Negeri BEM Unesa&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;b&gt;Motto Hidup&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;div align="center" style="font-family: arial;"&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" class="MsoNormalTable" style="height: 67px; width: 525px;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td style="padding: 0.75pt;"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 130%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;Jangan mengulang kesia-sian   dalam hidup, termasuk menulis ‘motto hidup’ yang tak penting itu. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8194169263164832698-1022239121494511804?l=www.92maud.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.92maud.co.cc/feeds/1022239121494511804/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/06/profil.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/1022239121494511804'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/1022239121494511804'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/06/profil.html' title='Profil'/><author><name>92maud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15771142033201981403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SjycJmK2AII/AAAAAAAAAAg/FJCJ9UI4WxM/S220/Maud+Khan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/Sj4FSJVjFSI/AAAAAAAAAE0/ARFQ7kw6B8k/s72-c/Maud+Khan..jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8194169263164832698.post-4538171913310042885</id><published>2009-06-20T21:52:00.000-07:00</published><updated>2009-11-23T05:01:16.118-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sajak Maud Khan'/><title type='text'>Kehidupan</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 10"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 10"&gt;&lt;link style="font-family: arial;" rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CAdmin%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:applybreakingrules/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:usefelayout/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-language:EN-US;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:shapedefaults ext="edit" spidmax="1026"&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:shapelayout ext="edit"&gt;   &lt;o:idmap ext="edit" data="1"&gt;  &lt;/o:shapelayout&gt;&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Idul Adha&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Malam bertakbir&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;aku merokok&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;nyamuk-nyamuk bertakbir&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;aku merokok&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;semua binatang malam bertakbir&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;tapi aku tetap merokok&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Seluruh alam bertakbir&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;dinding-dinding itu,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;langit...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Hanya yang tidak kutahu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;rokok di jari tanganku...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;benarkah ia bertakbir di mulutku?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;untuk idul adha yang mulia&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Surabaya, 19 Desember 2007&lt;blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8194169263164832698-4538171913310042885?l=www.92maud.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.92maud.co.cc/feeds/4538171913310042885/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/06/normal-0-microsoftinternetexplorer4_20.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/4538171913310042885'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/4538171913310042885'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/06/normal-0-microsoftinternetexplorer4_20.html' title='Kehidupan'/><author><name>92maud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15771142033201981403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SjycJmK2AII/AAAAAAAAAAg/FJCJ9UI4WxM/S220/Maud+Khan.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8194169263164832698.post-6503962830600300808</id><published>2009-06-20T21:47:00.000-07:00</published><updated>2009-11-23T05:01:16.119-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sajak Maud Khan'/><title type='text'>Hidup dan Mati</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: arial;"&gt;Sebab Sebuah Rumah di atas Neraka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;hidup tak kan berakhir!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;hidup tak kan berhenti seiring degupan jantung yang kian mengencang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;sebab hidup ini begitu indah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;begitu lengkap dengan perkakas-perkakasnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;di sini….&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;di rumah yang dibangun tuhan dengan cinta-Nya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;rumah abadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;yang tak satupun mampu menghancurkan &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;sekalipun para dewa dan malaikat…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;di rumah ini&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;aku bahagia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;aku telah mencapai puncak tujuan dalam hidup dan matiku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;di rumah ini…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;tapi kau salah! (kata tuhan)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;ternyata,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;rumah itu tidak kekal!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;rumah itu penuh bercak….&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;penuh kotoran dari sekian orang yang mengharapkan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;penuh lumuran darah dari tangan-tangan mereka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;tak sempurna&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;ya….&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;sekalipun rumah yang berada di atas neraka itu…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;terlalu banyak orang menumpahkan darah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;terlalu banyak orang terjebak egoisme&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;terlalu banyak orang tersesat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;terlalu banyak orang menuding sesat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;mereka rela berdesakan masuk&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;mereka rela antri &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;bahkan hingga ratusan tahun&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;hanya demi jatah kamar lusuh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;sekalipun di bawah kolong meja emas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;sekalipun dekat pintu selokan susu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;sekalipun di pingggiran sungai yang semerbak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;rumah diatas neraka itu!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;telah banyak menimbulkan derita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;tapi banyak menumbuhkan cinta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;sebab rumah itu &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;rumah impian…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;rumah masa depan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;aku pun tau itu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;lantas?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;bagaimana dengan neraka?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;dan ternyata&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;tidak ada yang kekal dan abadi selain kasih-Nya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Surabaya, 23 April 2008&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;blockquote style="font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8194169263164832698-6503962830600300808?l=www.92maud.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.92maud.co.cc/feeds/6503962830600300808/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/06/sebab-sebuah-rumah-di-atas-neraka-hidup.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/6503962830600300808'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/6503962830600300808'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/06/sebab-sebuah-rumah-di-atas-neraka-hidup.html' title='Hidup dan Mati'/><author><name>92maud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15771142033201981403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SjycJmK2AII/AAAAAAAAAAg/FJCJ9UI4WxM/S220/Maud+Khan.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8194169263164832698.post-1221065386658738195</id><published>2009-06-20T21:18:00.000-07:00</published><updated>2009-11-23T05:01:16.119-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sajak Maud Khan'/><title type='text'>Sajak Pertinggalan Diri</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/Sj23vpQDa4I/AAAAAAAAAC8/9xBlaSA61V4/s1600-h/perjalanan-1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 218px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/Sj23vpQDa4I/AAAAAAAAAC8/9xBlaSA61V4/s320/perjalanan-1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5349633961540938626" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 10"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 10"&gt;&lt;link style="font-family: arial;" rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CAdmin%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:applybreakingrules/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:usefelayout/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-language:EN-US; 	mso-no-proof:yes;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;Tak Ada Akhir&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Mungkin sudah waktunya mengakhiri risau ini&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sebab musim pun telah berganti lama sejak dirimu tak kulihat lagi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dan dengan derai tawamu yang masih menganga di depan mataku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Aku masih terdiam dalam bisu tak tentu, harus kumulai darimanakah?&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dengan hening yang kerap datang mendera&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Saat terhempas di pesimpangan penuh derita&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dan jiwa,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Memang tak lagi mampu bertahan dengan dirimu yang selalu hadir&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dan betul,&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dirimu takkan pernah hilang bersama risauku itu...&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Surabaya, 4 Juni 2009&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;(pukul 01.18 WIB)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8194169263164832698-1221065386658738195?l=www.92maud.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.92maud.co.cc/feeds/1221065386658738195/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/06/normal-0-microsoftinternetexplorer4.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/1221065386658738195'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/1221065386658738195'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/06/normal-0-microsoftinternetexplorer4.html' title='Sajak Pertinggalan Diri'/><author><name>92maud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15771142033201981403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SjycJmK2AII/AAAAAAAAAAg/FJCJ9UI4WxM/S220/Maud+Khan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/Sj23vpQDa4I/AAAAAAAAAC8/9xBlaSA61V4/s72-c/perjalanan-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8194169263164832698.post-7036278453908849069</id><published>2009-06-20T21:09:00.000-07:00</published><updated>2009-11-23T05:01:16.120-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sajak Maud Khan'/><title type='text'>Puisi Buat Dia</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 10"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 10"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CAdmin%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:applybreakingrules/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:usefelayout/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-language:EN-US;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;UNTUKMU YANG JAUH DI &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;SANA&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;saat kutatapkan penglihatan ini&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;bintang-bintang berkilauan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;gemerlapnya,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;menghiasi malam yang dilanda kesepian&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;malam ini…&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;tentu!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;sebab hari-hariku telah penuh dengan keindahan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;indah yang tak dapat kulukiskan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;saat bunga-bunga bermekaran&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;jalan kampungku yang sepi &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;telah kau buat ramai dalam penglihatanku&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;bulan belum bersinar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;namun cahayanya telah mampu kurasakan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;mataku pun seolah melihatnya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;dan tentu hanyalah untukmu&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;mataku terbuka sekarang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;ku sadar…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;hatiku luluh&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;sebab dirimu hadir untukku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;bukan untuk orang lain&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;kuingat kala itu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;terlihat matamu yang bersinar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;memberikan pengharapan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;untukku…&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;semenjak itu aku selalu berharap&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;kau menjadi akhir hidupku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;menjadi teman di setiap hariku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;dengan kasih suci&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;denganku…&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;kau pasti ingat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;kala aku mengucapkan kata itu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;untukmu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;malam itu…&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;dan hanya untukmu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;bukan yang lain,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;dan tiada pernah diriku setulus itu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;sebelumnya…&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;sungguh tiada lagi &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;yang nampak diatas kelopak mata ini&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;selain tatapan matamu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;dan tentu…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;senyum mungilmu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;masih kuingat semua&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;kau adalah cahaya &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;yang selalu menyinari kesendirianku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;selalu bersamaku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;bayanganmu…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;bersinar laksana kau&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;kau lihat…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;berapa kali musim berganti&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;tidak bagiku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;semuanya masih seperti dulu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;kala itu…&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;semua belum lekang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;masih utuh&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;tinggal kau&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;bagaimana dengan kau&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;ahh..!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;kau hanya…&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;atau mungkin aku yang salah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;aku memang serba salah&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;tapi mengapa hanya kau&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;kau…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;bahagiakan aku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;senangkan aku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;sakiti aku&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;kau buatku buta&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;tapi kau buatku lebih melihat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;aneh…&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;coba dengar ratapan ini&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;lihatlah mata ini&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;rasakan olehmu &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;bayanganmu yang hadir di sana&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;inilah aku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;kau akan mampu menilainya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;inilah diriku yang selama ini kau tahu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;lihatlah…&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;sebab di balik diri yang lemah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;kau kan temukan hati yang suci&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;di sana&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;di balik diri yang angkuh&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;kau akan dapatkan kasih dan keikhlasan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;tentu di sana&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;ahhh…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;kau hanya mengada-ada&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;ya…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;jika kau menganggapku demikian&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;dan aku memang menyukai lelucon…&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;tapi tidak!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;dan kuyakin kau juga tahu tentang itu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;tentang tulus hati&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;dan hancurnya diri&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;kini aku tak mengerti&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;tentang semuanya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;karena telah hilang sadar ini&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;sebab cinta…&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;dan aku lebih berharap&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;kau akan selalu hadir di sini&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;temani hariku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;dengan cinta…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;setidaknya harapan…&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;taukah kau&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;jika sekarang tiada pernah lagi kulihat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;bintang-bintang itu…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;sebab bagiku sudah hilang gemerlapnya&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;dan lihatlah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;jalan di kampungku telah kembali sepi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;bunga-bunga itu tiada lagi mekar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;tanpa bayanganmu di mata ini&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;sebab penglihatan ini tiada lagi mampu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;menghadirkan kau…&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;mungkin aku yang tak sanggup&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;atau kau yang tiada mengijinkan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;lihat dan tolonglah…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;tuk menghadirkanmu lagi&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;sekadar demi bintang-bintang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;sekadar demi jalan kampung&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;sekadar demi bunga-bunga&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;biarlah walau sekedap&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;walau menyakitkan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;dan harus kehilangan&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;(13/03/07)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8194169263164832698-7036278453908849069?l=www.92maud.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.92maud.co.cc/feeds/7036278453908849069/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/06/puisi-buat-dia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/7036278453908849069'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/7036278453908849069'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/06/puisi-buat-dia.html' title='Puisi Buat Dia'/><author><name>92maud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15771142033201981403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SjycJmK2AII/AAAAAAAAAAg/FJCJ9UI4WxM/S220/Maud+Khan.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8194169263164832698.post-5130876615235258623</id><published>2009-06-20T20:43:00.000-07:00</published><updated>2009-11-23T05:01:16.121-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sajak Maud Khan'/><title type='text'>Sajak-Sajak Maud Khan</title><content type='html'>&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Admin/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot.jpg" alt="" /&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Admin/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot-1.jpg" alt="" /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 10"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 10"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CAdmin%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:applybreakingrules/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:usefelayout/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-language:EN-US;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;Sebuah Kabar di Pengasingan&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;daun-daun itu berguguran&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;tepat di taman yang dipenuhi semak belukar bersama angin yang hadir dari barat,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;membangunkan semangat yang telah lama mati&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;angin itu…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;telah membawa bermacam kabar selama pengasinganku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;kabar yang membuat aku tersenyum dalam marah, tertawa dalam tangis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;terbayangkan wajah-wajah mereka yang kucengkeram dengan tangan kiriku&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;ingin ku katakan pada mereka&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;tak malukah kau yang selalu merasa terbang di atas?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;menghinakan yang terasing…&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;seperti daun-daun yang berguguran itu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;kita pun akan kembali…&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;Surabaya, 6 Mei 2008&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 10"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 10"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CAdmin%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:applybreakingrules/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:usefelayout/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-language:EN-US;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"   lang="SV"&gt;Pesan dari Kegelapan I&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"   lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"   lang="SV"&gt;bila tiba masanya kelak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"   lang="SV"&gt;tatkala tubuh ini ingin segera terlepas dari jiwa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"   lang="SV"&gt;maka jangan ada yang mengenangku selain dari apa yang aku tulis&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"   lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"   lang="SV"&gt;sebab mulut tak dapat dipercaya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"   lang="SV"&gt;dan ucapan mampu berubah arah dengan mudahnya laksana angin&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"   lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;dan tahukah bahwa mata dan telinga adalah sesuatu yang paling menipu bagimu?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;mata dan telingamu itu, belum mampu menebak hatiku…&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;dan karena itu, mulut-mulut kalian akan terbiasa untuk mengoceh,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;mengoceh dengan enaknya&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;***&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;dan jika kau ingin tahu akan kabar tentangku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;maka carilah aku ditempat tersunyi di muka bumi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;di suatu malam yang sepi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;datanglah padaku kawan…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;tapi jangan kau ganggu, sebab aku sedang bercakap-cakap dengan tuhan&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;jika tak bisa, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;maka tanyakanlah pada pohon-pohon yang masih rindang itu&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;jika tetap tak bisa,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;maka sadarilah dirimu, kawan…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;***&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;atau jika kau terlambat datang..&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;sebab telah lebih dulu ajal menjemputku, maka datangilah pusaraku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;bayangkanlah apa yang dilakukan oleh tuhan terhadapku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;tapi jangan kau rusak kuburku….&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;6 Mei 2008&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;Pesan dari Kegelapan II&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;Dan ingatlah, kawan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;Di setiap kematian seorang manusia di luar kewajaran yang kau lihat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;Sedikitpun kau tak kan tahu apa yang diperbuat tuhan terhadapnya&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;Sekali lagi,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;Mata dan telinga adalah pembual terbesar&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;6 Mei 2008&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8194169263164832698-5130876615235258623?l=www.92maud.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.92maud.co.cc/feeds/5130876615235258623/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/06/sajak-sajak-maud-khan-kehidupan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/5130876615235258623'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/5130876615235258623'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/06/sajak-sajak-maud-khan-kehidupan.html' title='Sajak-Sajak Maud Khan'/><author><name>92maud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15771142033201981403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SjycJmK2AII/AAAAAAAAAAg/FJCJ9UI4WxM/S220/Maud+Khan.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8194169263164832698.post-2197067832775527923</id><published>2009-06-20T20:04:00.000-07:00</published><updated>2009-11-28T11:19:14.493-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan Maud Khan'/><title type='text'>Avorisme kehidupan</title><content type='html'>&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Semakin lama kau menjalani kehidupan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;maka semakin dekat padamu kematian&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;(Spg 02/03/2004)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Suatu hari kumakan buah duku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Enaknya, rasanya, manisnya betapa menggoda seleraku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Seketika terkunyahlah bijinya di dalam &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Manis, pahit, bercampur jadi satu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Dan kukeluarkan semua dari dalam mulutku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Tak berguna&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;(Spg 02/03/2004)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Mengapa kita lebih suka mencari kesalahan orang lain,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;daripada kebenarannya?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Atau mencari kesalahan diri kita?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;(Spg 10/03/2004)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Banyak manusia yang cenderung senang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;jika melihat kesalahan orang lain,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Tanpa harus mafhum&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;(Spg 26/04/2004)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Setiap orang memiliki kelemahan dan kelebihan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;yang berbeda&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;(Spg 26/04/2004)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Seseorang yang selalu menampakkan kelemahannya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Maka saat ia menampakkan kelebihannya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Hanya kelemahannya saja yang kan tampak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;(Spg 26/04/2004)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Jangan engkau terbiasa menghitung anak ayam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;yang belum menetas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;(Spg 26/04/2004)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Sungguh lebih baik jika kita memberikan pinjaman&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;kepada mereka yang butuh pinjaman&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Daripada memberikan hadiah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;pada orang yang sebenarnya tak membutuhkan hadiah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;(Spg 26/04/2004)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Orang yang baik bukanlah mereka&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;yang selalu melakukan perbuatan terpuji&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;,&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Orang baik adalah orang yang selalu berusaha&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;menjauhi perbuatan tercela&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;(Spg 26/04/2004)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Kadang aku menggelengkan kepala saat kulihat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;seseorang mulai tidak waras&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Tapi seringkali orang menggelengkan kepalanya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;saat melihat ketidakwarasanku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;(Spg 26/04/2004)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Lihat ke atas!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Maka akan kau lihat bintang-bintang gemerlapan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Tapi lihat pula ke bawah!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Maka akan kau temukan kerikil-kerikil berserakan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;(Spg 14/05/2004)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Cinta murni tertinggi adalah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;cinta Illahi dan cinta nabi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;'&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Tapi adakah yang bisa mengalahkan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Cinta pada diri sendiri?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;(Spg 14/05/2004)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Di seberang desa ada sebuah toko&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;yang berdiri puluhan tahun yang lalu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;tapi tetap baru&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Dan mungkin duapuluh atau seratus tahun lagi akan tetap baru&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Kau tahu kenapa?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Karena nama toko tersebut memang ”Toko Baru” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;(Spg 01/08/2004)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Jangan kita berpikir&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Bagaimana agar dapat memukul &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;walau pantas memukul&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;,&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Tetapi marilah berpikir&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Agar tak ada yang memukul kita &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;karena memang tak pantas dipukul&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;(Spg 01/08/2004)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Lezat tidaknya suatu masakan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Adalah tergantung dari&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" face="arial" style="text-align: center;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;siapa yang akan memakan masakan itu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" face="arial" style="text-align: center;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;(Spg 01/08/2004)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" face="arial" style="text-align: center;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Betapapun hebatnya seorang maling&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Pasti ia akan kesal&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;jika kehilangan salah satu dari miliknya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: arial; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;(Spg 01/08/2004) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8194169263164832698-2197067832775527923?l=www.92maud.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.92maud.co.cc/feeds/2197067832775527923/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/06/avorisme.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/2197067832775527923'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/2197067832775527923'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/06/avorisme.html' title='Avorisme kehidupan'/><author><name>92maud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15771142033201981403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SjycJmK2AII/AAAAAAAAAAg/FJCJ9UI4WxM/S220/Maud+Khan.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8194169263164832698.post-9096606673073104860</id><published>2009-06-20T19:48:00.000-07:00</published><updated>2009-11-23T05:01:16.122-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sajak Maud Khan'/><title type='text'>Puisi Diri</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 10"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 10"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CAdmin%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:applybreakingrules/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:usefelayout/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-language:EN-US;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 10"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 10"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CAdmin%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:applybreakingrules/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:usefelayout/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-language:EN-US;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Aku&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Kau ingin tau siapa aku?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Aku adalah seorang yang akrab bersama malam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Dengan sebatang rokok yang menempel di bibir keringku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Rambut sebahu,&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Berteman dengan binatang-binatang yang menari dalam kegelapan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Sedang angin terus berdesir menusuk badan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Aku adalah pemuda yang akrab dengan malam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Karena mampu melihat malaikat-malaikat yang bergelantungan di atas sana&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Yang memberiku kesejukan dalam kegundahan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Dengan wajahku yang memucat seiring waktu…&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Surabaya, 4 Mei 2008&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Aku dan Seorang Chairil&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;di bawah pohon ini aku melihat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;betapa kuncup-kuncup bunga itu kan berjatuhan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;hingga hilanglah kuasa raga tuk mencegahnya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;rumput-rumput itu pun berayun karena hembusan angin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;membuat mereka tumbuh dengan bebasnya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;walau harus mati menanggung kutuk dan sumpah serapah dari alam sekitarnya&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;seperti Chairil,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;aku ingin menggapai semangat yang tak pernah mati&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;di setiap luka yang menggores...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;di setiap minuman yang kuteguk...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;di setiap waktu yang terbuang...&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;ku hanya ingin menggapainya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;kehidupan abadi&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;dan itulah hidup,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;di setiap tamparan yang kau terima&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;di setiap cercaan yang kau dapat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;pengasingan yang kau jalani&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;kan kuikuti walau dalam gelap&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;walau dengan sebuah lilin yang diterpa angin malam&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;tapi dalam hatiku..&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;jejakmu tetap terlihat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;tak kabur sedikitpun&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;dan di usiamu yang semakin menua&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Surabaya, 3 Juni 2008&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8194169263164832698-9096606673073104860?l=www.92maud.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.92maud.co.cc/feeds/9096606673073104860/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/06/sajak-sajak-maud-khan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/9096606673073104860'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8194169263164832698/posts/default/9096606673073104860'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.92maud.co.cc/2009/06/sajak-sajak-maud-khan.html' title='Puisi Diri'/><author><name>92maud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15771142033201981403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_fGdU89mQYU0/SjycJmK2AII/AAAAAAAAAAg/FJCJ9UI4WxM/S220/Maud+Khan.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
